Permintaan Banyak, Keluarga Legiyono Olah Kolang Kaling Satu Ton Sepekan

SELASA, 7 JUNI 2016

LAMPUNG — Bahan baku pembuatan menu berbuka puasa (takjil) selama bulan suci Ramadhan salah satunya buah dari pohon enau (aren) yang tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Selama bulan suci Ramadhan pembuatan kolang kaling ditekuni oleh keluarga Legiyono (50) yang dibantu sang isteri, kedua anaknya mulai dari proses pengolahan dari buah yang masih mentah hingga siap diedarkan.

Buah kolang kaling hasil olahannya merupakan hasil membeli dari pemilik pohon aren yang banyak terdapat di sepanjang sungai Way Pisang dengan pembelian sistem borongan dari Rp50ribu-Rp75ribu per pohon. Selanjutnya tandan buah kolang kaling tersebut dibawa ke tempat pengolahan yang ada di samping rumahnya di dekat sungai Way Pisang.

“Pekerjaan ini sebetulnya pekerjaan musiman karena kami kerjakan setiap menjelang bulan Ramadhan dan sepanjang Ramadhan untuk memenuhi kebutuhan pasar takjil” terang Legiyono di rumahnya kepada Cendana News, Selasa (7/6/2016).
Ia mengaku memproduksi buah kolang kaling siap jual rata rata satu ton sepekan dan diperkirakan permintaan semakin meningkat hingga pertengahan Ramadhan, baik dari pembeli perseorangan maupun pembeli yang akan menjualnya dalam bentuk minuman menu berbuka puasa.
Kolang-kaling (buah atap) yang merupakan cemilan kenyal berbentuk lonjong dan berwarna putih transparan dan mempunyai rasa yang menyegarkan dijual oleh Legiyono dan isterinya dengan harga Rp9ribu perkilogram.
Proses pembuatan dilakukan dalam skala usaha keluarga tersebut menurut Legiyono mula mula dilakukan dengan cara membakar buah aren sampai hangus, kemudian diambil bijinya untuk direbus selama beberapa jam menggunakan drum yang dimasak dalam bara api terbuat dari kayu. Saat buah kolang kaling yang direbus cukup banyak ia bahkan menyiapkan beberapa drum untuk merebus buah enau tersebut.
Biji yang sudah direbus tersebut kemudian direndam dengan larutan air kapur selama beberapa hari sehingga terfermentasikan dan lebih mengembang. Legiyono mengakui kolang-kaling memiliki kadar air sangat tinggi, hingga mencapai 93,8 persen dalam setiap 100 gram-nya sehingga gampang mengembang jika direndam air.
“Hampir setiap hari kami mengolah kolang kaling ini dengan berbagi tugas ada yang membakar terus merebus dan ada yang merendam dan membilas sampai proses penjualan”ungkapnya.
Adapun proses pembuatan kolang kaling hingga siap disantap bersama minuman segar lainnya buah kolang kaling menurut Lewgiyono diolah melalui proses sebagai berikut: Buah yang muda, dipanen sebagai bahan kolang-kaling selanjutnya tandan kolang kaling berisi ratusan enau didiamkan untuk mengurangi kadar getah yang gatal, setelah itu buah enau dikumpulkan dan direbus, proses membutuhkan waktu berjam jam hingga getah berkurang.
Proses selanjutnya buah kolang kaling dikupas menggunakan pisau atau alat khusus untuk memisahkan kulit dan biji enau. Mengupas buah enau. Setelah dipisahkan dan dikupas maka akan muncul kolang kaling berwarna putih bening.
“Proses belum selesai karena masih harus direbus untuk menghilangkan kadar getah dalam buah dengan merendam lagi dalam air mengalir di sungai,”terangnya.
Setelah diangkat dari proses perendaman buah kolang kaling yang juga sudah dipipihkan bisa tetap direndam sambil menunggu pembeli. Hasil perendaman berupa kolang-kaling, siap diolah lebih lanjut menjadi bahan campuran pembuatan kolak maupun es buah yang banyak ditemui saat bulan suci Ramadhan sebagai menu takjil.

Kolang kaling hasil buatannya diakui Legiyono diproses tanpa bahan pengawet dan bahan kapur bahkan saat sudah jadi tidak diberi pewarna makanan dan masih dalam keadaan putih bening. Berkat usahanya tersebut dalam sepekan ia berhasil memperoleh omzet belasan juta yang merupakan usaha musiman.
[Henk Widi]
Lihat juga...