Jaga Kebersihan Sungai, Warga di Sleman Beternak Ayam di Bantaran Sungai Gajahwong

RABU, 27 JULI 2016

YOGYAKARTA — Meski belum terbiasa dengan peringatan Hari Sungai Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 27 Juli, namun warga bantaran Sungai Gajahwong di Kampung Ngentak Sapen, Caturtunggal, Depok, Sleman, sudah sejak empat tahun lalu aktif melestarikan kebersihan Sungai Gajahwong. Bahkan, warga setempat memanfaatkan lahan di bantaran sungai tersebut sebagai tempat berternak ayam dan kolam ikan.

Kampung Ngentak Sapen, berada di bantaran Sungai Gajahwong yang dahulu dikenal kumuh. Sungai Gajahwong menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga, sehingga air menjadi keruh dan rawan banjir. Menurut warga penggiat kebersihan Sungai Gajahwong di Kampung Ngentak Sapen, Edi Widodo, kondisi sungai yang kotor semakin parah ketika di tahun 1990-an mulai banyak dibangun hotel-hotel di Yogyakarta. 
“Sejak itu, Sungai Gajahwong semakin dangkal karena endapan sampah dan semakin banyaknya limbah air rumah tangga yang dibuang ke sungai” ujar Edi, saat ditemui Rabu (27/7/2016).
Edi mengatakan, kondisi tersebut mulai berubah sejak tahun 2012. Warga mulai peduli dengan kebersihan sungai dan sejak itu pula warga bersama-sama memanfaatkan kawasan bantaran sungai sebagai tempat produkif beternak ayam. Kini, kawasan bantaran sungai yang dahulu dibiarkan penuh ilalang dan sampah, menjadi hamparan lahan produktif percobaan pengembangbiakan ikan nila dan peternakan ayam kampung. Dengan luas lahan sekitar 80 meterpersegi, kata Edi, warga membentuk kelompok ternak ayam kampung yang diberi nama Terowongan Telu.
Sementara itu, guna lebih mendukung terbangunnya kawasan yang sehat dan bersih, pun di kawasan bantaran sungai dibuatkan mushola dengan dana swadaya dari masyarakat. Juga sepanjang sungai diberi lampu penerang, agar tampak terang di malam hari dan memudahkan pemantauan ketinggian air di kala terjadi hujan. Kecuali itu, berbagai kegiatan pelestarian sungai juga dilakukan rutin. 
“Kita melakukan bersih sungai tiap tiga bulan sekali, mengadakan kegiatan memancing bersama, sehingga semua masyarakat kemudian peduli untuk menjaga kebersihan sungai”, katanya.
Namun demikian, diakui Edi, hasil dari beternak ayam kampung yang telah dimulai sejak empat tahun lalu belum memberi hasil maksimal. Cuaca yang sejak beberapa tahun ini sering tidak tentu membuat ayam kampung mudah terserang penyakit. Namun, kata Edi, kegiatan beternak ayam itu memang lebih sebagai upaya menghidupkan kawasan bantaran sungai, agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di bantaran sungai. 
“Intinya kita memanfaatkan lahan bantaran sungai agar tak lagi menjadi tempat pembuangan sampah”, katanya.
Selain berbagai kegiatan tersebut, lanjut Edi, warga di kampungnya juga tergabung dalam Komunitas Sungai Gajahwong, yang merupakan wadah para penggiat pelestarian sungai di Yogyakarta. Setiap tahun, ada kegiatan seni budaya seperti Kirab Budaya Merti Code dan sebagainya. Namun demikian, Edi mengaku jika selama ini ia belum pernah mendengar ada Peringatan Hari Sungai Nasional.
Seperti diketahui, sejak tahun 2011 Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 menetapkan tanggal 27 Juli sebagai Peringatan Hari Sungai Nasional. Ditetapkannya Hari Sungai Nasional itu bertujuan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat agar peduli terhadap sungai. (koko)
Lihat juga...