Raden Mas Cokroningrat, Sang Penakluk Hati Putri Raja Pemecutan

SELASA, 7 JUNI 2016

BALI — Menyusuri Jalan Ahmad Yani Utara Denpasar, ?kita akan menemukan Jalan Blambangan. Siapa sangka di sana terdapat makam keramat Raden Mas Cokroningrat, suami dari Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah. Selama ini disebut-sebut jika makam Raden Mas Cokroningrat berada di Madura, Jawa Timur. 
Namun, penunggu makam keramat Raden Mas Cokroningrat, Kartubi menyebutkan jika makam suami putri Raja Pemecutan itu tidak berada di sana. Bahkan, Presiden RI ke-4 Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur juga menyebut jika makam asli Raden Mas Cokroningrat berada di sini. 
“Waktu itu beliau ke makam ini tahun 1995 usai meresmikan organisasi persaudaraan Hindu-Muslim Bali. Beliau mengakui jika makam ini adalah makam Raden Mas Cokroningrat,” ?kata Kartubi saat ditemui Cendana News di lokasi, Selasa (7/6/2016).
Alkisah, Kartubi menuturkan, Raden Mas Cokroningrat alias Raden Toyo yang bernama asli Ahmad Joko Salim diperintah oleh gurunya bersama empat murid lainnya untuk syiar Islam di Pulau Bali. Sesampainya di Bali, mereka berpencar. Kala itu, Bali tengah dilanda perang saudara antar-kerajaan. 
“Waktu itu memang sedang terjadi peperangan antara Puri Mengwi dan Puri Pemecutan,” tutur Kartubi.
Pada suatu ketika Raden Mas Cokroningrat ditangkap oleh prajurit Kerajaan Pemecutan. Ia ditawan lantaran dianggap mata-mata. Raden Mas Cokroningrat lalu ditugaskan mengurus kuda selama menjadi tawanan. Pada suatu hari, raja hendak menunggangi kudanya. Raden Mas Cokroningrat menyiapkan kuda kesayangan raja untuk ditunggangi. Di hadapan raja, Raden Mas Cokroningrat memerintahkan kepada kuda berlutut karena raja hendak menunggangi.
Kuda menurut, raja terperangah. Raja meyakini jika Raden Mas Cokroningrat bukan dari kalangan warga biasa. 
“Tapi waktu itu beliau merendah dan mengatakan kepada raja jika beliau dari kalangan warga biasa,” ucap Kartubi.
Suatu hari, Raden Mas Siti Khotijah anak raja yang bernama asli Gusti Ayu Made Rai menghampiri Raden Mas Cokroningrat. Ia meminta kepadanya untuk membantu kerajaan yang tengah terdesak oleh serangan Kerajaan Mengwi. Senada dengan ayahnya, Raden Mas Siti Khotijah mempercayai jika Raden Mas Cokroningrat memiliki kesaktian mandra guna.
Sebagai kompensasinya, Raden Mas Siti Khotijah mau dinikahkan Raden Mas Cokroningrat jika ia berhasil memukul mundur musuh. Kebetulan, sejak kali pertama berjumpa memang benih cinta sudah tumbuh di antara keduanya. Raden Mas Cokroningrat menyanggupi keinginan Raden Mas Siti Khotijah. Syaratnya, ia tak mau peperangan dalam pengertian pertumpahan darah.
“Lalu beliau meminta kentongan yang ada di kerajaan. Dengan kesaktiannya, dibacakan? mantra di kentongan itu. Nanti kalau musuh datang, santrinya akan memukul kentongan itu,” katanya.
Benar saja, begitu Kerajaan Pemecutan diserang, santri Raden Mas Cokroningrat memukul kentongan tersebut. Prajurit yang hendak menyerang seketika merasakan sakit di telinganya karena bunyi kentongan. “Prajurit musuh tuli dan pingsan? mendengar suara kentongan,” katanya.
Sesuai janjinya, Gusti Ayu Made Rai menikah dengan Raden Mas Cokroningrat dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Gusti Ayu Made Rai memilih memeluk agama Islam sesuai keyakinan suaminya dan dibawa ke kampung halaman Raden Mas Cokroningrat di Madura, Jawa Timur.
Pantauan di lokasi, makam Raden Mas Cokroningrat kondisinya memprihatinkan. Berdiri di atas lahan hanya sekitar 5 x 5 meter. Temboknya rapuh, atapnya terbuat dari seng. Hanya jalan setapak melalui jembatan kecil akses jalan menuju makam. Di dalam makam terdapat makam santri Raden Mas Cokroningrat. Meski memprihatinkan, namun tak membuat sejumlah umat mengurungkan niat mengunjungi makam Raden Mas Cokroningrat.
“Peziarah banyak, ada yang dari Pulau Jawa dan berbagai daerah lainnya. Dari Puri Pemecutan juga rutin ziarah ke sini. ?Sejumlah pejabat juga banyak ke sini. Ada Wakil Bupati Badung, anggota DPRD Badung juga ada,” ujarnya.
Yang lebih memprihatinkan, sekitar tahun1990-an tangan jahil nekat mencuri benda bersejarah peninggalan Raden Mas Cokroningrat. 
“Ada pedang, selendang dan tutup makam yang terbuat dari emas hilang dicuri orang,” tutur dia.
Pada kisah sebelumnya, cerita berbeda dituturkan Jro Mangku I Made Puger, juru kunci makam keramat Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah alias Gusti Ayu Made Rai. Perjumpaan keduanya lantaran sayembara Raja Pemecutan ketika putrinya, Gusti Ayu Made Rai menderita sakit kuning atau liver yang tak kunjung sembuh. Raden Mas Cokroningrat dipanggil oleh gurunya dari Yogyakarta untuk berangkat ke Bali mengikuti sayembara Raja Pemecutan. Ia berhasil menyembuhkan Gusti Ayu Made Rai dan menikah.?
[Bobby Andalan]
Lihat juga...