Hajjah Aisah Abdul Aziz Ali : Amanat, Doa, dan Harapan Seorang Ibu

JUMAT, 22 JULI 2016

CATATAN JURNALIS — Masjid Al-Muqarrabien terletak di Jl. Enggano Raya No. 50 Tanjung Priok Jakarta Utara. Bernaung di bawah pengelolaan Yayasan Masjid Al-Muqorrobien milik (Alm) H. Abdul Aziz Ali, SH. sejak tahun 1958, rumah ibadah ini menjadi tempat masyarakat sekitar Tanjung Priok terutama dari karyawan Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, warga sekitar Jalan Enggano dan Jalan Bangka, Mustahiq, Musafir, serta banyak anggota masyarakat lainnya untuk menunaikan ibadah sholat Jumat, sholat lima waktu, dan juga ibadah-ibadah hari besar Islam.

Ibu Hajjah Aisah Abdul Aziz Ali
Almarhum H .Abdul Azaz Ali, SH. merupakan salah satu tokoh masyarakat setempat yang juga merupakan Staf Hukum dari Ibu Moersiati Harsono, adik Presiden kedua Republik Indonesia Bpk HM. Soeharto. Sepak terjang beliau semasa hidup terbilang cukup mencengangkan dalam mengembangkan Masjid Al-Muqarrabien. Walaupun mengenal dekat banyak tokoh-tokoh besar, namun ia tidak pernah menengadahkan tangannya dalam membangun Masjid dari awal pembangunan tahun 1958 hingga saat-saat terakhir beliau meninggalkan semua yang dicintainya di dunia ini.
Tidak hanya sampai disitu saja, namun Almarhum H.Abdul Aziz Ali juga menjadi tokoh sentral yang menggandeng para preman dunia hitam sekitar Tanjung Priok untuk bertobat dan mempelajari lebih seksama Islam agar menjadi insan manusia yang lebih baik lagi kedepannya. Salah satu contoh pelaku dunia hitam Tanjung Priok yang berhasil dibuat kembali ke jalan yang benar sesuai ajaran Islam adalah sang marbot Masjid bernama Sulaiman Rompas yang akhirnya sejak tahun 1960 mengabdikan hidupnya untuk mengurus Masjid Al-Muqarrabien hingga kini.
Sepeninggal H.Abdul Aziz Ali, maka Istri beliau Hajjah Aisah Abdul Azaz Ali meneruskan amanat sang suami untuk membina Masjid Al-Muqarrabien sekaligus melanjutkan tongkat estafet perjuangan masjid untuk tetap menjadi sinar terang bagi kegelapan dunia hitam Tanjung Priok sekaligus tetap menjaga keharmonisan dengan sahabat sekaligus saudara disebelahnya yakni Gereja Mahanaim (GMIST Jemaat Mahanaim).
Tampak muka dan halaman Masjid Al-Muqarrabien Jalan Enggano Raya No.50 Tanjung Priok Jakarta utara
Ditemui Cendana News di warung nasi kecil miliknya didepan Masjid Al-Muqarrabien, Hajjah Aisah Abdul Azaz Ali atau akrab disapa Ibu Aisah ini menceritakan sedikit banyak hal terkait Masjid Al-Muqarrabien yang bersejarah ini. Sebagai Pembina dan pelindung, maka Ibu Aisah dibantu oleh kedua anaknya yaitu H.Mohammad Tawaqal,SH.MM. yang didudukkan sebagai Ketua Yayasan Masjid Al-Muqorrobien, dan HM.Akbar,SH.MM sebagai wakil ketua. Sedangkan untuk menjalankan kegiatan peribadatan sehari-hari maka Masjid Al-Muqarrabien dipimpin oleh Imam Besar KH.Muhammad dengan dibantu Marbot Sulaiman Rompas.
” Perjuangan Bapak benar-benar luar biasa dalam membangun Masjid ini. Dan beliau berhasil menanamkan nilai-nilai yang hanya berpatokan pada dua hal yaitu dari Kitab Suci Al’Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW,” terang Ibu Aisah mengawali penjelasannya kepada Cendana News.
” Banyak tokoh-tokoh besar yang terlibat dalam perjuangan Bapak membangun Masjid ini, salah satunya adalah Buya Hamka yang turut serta mmeberikan masukan dalam proses pemberian nama Masjid ini,” lanjut Ibu Aisah.
Suasana Sholat lima waktu di lantai I masjid Al-Muqarrabien
” dan dengan berpatokan hanya pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi Besar Muhammad SAW sajalah kami akan mengawal Al-Muqarrabien agar dapat menjadi pancaran sinar terang Islam bagi warga sekitar Tanjung priok khususnya,” kata Ibu Aisah melengkapi.
Sebelum mangkat, H.Abdul Azaz Ali meninggalkan amanat cukup berat kepada istri nya. Bahwa Ibu Aisah harus bisa melanjutkan pembangunan sekaligus pengembangan Masjid Al-Muqarrabien secara mandiri seperti yang sudah dicontohkan beliau sebelumnya. Hal ini sangat membekas serta menjadi salah satu hal yang dipegang teguh oleh Ibu Aisah saat ini dalam mengawal perjalanan Masjid Al-Muqarrabien.
” sulit menjadi saya, karena saya harus bisa menempatkan diri saya sama seperti bagaimana Bapak atau mendiang suami saya menempatkan dirinya semasa hidup beliau dalam membangun Masjid ini,” lanjut Ibu Aisah.
” bahkan saat Bapak pergi, saudara-saudara kami dari Gereja Mahanaim turut memberi saya suntikan moril dengan menghampiri saya dan memberi saya semangat agar terus melanjutkan perjuangan suami saya,” kenang Ibu Aisah dengan haru.
Ruang peribadatan Lantai II Masjid Al-Muqarrabien
Satu hal yang paling dijaga didalam kegiatan sehari-hari Masjid Al-Muqarrabien adalah dengan tidak mengijinkan kegiatan apapun berjalan didalam Masjid kecuali kegiatan Ibadah dan Silaturahmi. Maksudnya adalah Kegiatan-kegiatan organisasi struktural bertujuan tertentu yang nantinya berurusan dengan dunia luar Masjid tidak diperkenankan untuk bertumbuh kembang didalam Masjid.
Dasar pertimbangannya adalah, Masjid merupakan tempat beribadah, tempat manusia mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yakni Allah SWT, sekaligus tempat dimana manusia menemukan ketenangan hati dan jiwanya. Jika ditambahkan dengan kegiatan-kegiatan seperti yang dimaksudkan maka esensi dari hakekat fungsi Masjid itu sendiri akan terkikis secara perlahan bahkan bukan tidak mungkin akan hilang.
Marbot Sulaiman Rompas mengatakan bahwa ia adalah salah satu benteng awal yang terus menjaga hal tersebut. Disamping itu pula, kerukunan dan keharmonisan yang sudah terjalin sejak tahun 1957 dengan Gereja Mahanaim tetap terjaga hingga saat ini.
” tidak ada organisasi bertujuan apapun didalam Masjid, dan tidak ada satupun dari kami yang pernah menghujat dengan kata-kata kafir atau apapun kepada siapapun. Kami Islam yang hanya menjalankan apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad SAW, serta kami adalah masyarakat Islam Indonesia yang tetap mengawal Pancasila sampai akhir hayat kami,” tegas Sulaiman.
Sebagai istri dari seorang suami yang memiliki karier duniawi sebagai mantan staff hukum salah satu dari keluarga besar mendiang Presiden HM. Soeharto, yaitu Ibu Moersiati Harsono, maka sampai sekarangpun ia tetap menjaga hubungan baik sekaligus menyimpan sedikit harapan secara tersirat bahwa kesejahteraan dan keamanan rakyat yang begitu diperhatikan di era pemerintahan Presiden HM.Soeharto dapat kembali terwujud.
Sinyal ini didapatkan Cendana News ketika melemparkan sebuah pertanyaan terkait harapan Ibu Aisah akan bagaimana keadaan ekonomi maupun keamanan yang ia inginkan dalam konteks dirinya sebagai rakyat. Ibu Aisah coba menjawab Cendana News dengan cukup bijak.
” saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga, sayapun tidak pintar hukum maupun politik, saya takut salah menjawab, akan tetapi jika keadaan rakyat bisa sejahtera dan aman seperti dulu lagi maka sebagai rakyat jelata saya akan berucap : Alhamdulillah,” jawab Ibu Aisah.
” hubungan saya dengan Ibu Moersiati Harsono juga terjaga baik walau lebih banyak lewat telepon. Beliau selalu menghubungi saya menanyakan keadaan dan hal apa yang bisa dibantu beliau. Dan jawaban saya sama dengan jawaban mendiang suami saya, bahwa Alhamdulillah kami baik-baik saja dan lancar hingga saat ini,” pungkas Ibu Aisah.
Mari jadikan harapan Ibu Aisah sebagai sebuah doa akan harapan rakyat untuk Bangsa dan Negara ini menjadi lebih baik lagi. Karena walau berat perjuangan serta beban yang ada di pundak seorang Hajjah Aisah Abdul Aziz Ali, namun beliau mampu menjalani semua amanat sang suami dengan sabar dan berserah segala hal yang dilakukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan saat ini ia bersama Yayasan Masjid Al-Muqorrobien sedang memugar Masjid Al-Muqarrabien dengan hanya mengandalkan bantuan masyarakat sekitar serta hasil dagangan warung nasi miliknya di depan Masjid. (Miechell Koagouw)
Lihat juga...