MINGGU, 31 JULI 2016
YOGYAKARTA — Puluhan mahasiswa dari 20 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-DIY, menggelar pertemuan dengan Anggota DPR/MPR RI, Titiek Hediati Soeharto. Mereka sengaja ingin bertemu langsung dengan wakil dari parlemen, guna menyampaikan keresahan mahasiswa di Yogyakarta terkait banyaknya persoalan bangsa yang tak kunjung tuntas.

Mereka meminta Titiek Soeharto bisa membawa dan mengkaji berbagai keluhan mahasiswa di Parlemen, dan berharap segera ada solusi nyata.
Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DI Yogyakarta (FBD) dari sebanyak 65 perguruan tinggi di Yogyakarta memandang, begitu banyak masalah di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan dan keamanan yang belum bisa dituntaskan. Harga pangan masih saja mahal, pembangunan kota kurang memperhatikan kearifan lokal, ideologi Pancasila terdegradasi dan semakin seringnya terjadi koflik sara yang memicu disintegrasi bangsa.
Perwakilan mahasiswa dari Majelis Mahasiwa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Nur Fatah mengemukakan, banyak keganjilan yang menyertai atau yang bisa dilihat dari banyaknya kasus yang tidak bisa tuntas. Isu yang masih hangat yaitu isu separatisme yang merebak dalam peristiwa unjukrasa mahasiswa Papua di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Fatah, semestinya kasus tersebut ditangkap sebagai sebuah warning atau peringatan bagi Pemerintah, bahwa begitu besar kesenjangan pembangunan antara Jawa dan Papua.
“Keinginan sebagian warga Papua yang ingin melepaskan diri dari NKRI, sebenarnya hanya ungkapan kecemburan saudara kita di Papua yang merasa tidak diperhatikan dengan semestinya. Ada ketidak-adilan di sana,”ungkapnya.
Sementara itu, lanjut Fatah, semakin pudarnya pemahaman Pancasila di kalangan generasi sekarang juga semakin memudahkan terjadinya konflik horisontal dan sara. Jiwa nasionalisme menurun, wawasan kebangsaan tidak lagi dipahami sebagai kesadaran bersama untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Di sektor Lingkungan Hidup, Fatah juga menyoroti begitu banyak kasus kebakaran hutan yang tidak terselesaikan dengan baik dan tidak satu pun oknum besar pelaku pembakaran hutan yang ditangkap. Fatah meyakini, kebakaran hutan yang acap terjadi sangat mungkin sengaja dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang ingin membuka lahan baru. Sementara di Yogyakarta, pembangunan hotel begitu marak. Karenanya, Fatah menyatakan, banyaknya perizinan pembangunan hotel di Yogyakarta merupakan hal yang patut dipertanyakan.
“Saat ini, pembangunan sarana prasarana Kota Yogyakarta sebagai Kota Pelajar justru kesalip dengan pembangunan hotel-hotel,” ujarnya.
Forum BEM DIY yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa perwakilan 20 BEM dari 65 BEM di Yogyakarta, Sabtu (30/7/2016) juga mengkritisi masalah pangan, perikanan dan kelautan, terutama karena dugaan terhadap masih adanya mafia-mafia yang bermain.
Fatah mengatakan, terus tingginya harga pangan selama ini disinyalir karena ada mafia yang bermain. Panjangnya mata rantai distribusi pangan, semestinya bisa diatasi dengan berbagai cara. Karenanya, ia menduga pasti ada oknum-oknum tertentu yang selama ini sengaja memainkan harga pangan.
“Kami sangat mengapresiasi kesediaan Titiek Hediati Soeharto bertatap muka langsung dengan para mahasiswa di Yogyakarta dan mendengar keluh kesah kami. Tentu kami berharap keluh kesah kami bisa dibahas di parlemen agar semua persoalan bangsa bisa segera terselesaikan” pungkas Fatah.

Menanggapi hal itu, Titiek Soeharto menyatakan, sepakat bahwa mafia-mafia di banyak sektor harus dibasmi. Juga tengkulak dan makelar yang merugikan petani dan rakyat kecil harus dicegah. Sosialisasi 4 Pilar MPR RI harus lebih giat lagi dan pentingnya pendidikan Pancasila dilakukan sejak dini, penegakan hukum dan pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial yang harus segera diupayakan di seluruh kawasan tanah air.
FBD beranggotakan 65 BEM dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Namun dalam gelaran FBD yang diadakan pula sebagai peringatan HUT Ke-5 FBD dihadiri oleh 20 BEM se-DIY, antara lain BEM UGM, UPN Veteran Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, STIKES Ahmad Yani, Universitas Proklamasi 45, dan banyak.
[Koko Triarko]