Pengelola Game Online di Yogyakarta Mengeluh Sering Dapat Stigma

RABU, 15 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Keberadaan game online menjadi favorit bagi anak-anak, remaja dan bahkan dewasa untuk mengisi waktu luang. Apalagi di Bulan Puasa. Game online menjadi kegiatan mengasyikkan dan mampu melupakan sejenak rasa lapar selama seharian. Imbauan untuk lebih baik tidur siang di saat puasa, tak menyurutkan para penggila game online untuk datang bermain game kesukaannya.

Hal tersebut sebagaimana bisa terlihat di beberapa tempat penyewaan atau rental game online di banyak daerah di Sleman, Yogyakarta. Menurut salah seorang pengelola game online di kawasan itu yang tak mau disebutkan namanya dan nama rentalnya, saat ditemui Rabu (15/6/2016), Bulan Puasa ini tak memberi pengaruh apa pun.
Jumlah pengunjung disebutkan tetap stabil, sekitar 30-an orang setiap hari dan dengan tarif yang tetap normal sebesar Rp. 3.000 perjam. Pengelola rental game online itu juga mengatakan, jumlah pengguna game online didominasi remaja dan dewasa, baik yang masih pelajar maupun mahasiswa. Meski ada saatnya jam-jam sepi pengunjung, namun pada Bulan Puasa ini jumlah pengunjung relatif stabil. Hanya saja, pada waktu buka puasa, solat tarawih dan sahur, pengunjung agak sepi.
Menurutnya, ada beberapa kendala harus dihadapi oleh pengelola bisnis game online dalam mengembangkan usahanya. Antara lain, telah menjamurnya rental game online di banyak tempat, sehingga persaingan menjadi sangat ketat dan gangguan koneksi akibat cuaca serta pemadaman listrik yang cukup sering terjadi.
Di tengah semua kendala itu, lanjutnya, para pengelola rental game online juga masih dibuat gerah dengan pandangan sejumlah kalangan yang acapkali mengatakan jika permainan game online selama ini tidak mendidik.
Apalagi, setiap datang Bulan Puasa berbagai imbauan untuk lebih baik tidur di Bulan Puasa ketimbang bermain game online semakin membuat pengelola game online merasa mendapat stigma dan dirugikan. “Padahal, kami ini membuka usaha untuk memenuhi nafkah”, ujarnya.
Dikatakan lagi, sebenarnya pengelola game online sangat setuju jika permainan game online itu harus mendidik. Masalahnya, dalam menjalankan bisnisnya itu pengelola game online bekerjasama dengan provider yang telah menyediakan beragam jenis permainan. Pengelola hanya tinggal menjalankan saja, sehingga jika game online harus mendidik, maka harus disediakan oleh provider.
“Namun, pengelola game online selama ini pun sebenarnya juga sudah cukup preventif dengan tetap memasang peringatan yang isinya melarang anak-anak usia sekolah datang untuk bermain di jam sekolah”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...