Menengok Tradisi ‘Arebbe’ Menyambut Bulan Suci Ramadhan

MINGGU, 5 JUNI 2016

SUMENEP — Berbagai macam kebiasaan atau tradisi turun temurun dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, rupanya hingga sekarang masih saja tetap dilestarikan. Salah satunya adalah mengantarkan ketupat dan serabi atau ‘Arebbe’ ke masjid maupun musholla di desa setempat.

Salah seorang warga sedang membuat selongsong ketupat.
Tradisi yang sudah turun temurun itu masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk. Dimana warga tersebut setiap menyambut bulan Puasa beramai-ramai mengantarkan makanan berupa ketupat dan serabi ke masjid maupun musholla di saat sore hari. Kemudian makanan tersebut disajikan pada saat selesai melaksanakan sholat taraweh.
“Ini sudah menjadi tradisi masyarakat daerah ini setiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, sehingga makanan berupa ketupat dan serabi yang mereka bawa ke masjid maupun mosholla di makan secara bersama-sama. Tetapi sebelum di makan warga yang ada di masjid maupun mosholla berdoa terlebih dahulu, supaya bisa melaksanakan Ibadah Puasa dengan lancar,” kata Saedi (38) salah seorang Tokoh Masyarakat Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Minggu (5/6/2016).
Disebutkan, bahwa kebiasaan mengantar makanan ke masjid maupun musholla dalam bahasa Madura disebut Arebbe. Hal itu merupakan sebuah bentuk rasa syukur masyarakat dapat melaksanakan Ibadah Puasa di kampung halamannya, selain itu juga bertujuan mempererat tali persaudaraan antar sesama warga dengan cara makan bersama dari makanan yang telah diberikan oleh warga tersebut.
“Kebiasaan ini sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat. Jadi biasanya sejak siang hari masyarakat sibuk membuat selongsong ketupat dan masak serabi untuk dibawa ke masjid maupun musholla,” jelasnya.
Sajian makanan yang dibawa oleh masyarakat di yakini menjadi dapat menjadi bekal dalam melaksanakan Ibadah Puasa, sehingga saat bulan Puasa berlangsung tidak merasakan lapar dan dahaga meski dalam kondisi bekerja.
“Bahkan pada saat sahur pertama mayoritas masyarakat menyajikan menu ketupat. Jadi kebiasaan ini tidak bisa ditinggalkan, karena sudah menjadi kebanggaan yang memang perlu tetap dilestarikan agar tidak punah,” pungkasnya. (M. Fahrul)
Lihat juga...