SELASA, 12 JULI 2016
Ternyata, ada puisi indah yang disembunyikan Rudy Habibie kepada masyarakat Indonesia, hingga setengah abad lebih. Puisi kuning langsat bermata biru itu bernama Ilona Ianovska. Seorang gadis Jerman keturunan Polandia yang sempat mewarnai sebagian hati Rudy ketika kuliah di Jerman. Agaknya, pada Lebaran 2016 ini, Presiden ke-3 Republik Indonesia Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie mengajak kita bersama-sama merindukan kecantikan wajah dan hati Ilona.
Film Rudy Habibie besutan Hanung Bramantyo ini seperti ingin berkata, sepanjang Rudy berkarya, ada melankolia bernama Ilona yang selalu menyemangati, di tengah berbagai aral yang merintangi. Ilona-lah yang rela menemani dalam masa-masa muram dan sepi. Tentu, dalam episode buku harian kehidupan Rudy, Ilona adalah halaman berwarna merah jambu yang akan senantiasa harum setiap kali dibuka.
Di balik segala mimpi Rudy sejak kecil atas pesawat terbang, sosok Ilona yang menempuh study Medical Technical Assistance di Aachen-Jerman ini, selalu bisa membuatnya berbunga-bunga, serasa melambung ke angkasa. Meskipun seluruh teman-teman Rudy menentang hubungan tersebut, ia tetap bersama Ilona.
Bisa jadi, Ilona adalah puisi yang disembunyikan Habibie di sepanjang perjalanan bahtera rumah tangganya bersama dokter cantik nan setia, Hasri Ainun Besari. Jika episode Ilona ini dibaca publik secara luas, kita tidak bisa membayangkan reaksi Bu Ainun. Andaikan ruh Bu Ainun bisa ikut nonton di bioskop, ia pasti cemburu berat dengan Ilona, bahkan bisa merajuk entah berapa lama.
Apakah Bu Ainun yang telah bersemayam di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tahu arti penting Ilona bagi Habibie? Sayangnya, pada film itu, Hanung Bramantyo sebagai sutradara belum sempat menjelaskan hal itu. Padahal, dengan sangat lugas, Hanung memberikan porsi kisah yang sangat besar tentang Ilona, sejak pertengahan hingga akhir film.
Romantisme Rudy-Ilona yang diperankan oleh Reza Rahadian-Chelsea Islan, dibangun apik oleh Hanung di tepian danau. Sesekali mereka masak bersama. Sering berdua di perpustakaan. Suatu ketika, sebelum berangkat ke kongres, Rudy mengecup kening Ilona cukup lama, hingga Ayu (perempuan ningrat Jawa yang menyukai Rudy, kuliah juga di RWTH) terbakar api cemburu. Bahkan, setiap Rudy berorganisasi dan menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPIA) di Aachen, Ilona selalu di sampingnya. Tak dipungkiri, Rudy-Ilona pernah mengucap seia-sekata untuk hidup bersama.
Ketika Rudy mengusulkan program Kedirgantaraan Indonesia dalam program Seminar Pembangunan PPIA, Ilona-lah yang selalu menguatkan tekadnya. Meskipun sebagian besar mahasiswa Indonesia di Jerman menentang Rudy, Ilona selalu membuat Rudy Optimis.
Bagi Habibie, Ilona adalah puisi. Di tengah masa prihatin Habibie sejak 1955 ketika menempuh studi di RWTH Aachen University, Jerman Barat, Ilona hadir. Gadis berdarah Polandia itu membuat Habibie terpesona. Di hadapan Rudy, Ilona mampu berdeklamasi tanpa teks atas puisi-puisi Johann Wolfgang Goethe (penyair yang sangat dikagumi Rudy). Banyak sekali puisi Goethe yang dihafal oleh Ilona.
Diam-diam, lambat laun, puisi-puisi Goethe mengeratkan Rudy dan Ilona. Sejak Ilona bertemu Rudy di pesta dansa mahasiswa Katolik, tiada pertemuan mereka tanpa untaian puisi Goethe. Apalagi, kerabat Ilona ada yang pernah menjadi perawat di Manado. Itulah yang membuat Ilona mahir berbahasa Indonesia dan sangat mencintai segala hal tentang Indonesia. Semakin banyak irisan alasan yang membuat dua hati ini menyatu.
Kisah asmara Rudy-Ilona mengisyaratkan Cinta yang baru dan hidup yang baru. Sebagaimana Puisi Johann Wolfgang Goethe dalam bahasa Inggris berjudul New Love, New Life di bawah ini ;
Heart! my heart! what means this feeling?
What oppresseth thee so sore?
What strange life is o’er me stealing!
I acknowledge thee no more.
Fled is all that gave thee gladness,
Fled the cause of all thy sadness,
Fled thy peace, thine industry-
Ah, why suffer it to be?
Say, do beauty’s graces youthful,
Does this form so fair and bright,
Does this gaze, so kind, so truthful,
Chain thee with unceasing might?
Would I tear me from her boldly,
Courage take, and fly her coldly,
Back to her. I’m forthwith led
By the path I seek to tread.
By a thread I ne’er can sever,
For ‘tis ‘twined with magic skill,
Doth the cruel maid for ever
Hold me fast against my will.
While those magic chains confine me,
To her will I must resign me.
Ah, the change in truth is great!
Love! kind love! release me straight!
1775
Benturan Ideologi, Tragedi Rudy Habibie
Di tengah gelora cita-cita Rudy atas pesawat bersama Ilona, ada banyak tragedi yang terjadi. Ada banyak mimpi Rudy yang kandas, karena Rudy terlalu ngotot dengan keinginannya, tapi situasi politik tidak mendukung. Kelihatannya, Hanung lupa mendetailkan situasi politik Internasional dan dampaknya terhadap pemerintahan Jerman dan Indonesia. Hanung terlalu sibuk dan terlalu asyik dengan kisah Rudy-Ilona.
Yang perlu dicermati, setting tempat kisah itu adalah di Aachen, Jerman. Rentang waktunya adalah 1955 saat Rudy mulai kuliah di Jerman, hingga lepasnya masa lajang pada 1962. Karena pada 12 Mei 1962, Rudy mengambil keputusan menikahi Hasri Ainun.
Situasi saat itu, sejak 1961, Aachen menjadi bagian dari Jerman Barat, karena Jerman terpecah menjadi dua bagian. Jerman Timur cenderung komunis, karena menjadi bagian dari kekuasaan Uni-Sovyet. Artinya, negara Jerman Barat tempat Rudy belajar, sangat anti komunis.
Situasi betul-betul tidak menguntungkan bagi Rudy, karena sejak Februari 1956, Soekarno memberikan keleluasaan besar bagi Partai Komunis Indonesia (PKI), dan menetapkan konsep Nasionalis-Agama-Komunis (NASAKOM) sebagai konsep kebangsaan Indonesia. Ditambah lagi, pada rentang 1960-1965, para pengurus PKI sangat dominan dalam pemerintahan Indonesia. Soekarno sebagai Presiden juga lebih dekat dengan negara komunis RRC dan Uni-Sovyet.
Situasi politik ini berpengaruh terhadap kehidupan Rudy di Jerman. Sulitnya kondisi ekonomi di Indonesia, membuatnya sering kelaparan karena kiriman uang ibunya sangat cekak. Meskipun Rudy sudah bekerja sebagai Insinyur Mesin untuk pemerintah Jerman, ia tetap terancam dipecat. Hampir saja, seluruh karya penemuan Rudy berkaitan dengan pesawat, dirampas oleh pemerintahan Jerman Barat yang anti komunis. Rudy sempat tidak dipercaya oleh pemerintah Jerman Barat, karena negara asalnya cenderung komunis.
Indonesia Condong Komunis, Rudy Terpaksa Berpindah Warga Negara Jerman Barat
Lebih malang lagi, paspor hijau Rudy sebagai mahasiswa sambil bekerja di Jerman, dicabut. Tak ada pilihan lain bagi Rudy. Karena pemerintah Jerman memintanya mengganti paspornya menjadi paspor warga negara Jerman. Jika pilihan itu tidak diambil, ia bisa didepak dari kuliahnya di Jerman. Seluruh karyanya bisa dirampas dan diberangus. Rudy harus menelan buah simalakama. Kebijakan Bung Karno yang dekat dengan blok komunis, secara tidak langsung, membuat Rudy terjerembab dalam keruwetan.
Maka, tidak mengherankan, pernah ada warga negara Indonesia yang pergi ke Jerman, satu pesawat dengan Habibie, melihat Habibie turun dari pesawat, lalu masuk ke pintu kedatangan warga negara Jerman. Kejadian itu setelah Habibie tidak menjadi Presiden lagi. Ternyata, Habibie tidak masuk dalam kategori orang asing di Jerman. Ketika pulang ke Indonesia sejak 1973, mengabdi untuk Indonesia, bisa jadi, Habibie memang memiliki kewarganegaraan ganda.
Entah kisah itu dimunculkan secara sengaja atau tidak, melalui film Rudy Habibie, kita sebagai penonton jadi tahu, ada tragedi nasionalisme dalam diri Habibie. Apakah ini adalah permintaan halus Habibie kepada seluruh Bangsa Indonesia agar memaklumi sikap tersebut?
Sebagai anak bangsa yang sangat mencintai Indonesia, situasi itu membuat Rudy tentu terguncang. Akibat guncangan kejiwaan itu, terlalu berpikir keras, merasa gagal, Rudy jatuh sakit. Rudy terjepit karena komunisme Indonesia. Bisa dikata, Habibie jadi sakit karena terjepit oleh partai Palu Arit yang menguasai Indonesia saat itu.
Rudy pun tersungkur berhari-hari di rumah sakit, terkena TBC tulang. Untung ada Ilona, kekasihnya yang pandai merawat.
Tak berapa lama, kabar sakitnya Rudy sampai di telinga ibunya, Raden Ayu Toeti Saptomartini, di Bandung. Tersentak dengan kabar itu, ibunya Rudy terbang ke Jerman, menengok Rudy, dan merawatnya hingga sembuh.
Namun, di balik berkah kedatangan ibunya, tragedi cinta Rudy-Ilona dimulai. Perbedaan negara dan agama Rudy-Ilona, tidak bisa diterima oleh Ibu Toeti. Kecuali, Ilona mau pindah agama dan warga negara.
Setelah ibu Toeti pulang ke Indonesia, Ilona menantang Rudy agar tidak pulang. Ilona mengajaknya menikah di Jerman. Ilona membujuk Rudy agar tidak pulang ke Indonesia. Tapi, Rudy memilih untuk berpisah dengan Ilona. Dalam sumpahnya di penghujung film, Rudy lebih memilih Indonesia. Rudy lebih memilih sumpah menegakkan Pancasila dan UUD 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada kepulangan ke Indonesia pada 1962, Habibie menikahi Ainun. Ia berusaha keras melupakan 1,5 tahun kebersamaan bersama Ilona Ianovska. Dalam keputusan sikap yang tidak sederhana, ia meninggalkan gadis penghafal puisi-puisi Goethe yang sangat dikaguminya. Tapi, keputusan Rudy Habibie atas cinta, baik dalam cinta pribadi maupun cintanya kepada bangsa Indonesia, ia tak meninggalkan kalimat bijak dari Goethe tentang cinta:
You don’t love if you don’t take the beloved’s faults for virtues
(Kamu tidak mencintai jika kamu tidak mengambil hikmah dari kesalahan kekasih untuk kebajikan)

THOWAF ZUHARON
Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.