KAMIS, 21 JULI 2016
LAMPUNG — Pasokan bahan bakar gas untuk proses memasak kaum ibu rumah tangga (IRT) di sejumlah kecamatan di Lampung Selatan sempat mengalami keterlambatan dalam pekan ini terutama di Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Ketapang sehingga berdampak sulitnya warga mendapatkan tabung gas elpiji ukuran 3 Kg. Sulitnya memperoleh tabung gas ukuran 3 kg tersebut diakui oleh salah seorang warga Desa Banjarmasin, Nuriah (25) yang mengaku telah mencari gas elpiji di sejumlah warung namun beberapa diantaranya kosong akibat pasokan belum datang.

Nuriah bahkan terpaksa pergi ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Desa Kekiling untuk mencari tabung gas melon yang banyak digunakan ibu rumah tangga ini. Sejumlah pedagang diakuinya belum menerima pasokan dari agen meski sebagian besar tabung gas sudah habis dan kembali ke warung dalam keadaan kosong.
“Sebagian agen gas memang belum beroperasi kemungkinan masih belum aktifitas sejak libur lebaran sehingga pasokan sempat terhambat meski sebetulnya tidak langka”ungkap Nuriah kepada media Cendana News,Kamis (21/7/2016)

Ia pun mengaku terpaksa membeli tabung gas elpiji ke SPBU yang berjarak 1 kilometer dari rumahnya sekaligus mengisi bahan bakar minyak untuk kendaraan roda dua miliknya. Beberapa pengecer yang setiap saat memiliki stok tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram di Desa Banjarmasin bahkan telah menunggu pengiriman yang akan dilakukan pada siang ini dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji di Kecamatan Sidomulyo.
“Kalau saya memiliki surat izin agen pastinya saya akan mengambil langsung dari Sidomulyo namun sebagai pengecer hanya menunggu kiriman dari agen” ungkap Usman salah satu pengecer di Banjarmasin.

Akibat keterlambatan pasokan gas elpiji ukuran 3 kg tersebut Usman mengaku harga elpiji ukuran melon tersebut hingga saat ini dijual dengan harga Rp20-23ribu sementara saat pasokan normal tabung gas elpiji tersebut dijual dengan harga Rp19ribu per tabung.
Siasati kondisi terlambatnya pasokan gas elpiji untuk kebutuhan memasak sejumlah ibu rumah tangga (IRT) memutuskan kembali menggunakan tungku tanah liat dengan bahan bakar kayu untuk memasak. Penggunaan tungku tanah liat dilakukan terutama dengan masih dijualnya tungku tanah liat oleh penjual tungku keliling mengantisipasi saat gas elpiji sukar diperoleh.
Sumini,warga Kecamatan Ketapang mengakui dirinya menggunakan tungku tanah liat dengan alasan melakukan penghematan sementara menunggu gas elpiji di warung kembali dijual. Tiga tungku tanah liat miliknya diakuinya dibeli dengan harga Rp 25 ribu dengan bahan bakar kayu kering yang diperolehnya dari kebun di sekitar rumah.
“Tungku sebagian besar saya gunakan khusus untuk memasak sayur dan air sementara menanak nasi masih menggunakan alat penanak nasi dari listrik” ungkapnya.
Konversi bahan bakar minyak bumi ke gas elpiji diakuinya cukup baik dan membuat dapurnya cukup bersih namun beberapa kali pasokan gas elpiji terlambat mengakibatkan kaum ibu harus kembali ke bahan bakar kayu bakar.
Sementara itu bagi beberapa pemilik ternak sapi, penggunaan kotoran sapi sebagai bahan bakar dengan metode pembuatan bio gas juga tidak menghambat kebutuhan akan bahan bakar gas. Seperti dijalani oleh Sutardjo warga Desa Tamansari Kecamatan Ketapang. Sebagai pengguna bio gas ia mengaku kebutuhan akan bahan bakar gas tetap terpenuhi selama empat ekor sapi miliknya masih menghasilkan kotoran.
“Saya merasakan sekali manfaatnya terutama ketika elpiji langka terlihat manfaat bio gas benar-benar terasa sekali namun masih banyak warga yang belum mengaplikasikan penggunaan bio gas”ungkapnya.
Selain instalasi yang dirasa belum terjangkau oleh warga, Supardjo mengakui kurangnya sosialisasi dan penyuluhan dari instansi terkait membuat sumber bahan bakar terbarukan tersebut belum maksimal diaplikasikan. Ia mengakui dengan sering terjadinya keterlambatan pasokan gas elpiji di pasaran menjadi sebuah kesempatan untuk mengenalkan pentingnya penggunaan bio gas.(Henk Widi)