Bank Sampah Selain Memiliki Nilai Bisnis Juga Memiliki Nilai Sosial dan Lingkungan

SELASA, 26 JULI 2016

CATATAN JURNALIS — Kebanyakan orang menilai bahwa sampah merupakan barang yang tak lagi terpakai, sehingga kebanyakan berakhir di tong sampah ataupun Tempat Pembuangan Sampah (TPS) namun ternyata tidak demikian halnya yang dipikirkan oleh Agus Sholeh atau Ismet sapaan akrabnya. Pengelolaan bank sampah ini selain memiliki nilai bisnis juga memiliki nilai Sosial dan Lingkungan jelas Ismet kepada jurnalis Cendana News.

Mantan Pimpinan Ranting Pemuda Nahdatul Ulama (IPNU) Desa Beda, Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes ini mengatakan bahwa pada dasarnya untuk mengawali hal ini sanggat lah berat, saya sendiri sampai saat ini mengelola sampah sendirian, ungkapnya.
Awalnya saya, hanya bermodalkan Rp.1.5 Juta, itupun dipinjami sama teman, namun saya sendiri berprinsip Berani Optimis Barang Orang Lain (BOBOL), sudah satu tahun saya mengelola sampah. 
Untuk saat ini di Desa Karang Tengah ini sudah 25 anggota yang terdiri dari ibu rumah tangga masing masing dukuh 5 orang, karena keterbatasan pada pengelolaan saya sendiri mengalami kendala untuk pengembangan, artinya saya sendiri hanya mengelola sampah kering saja seperti buku, kardus plastik sedangkan untuk sampah basah saya tidak menerima karena keterbatasan tenaga“ tutur Ismet.
Sampah-sampah tersebut dapat kita kumpulkan perminggunya bisa capai 50 Kg dari masing masing dukuh. Ada juga yang uangnya diambil secara langsung namun juga ada yang di tabungkan artinya hal tersebut sesuai dengan kebutuhan ibu-ibu di wilayah Desa Benda ini ungkap Ismet.
Dari sampah-sampah tersebut masih saya pilah-pilah, kalau untuk buku-buku bacaan saya kumpulkan untuk perpustakaan dirumah, sedangkan untuk barang-barang antik itu saya koleksi. Lain halnya dengan pakaian bekas kalau untuk pakaian bekas saya kumpulkan itu yang nantinya saya alokasikan untuk bansos” tambah Ismet.
Ismet berharap bahwa usaha yang ia jalani ini mampu untuk menumbuhkan jiwa wirausaha serta membangun kemandirian untuk kesejahteraan masyarakat. 
Omset yang saya dapat perbulannya Cuma Rp.500 ribu saja, namun bagi saya sudah cukup lumayan, Saya mengharapkan kedepannya jika memang ada yang berminat untuk bergabung sehingga usaha bank sampah ini bukan hanya sebatas pada pengelolaan sampah kering saja namun juga pengelolaan pupuk  pertanian. 
Disisi lain saya berharap kepada pemerintah agar memberikan perhatian khusus dalam pengelolaan sampah melalui pemberdayaan misalkan plastik untuk pelatihan pembuatan tas dari bungkus kopi untuk pemberdayaan masyarakat tutup Ismet. (Yusfi Wawan Sepriyadi)
Lihat juga...