SENIN, 11 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Harus diakui, spirit tradisi halal bi halal semakin memudar. Terlebih di perkotaan besar, kegiatan saling menyambangi tetangga untuk saling bermaafan hampir punah. Gairah 1 Syawal hanya berlangsung semarak di desa-desa, dengan kultur Jawa Islam yang masih relatif kental.

Karenanya, kegiatan syawalan terbuka atau umum seperti open house yang digelar Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dinilai menjadi penting, sebagai upaya menjaga tradisi halal bihalal. Demikian menurut Larasati Suliantoro Sulaiman, pemerhati budaya Jawa, saat ditemui usai mengikuti open house di Bangsal Kepatihan, Komplek Kantor Gubernuran DI Yogyakarta, Senin (11/7/2016).
Syawalan terbuka bersama pejabat atau pemimpin, kata Suli, juga menjadi sebuah pertemuan yang menyenangkan bagi rakyat kecil. Melalui kegiatan syawalan terbuka, silaturahmi dan persatuan juga bisa lebih terjaga. Apalagi, di Yogyakarta, ketika Sultan sebagai Gubernur DIY juga merupakan Raja Keraton Yogyakarta yang masih sangat dihormati oleh rakyatnya.
“Antusiasme warga mengikuti syawalan dengan Sultan benar-benar menunjukkan persatuan antara Kawula dan Gustinya”, ujar Suli.
Halal bihalal menjadi penting dijaga eksistensinya juga karena memberi manfaat kebaikan. Namun demikian, kata Sulis, kelangsungan tradisi halal bihalal sangat bergantung pada kemauan masyakarat di suatu tempat.
“Tapi, banyaknya warga yang datang dalam sebuah open house atau syawalan pejabat itu menunjukkan jika tradisi halal bi halal itu masih dianggap penting oleh masyarakat”, pungkasnya. (koko)