SABTU, 18 JUNI 2016
BALIKPAPAN — Kondisi ekonomi global yang terjadi saat ini ternyata mempengaruhi usaha kerajinan rotan di daerah. Misalnya pengrajin di kota Balikpapan, Muhammad Suli Banten seorang pengrajin rotan yang eksis sejak 10 tahun silam mengaku kondisi ekonomi global dan tambang batu bara yang turun sangat berdampak pada usaha yang digelutinya.

Banten mengatakan, hal itu karena pangsa pasar utama kerajinan rotan produksinya merupakan kalangan ekspatriat, yang cenderung menyukai produk etnik dan khas daerah Kalimantan Timur.
“Ekspatriat yang beli juga terkadang mengirim mebel rotan ke negara mereka, sehingga produk berlabel Samudra Alhamdulillah sudah menjangkau ke Eropa,” ungkapnya saat ditemui di tokonya, Sabtu (18/6/2016).
Tidak hanya, satu atau dua negara kerajinannya sudah dikenal. Namun mebel buatannya sudah pernah dikirimkan ke Perancis, Australia dan Amerika Serikat.
Namun, pangsa pasar tersebut tak lagi bisa diandalkan seperti dahulu. Makin berkurangnya ekspatriat yang bekerja di Balikpapan menjadi salah satu faktor, sehingga pihaknya tak lagi mengandalkan penjualan dari segmen tersebut.
“Dulu kalau beli rotan 2 ton hanya untuk produksi selama tiga bulan saja. Tetapi saat ini saja 1 ton belum tentu habis dalam enam bulan,” sebutnya dengan tersenyum.
Kondisi tersebut tak membuat putus asa untuk terus menggeluti sebagai pengrajin rotan. Ayah tiga anak ini tetap optimistis dan berharap banyak pada pasar domestik. Meski dia tak bisa menutup mata minat masyarakat terhadap produk lokal rotan belum begitu tinggi. Padahal rotan memiliki banyak keunggulan yang tak kalah dengan furniture lainnya.
“Dengan kekuatan bahan rotan, konsumen tentu tak perlu merogoh kocek setiap tahun untuk membeli perlengkapan rumah tangga, seperti kursi-meja ruang tamu ataupun perlengkapan lainnya. Bahan rotan bisa bertahan 20 tahun lamanya,” ujarnya.
Penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), disambut antusias. Banten cukup percaya diri dengan beragam perlengkapan rumah tangga berbahan baku rotan produksinya mampu menggaet pembeli dari berbagai segmen terutama dari kalangan luar negeri.
“Nanti, tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pembeli. MEA justru menjadi peluang bagi kami,” tutupnya.
[Ferry Cahyanti]