Tekan Harga Selama Ramadhan Dengan Mengurangi Konsumsi

SABTU, 4 JUNI 2016

Mataram — Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, daging sapi, ayam, telur, cabai, bawang dan sejumlah kebutuhan pokok lain jelang puasa ramadhan sudah menjadi pemandangan biasa disaksikan di pasaran, terutama pasar tradisional

Tahun ini, memasuki puasa ramadhan, pergerakan kenaikan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok sudah mulai berlansung dan dirasakan masyarakat. Kenaikan tersebut tentu disebabkan karena tingginya permintaan dari masyarakat yang hendak berbelanja untuk kebutuhan selama puasa ramadhan
Hal tersebut sesuai hukum ekonomi yang mengatakan, semakin tinggi permintaan, maka akan semakin tinggi penawaran harga, demikian juga sebaliknya, demikianlah psikologi pasar
Sebagai upaya menekan lonjakan sejumlah kebutuhan pokok tersebut, langkah paling biasa dan sering dilakukan pemerintah daerah NTB melalui Dinas Perindustrian dan perdagangan adalah menggelar operasi pasar (OP) dengan menggandeng sejumlah distributor dan supermarket bagi warga.
Kebijakan menggelar OP sebagai kebijakan populis menekan harga supaya bisa terjangkau oleh masyarakat, terutama masyarakat miskin, tapi dalam kenyataannya kebijakan tersebut tidak cukup efektif melindungi masyarakat dari lonjakan harga kebutuhan pokok di pasaran, lonjakan harga tetap saja terjadi, terutama jelang lebaran
Mengurangi Konsumsi
Tidak bisa dipungkiri tingkat konsumsi masyarakat selama puasa ramadhan cukup tinggi dan tidak saja mengkonsumsi satu. Jenis makanan dan minuman, tapi beragam makanan dan aneka minuman
Suasana puasa ramadhan tentu bisa difahami menjadi penyebabnya, tapi justru tingkat konsumsi yang tinggi itulah yang menyebabkan para pedagang di pasaran berani berspekulasi menaikkan harga tinggi
“Untuk itulah menekan harga sejumlah kebutuhan pokok, selain dari pemerintah, juga meski dari masyarakat dengan mengurangi tingkat konsumsi” kata pengurus besar organisasi islam terbesar di NTB, Nahdatul Wathan (NTB) Tuan Guru Haji (Kiyai), Zainul Majdi yang juga Gubernur NTB di Mataram, Sabtu (4/6/2016)
Dalam artian mengkonsumsi makanan enak dan manis tentu untuk berbuka selama bulan puasa ramadhan bukan berarti dilarang, asalkan tidak sampai terlalu berlebihan, karena demikianlah hakikat dari puasa ramadhan
Melalui momentum bulan suci ramadhan kali ini, Majdi juga mengajak kepada seluruh masyarakat NTB bisa lebih menahan diri untuk tidak melakukan tindakan anarkis yang bisa merusak pahala puasa, termasuk kepada masyarakat non muslim supaya bisa menghormati umat muslim NTB selama puasa ramadhan.(Turmuzi)
Lihat juga...