Gubernur NTT Ajak Masyarakat Konsumsi Pangan Lokal

RABU, 20 JULI 2016

MAUMERE — Hari pangan sedunia ke-36 tingkat provinsi NTT yang diadakan di Maumere,Selasa (19/7/2016) malam menjadi ajang bagi gubernur NTT dalam menggelorakan pangan lokal.

Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya mengatakan, pangan sangat penting dan memang menjadi hak asasi dari manusia. Pangan tidak bisa tergantikan oleh hal yang lain untuk sebuah kehidupan.
“Orang tidak makan tidak bisa digantikan dengan menyanyi,” ujarnya berseloroh.
Dikatakannya, pangan memang harus disediakan dan menjadi kewajiban negera untuk menyediakan pangan untuk rakyatnya. Dari waktu ke waktu kita semua mempunyai komitmen yang sama bagaimana membangun kedaulatan pangan di negeri ini khususnya di NTT.
Bagi Lebu Raya, banyak cara yang dilakukan dan memang mesti memiliki cara tepat dan lebih cocok yakni mengembangkan pangan unggulan daerah sesuai dengan potensi yang dimilki. Pangan memang terkait dengan ketersediaan, distribusi dan konsumsi.
“Jika cukup tersedia apakah ia terdistribusi dengan baik dan cepat atau tidak. Yang paling penting apakah pangan itu dikonsumsi masyarakat,” ungkapnya.
Putra Flores Timur ini menyebutkan, orang selalu berbicara tentang pangan yang bergizi, beragam dan berimbang. Pola konsumsi ini yang harus terus kita dorong supaya betul-betul tersedia pangan yang bergizi, beragam dan berimbang untuk masyarakat kita. 
Pangan tidak harus nasi mantan pegiat LSM ini, mengatakan, di NTT kita mengerti betul tentang daerah kita, kita tahu betul tentang potensi di daerah kita, kita tahu betul daerah kita tidak cukup menghasilkan beras. Daerah ini memang kering oleh karena itu dirinya sering mendorong pangan yang bersumber daya lokal yang sejak tahun 2008 dinamakan pangan lokal.
“Istilah lokal ini bisa menjadi sebuah perdebatan namun yang saya maksud istilah lokal yakni pangan yang hidup, tumbuh dan berproduksi di daerah itu,”paparnya.
Karena itu sejak kata ketua PDIP NTT ini, sejak tahun 2008 pemerintah provinsi NTT terus menerus mengerjakan dan mengkampanyekan  agar masyarakat mengkonsumsi pangan lokal.
Lebu Raya berharap apa yang dilakukan bisa merubah pola pikir dan pandangan masyarakat NTT tentang pangan sama dengan beras. Pangan tidak hanya beras, pangan ada beras, pangan ada jagung, pisang, umbi-umbian dan lainnya dan potensi itu kita miliki di daerah ini.
Pemprov NTT paparnya, mempunyai pengalaman panjang bagaimana mengurus pangan di daerah ini. Dari waktu ke waktu selalu kita teriak rawan pangan. Beberapa tahun lalu orang berteriak rawan pangan ternyata dirinya masuk dari desa ke desa, rumah ke rumah dan menemukan disana ada jagung, pisang dan ubi.
“Jadi saya simpulkan bukan rawan pangan tapi rawan beras sehingga sejak saat itu kita kampanyekan pangan lokal,” terangnya.
Waktu Lebu Raya menjabat wakil gubernur dan datang ke desa Rubit di Sikka, saat itu sedang gagal panen kakao. Dirinya dimarahi oleh seorang petani dengan mengatakan pemerintah buat apa, kami lapar disini pemerintah diam saja.
Dirinya hanya mendengar saja dan setelah petani tersebut selesai bicara ia menanyakan, kebun kakao di depan rumah berapa hektar, di lahan yang lain berapa hektar. Petani tadi menjawab jawab 8 hektar semuanya. Saat ditanyai uang hasil menjual kakao dipakai untuk apa, petani tersebut pun terdiam.
“Setelah itu saya masuk ke rumahnya dan ketemu dengan istrinya yang sedang menggendong bayi, saya tanya ibu sehari makan berapa kali, dia jawab dua kali makan nasi saat siang dan malam. Kadang-kadang makan jagung sementara pagi makan pisang atau  ubi,” ceritanya.
Masyarakat NTT kata Lebu Raya selalu melihat pangan itu harus nasi. Kita harus katakan kepada masyarakat kita, makan ubi boleh, jagung boleh, makan nasi kalau ada juga boleh. Kebijakan pangan kita dari dulu terutama kebijakan beras membuat orang Indonesia merasa terhormat kalau makan nasi.
“Padahal di kampung orang makan nasi kalau ada pesta. Yang harus dilakukan, kita mengembangkan sumber daya yang ada sesuai daerah kita,” pesannya.
Dana yang masuk ke desa saat ini ungkap Lebu Raya sangat besar tapi tidak dipakai membangun bendungan, embung tapi untuk bangun gedung. Rakyatnya lapar tapi dana desa dipakai untuk bangun gedung, lebih baik dipakai membuat kegiatan agar rakyatnya tidak lapar.
Mantan wakil ketua DPRD NTT ini mengakui sering mendorong digelarnya lomba pengolahan pangan lokal dan mengkampanyekan dengan tidak makan beras selama sekali dalam sehari. Daripada dokter menyuruh  makan jagung ucapnya, lebih  baik gubernur yang menyuruh mari makan jagung.
“Mari terus upayakan dan bangga mengkonsumsi pangan lokal. Saya selalu katakan hidup itu bermartabat kalau hidup itu dari hasil kerja keras dan keringat sendiri,” pungkasnya.(Ebed de Rosary)
Lihat juga...