RABU, 29 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Dengan ruang diorama yang dibangun lengkap dengan patung-patung peraga seukuran manusia dan panorama yang dilukis sedemikian rupa sehingga terkesan tiga dimensi, Monumen Jogja Kembali mampu memberikan gambaran dan suasana pada zaman perang yang mendekati nyata. Diorama terbagi dalam 10 episode menggambarkan poin-poin penting perjuangan RI sejak 19 Desember 1948 hingga 17 Agustus 1949.
![]() |
| Diorama 1: Serangan Belanda 18 Desember 1948 |
Memasuki Monumen Jogja Kembali pada Lantai 1, pengunjung bisa menyaksikan sejumlah koleksi museum berupa benda-benda replika, realia, dokumen, heraldika, senjata dan berbagai evokatif atau bentuk tiruan dapur umum yang menggambarkan suasana zaman perang kemerdekaan di tahun 1945-1949. Di salah satu ruang museum itu pula terdapat tandu dan dokar atau andhong kereta kuda yang pernah digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pada Lantai 1 juga terdapat perpustakaan khusus yang berisi bahan-bahan referensi sejarah perjuangan kemerdekaan RI. Juga ada ruang serba guna yang biasa digunakan untuk memberikan panduan bagi pengunjung yang datang berombongan.
![]() |
| Diorama 4: Perlawanan gerilyawan dipimpin Letkol Soeharto |
Lalu, di Lantai 2 terdapat lapik luar dinding langkan yang mengelilingi tubuh monumen, berhiaskan 40 buah relief yang mengisahkan perjuangan fisik dan diplomasi sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Kemudian memasuki ruangan monumen di Lantai 2 itu, 10 diorama sejarah disajikan sejak dimulainya agresi militer kedua Belanda pada 18 Desember 1948, dengan serangan udara menuju Lapangan Terbang Maguwoharjo yang sekarang menjadi Bandara Udara Adisucipto. Diorama itu mengawali kisah bersejarah terjadinya SO 1 Maret 1949 dan Kembalinya Yogyakarta pada 29 Juni 1949.
![]() |
| Diorama 5: Letkol Soeharto konsolidasi pasukan dan atur strategi |
Diorama kedua mengisahkan peristiwa penting dimulainya kembali perang gerilya, yang awali dengan melapornya Panglima Besar Jenderal Soedirman kepada Presiden Soekarno pada 19 Desember 1949. Lalu, diorama ketiga mengisahkan diasingkannya Presiden Soekarno dan semua pimpinan negara ke Sumatera pada 22 Desember 1948. Akibat diasingkannya Soekarno, rakyat dan tentara mulai mengadakan serangan gerilya, dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Pada 23 Desember 1948, rakyat bersama tentara menyerbu pabrik gula dan perumahan pegawai yang diduduki pasukan Belanda. Peristiwa ini digambarkan pada diorama keempat.
![]() |
| Diorama 6: SO 1 Maret 1949 dipimpim Letkol Soeharto |
Kemudian diorama kelima, dikisahkan Yogyakarta telah jatuh di tangan Belanda. Lalu, Letnan Kolonel Soeharto sebagai Komandan Brigade X Daerah Wehrkreise III mengadakan konsolidasi, menyusun strategi perang, dan membentuk sektor-sektor pertahanan di Desa Ngotho pada 26 Desember 1948, guna merebut kembali Kota Yogyakarta.
![]() |
| Diorama 7: Perjanjian Roem Royen |
Dan, pada diorama keenam, dikisahkanlah Serangan Umum 1 Maret 1949, dipimpin Letnan Kolonel Soeharto. Selama 6 jam, rakyat dan tentara berhasil menduduki Kota Yogyakarta dan membuat mata dunia terbelalak. Dunia mengakui Republik Indonesia masih ada dan berdaulat, dan Belanda terpaksa harus mundur.
![]() |
| Diorama 9: Pangsar Jenderal Sudirman kembali dan bertemu dengan Presiden Soekarno |
Akibat SO 1 Maret 1949, Belanda dikecam dunia atas perbuatannya mengasingkan pimpinan negara Republik Indonesia. Sehingga, pada 7 Mei 1949 ditanda-tangani Perjanjian Roem Royen, yang mengatur peralihan kekuasaan. Perundingan Roem Royen diceritakan pada diorama ketujuh.
Sesudah perjanjian itu, pada 29 Juni 1949 Belanda menarik semua pasukannya dari Yogyakarta, dan itu digambarkan pada diorama kedelapan. Pada 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari pengasingannya, dan pada 10 Juli 1949 Pangsar Jenderal Soedirman kembali dan bertemu dengan Presiden Soekarno. Dengan demikian, Yogyakarta dan RI telah kembali seutuhnya, sehingga pada 17 Agustus 1949 seluruh rakyat Indonesia bisa memperingati Proklamasi Kemerdekaan RI yang diceritakan oada diorama kesepuluh. (koko)




