MINGGU, 5 JUNI 2016
SURABAYA — Prof Dr Chairul Anwar Nidom drh MS seorang peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengatakan jika Indonesia ingin bebas dari bahaya flu burung, seluruh masyarakat tidak boleh memelihara unggas.

Hal ini dilakukan mengingat dari penelitian sebelumnya, Prof Nidom yang ditunjuk sebagai pembimbing disertasi Dr Iswahyudi, drh, MP yang berjudul ‘Karakteristik Asam Amino Virus Flu Burung di Pulau Jawa Periode 2012-2015 sebagai Landasan Pemantapan Kebijakan Pengendalian Penyakit Flu Burung di Indonesia’ ini memberikan hasil bahwasanya virus flu burung Indonesia sudah bermutasi.
“Sebenarnya virus flu burung ini endemik Indonesia, bukan dari luar negeri, jadi harus dihilangkan semua unggas yang ada,” jelasnya saat dihubungi Cendana News, Minggu (5/6/2016).
Kebijakan pemerintah yang mengharuskan adanya vaksinasi hingga 70 persen ternyata tak mampu menghilangkan virus flu burung di Indonesia. Vaksinasi yang tercapai sebanyak 4,8 persen di Jawa Timur itupun sudah tertinggi jika dibandingkan dengan Jawa Tengah sebanyak 1,5 persen dan Jawa Barat hanya 0.5 persen.
“Pemerintah selalu gembar-gembor vaksinasi, tapi buktinya tidak ada. Adanya vaksinasi pun tidak bisa mencapai target dan masih banyak virus flu burung,” cakapnya.
Prof. Nidom pun mempertanyakan kebijakan pemerintah terkait vaksinasi. Sementara negara lain yang terkena virus flu burung tidak melakukan vaksinasi tapi memusnahkan unggas selama beberapa waktu kini mereka bebas dari virus ini.
Dalam promavendus (kajian dr. Iswahyudi) mengkaji bahwa hasil pencanangan dari pemerintah untuk pengendalian tidak konsekuen. Pasalnya, dari hasil disertasi tersebut didapatkan bukti bahwa jika virus dicekam dengan vaksinasi maka bisa langsung bermutasi.
“Jika virus dicekam vaksinasi, virus akan lakukan perubahan, virus yang 5 persen cekaman maka berubah menjadi 95 persen ditulari yang umumnya dipelihara masyarakat 5-10 ekor ayam tanpa kandang, virus ini akan terbuka oleh karena itu saya tanya ke promovendus program vaksinasi khusus sektor 4 masyarakat seperti apa,” tandasnya.
Dan jalan keluarnya, setiap pemilik unggas harus diganti dengan hewan yang produktif seperti kambing. Agar masyarakat tetap bisa melakukan usaha ternak namun aman bagi keluarga.
“Kasus Banyuwangi dan Lamongan adalah akibat vaksinasi, ayam yang terpapar virus malah divaksinasi akhirnya malah tambah parah, sekarang virusnya kemana, ini yang saya khawatirkan akibat dari overuse (pemakaian lebih.red) vaksin, karena dana sedikit tiap daerah berbeda, yang lebih minta lagi daerah tertentu,” pungkasnya.
[Charolin Pebrianti]