RABU, 29 JUNI 2016
Sebagaimana tahun-tahun lampau, setiap menjumpai malam menjelang perayaan Hari Lebaran, lelaki renta itu selalu tersiksa. Hati lelaki usia 80 ini mendidih. Dari keriput, uban, dan nanar matanya, masih memancarkan dendam kelam masa pengasingannya di Pulau Buru. Keyakinannya yang tak pernah pupus terhadap komunisme, membuatnya selalu membaca buku World Communist Movement karya Vadim Valentinovich Zagladin setiap malam, seperti membaca kitab suci. Kawan-kawannya sesama Alumni Pulau Buru, selalu menjulukinya Kamerad Sangit Palu Arit, karena gelora hidupnya selalu membara dalam membela komunisme.
Sejak muda, Sangit memang benci dengan agama, sebagaimana Karl Marx dan Lenin. Ia menyukai komunisme, karena komunis pasti benci Agama dan Tuhan. Komunis sejati harus Atheis (tidak percaya Tuhan). Sangit pun tak pernah bisa menalar keberadaan Tuhan melalui alam pikirannya yang mengukur segala hal dari materialisme dan hal-hal yang tampak saja.
Berbeda dengan para tetangganya yang gegap gempita menyambut takbir dan suara bedug lebaran, Sangit Palu Arit justru menutup seluruh pintu dan jendela rumahnya sejak sore. Seluruh lampu di luar rumah ia matikan, agar ia dikira pergi. Ia hanya menyalakan lampu kecil di kamarnya.
Pada malam penuh takbir itu, tak ada tetangga yang menggubrisnya, karena Sangit memang tidak punya sanak saudara. Hidupnya ditopang dengan beberapa petak sawah yang ia beli, selepas dari Pulau Buru. Apalagi, sebagai salah satu sesepuh Komunis yang menjadi rujukan para komunis muda di seantero nusantara, ia punya ratusan anak-anak muda binaan ideologis yang selalu bertamu ke rumahnya silih berganti, membawakan berbagai kebutuhan logistik dan uang. Ia biasa dipanggil Eyang Sangit oleh para pemuda pencinta komunis.
Sebagai seorang Ideolog yang misterius, Sangit bergaul dengan tetangga, hanya ketika ronda dan arisan warga. Segala pergaulan maupun norma agama, tidak masuk dalam kamus hidup Sangit. Makanya, lebaran yang penuh dengan kedamaian, silaturahmi, saling maaf memaafkan, penuh petuah agama, selalu menjadi hari yang memuakkan bagi Sangit. Jauh lebih baik mendekam dalam kamar, sembari mengatur strategi melaksanakan kesumatnya.
Bagi Sangit, daripada mengimani agama dan merayakan Lebaran, mendingan melaksanakan petuah Zagladin (tokoh pemikir komunis pasca Karl Marx yang menginspirasi berbagai gembong komunis dunia) dalam buku World Communist Movement. Toh, beberapa petunjuk Zagladin telah ia amalkan beberapa kali sepanjang tahun 1960-1965, sebelum peristiwa pengkhianatan G30S/PKI 1965 yang gagal.
Sebagai pemeluk komunis, Sangit menyukai 18 petuah keji Zagladin yang harus diamalkan sebagai komunis, yaitu berdusta, memutar balik fakta, memalsukan dokumen, memfitnah, memeras, menipu, menghasut, menyuap, intimidasi, membenci, mencaci maki, menyiksa, memperkosa, merusak, menyabot, membumihanguskan, membunuh, dan membantai.
Sangit merasa bangga ketika dulu pernah ikut melakukan penyerobotan tanah Negara di Pabrik Gula Jengkol, Kediri. Sangit juga pernah ikut menginjak-injak Al-Quran dan menggerayangi tubuh Pemudi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Pesantren Kanigoro, pada Januari 1965. Sangit juga pernah melakukan Mutilasi kepada Guru Ngaji Zainuddin di Kediri. Sangit juga yang berhasil mendidik para Gerwani di Kediri untuk berani telanjang tanpa busana, menyerang para tentara di Kediri.
Berbagai prestasi keji itu selalu Sangit ceritakan dengan bangga kepada para muda mudi binaannya. Ia terus menyemangati para muridnya untuk berani seperti dia, demi kejayaan komunisme. Ada beberapa muridnya yang terus dan berani, ada beberapa yang kemudian menjauh dengan sistem pengkaderan itu.
Di antara banyak muridnya, Sangit punya beberapa murid kesayangan yang telah berhasil dididiknya untuk mempraktikkan perilaku keji. Ada aktivis politik yang selalu berhasil melakukan penyuapan. Ada pemalsu dokumen ulung. Ada pemeras yang selalu memberikan uang setoran kepada Sangit. Ada residivis keluaran penjara yang pernah memperkosa puluhan anak perempuan Sekolah Dasar. Ada pembunuh bayaran yang tak pernah tertangkap. Semua punya peran masing-masing. Lengkap, sesuai petuah keji Zagladin.
Sangit merasa bahagia hidupnya, karena sudah berhasil mencetak anak didiknya sesuai cita-cita Zagladin. Sehingga, untuk merayakan berbagai keberhasilannya, pada lebaran 2016 ini, Sangit memang ingin menyepi dan menyendiri. Kali ini, ia bahagia, karena ada muridnya yang berduit, membelikannya Player DVD dan beberapa film yang sedang laku keras di pasaran maupun bioskop. “Beberapa kaset DVD ini sebagai hiburan Eyang Sangit, kalau jenuh,” kata salah satu muridnya.
Perasaan Senasib Sangit Palu Arit dan Hantu Komunis Atheis dalam Film Conjuring 2
Dari beberapa pemberian itu, Ada sebuah kaset DVD yang menarik perhatian Sangit pada malam Lebaran, yaitu berjudul Conjuring 2. Sebuah film horror yang mencapai tangga gemilang dalam Boxoffice Dunia. Tanpa pikir panjang, Sangit langsung memutar film itu. Apalagi, Sangit tahu, film Conjuring 2 ini berangkat dari sebuah kisah nyata berjuluk The Enfield Poltergeist, kasus supranatural yang menghebohkan Inggris Raya antara tahun 1977 hingga 1979.
Tenggelam dalam jalannya film, Sangit terpukau dengan Film The Conjuring 2 yang menceritakan tentang kisah nyata pada tahun 1977 itu. Sangit melihat, seorang ibu-ibu yang tinggal di inggris tiba- tiba melaporkan bahwa anaknya kerasukan setan dan dia melapor kepada seorang paranormal. Dalam kasus tersebut, 2 orang anak perempuan dari keluarga Enfield telah dimasuki oleh setan yang jahat. Pada saat itu, salah satu anak bisa melayang dan satunya lagi menghilang di depannya. Ini merupakan pengalaman sejarah paranormal yang cukup mendebarkan bagi Sangit.
Sampai pada suatu cerita, Sangit sangat senang dan kegirangan ketika sosok Bill Wilkins, hantu yang mengganggu rumah itu, tidak bisa kembali ke kuburan, terus bergentayangan, karena pada masa hidupnya adalah seorang Atheis. “Bill Wilkins ini seperti aku. Ketika mati pun, ia konsisten atheis,” kata Sangit, kemudian tertawa terbahak-bahak.
Berbagai adegan horror ia lihat hingga film selesai. Sesekali ia terperanjat dengan berbagai efek kejut dari keganasan hantu-hantu film Conjuring. Tapi, di akhir film, Sangit kecewa dan marah besar, karena hantu Bill Wilkins yang dibantu roh jahat kuat bernama Valak, kalah oleh kalimat-kalimat suci dalam Alkitab yang dibacakan oleh Lorraine Warren (penyelidik paranormal utusan gereja Vatikan). Padahal, perasaan Sangit menginginkan hantu itu menang melawan kaum agama.
Dalam geram, Sangit mulai berpikir, bahwa gerakan komunis harus melakukan propaganda yang massif melalui film bioskop. Sangit mulai merenung, upaya gerakan komunis Indonesia yang menunggangi berbagai gerakan Hak Asasi Manusia, memperalat Film Jagal dan Film Senyap yang sangat potensial memecah belah persatuan NKRI besutan Joshua Oppenheimer, Film Pulau Buru Tanah Air Beta, buku kartun Gerakan Kiri untuk Pemula terbitan Ultimus Bandung, Festival Belok Kiri, serta Petisi Penghancuran Lubang Buaya oleh Shinta Miranda anak Gerwani, sudah mulai tidak efektif lagi.
Jika lebaran sudah usai, lalu anak didik komunisnya sudah menyambanginya lagi, Sangit akan memerintahkan mereka membuat film Layar Lebar yang membuat orang bisa tertipu dan membela komunisme. Sangit ingin membuat Film hantu komunis yang mencabik-cabik Pancasila dan agama.
Alangkah celaka, sebelum niatan Sangit terlaksana, pintu rumahnya tiba-tiba digedor dan dijebol. Belasan orang berbaju coklat bersenjata api meringkusnya dalam kamar. Mereka adalah polisi yang menangkap Sangit, tanpa basa-basi.
“Anda kami tangkap. Karena menjadi otak sekaligus dalang dari berbagai perilaku kriminal anak didik anda di berbagai tempat. Mereka telah banyak melakukan pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, dan serangkaian pelanggaran pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) lainnya!” ujar komandan regu penangkapan Sangit tersebut.
Selain tuduhan otak kriminalitas, Sangit juga ditangkap Polisi atas nama penegakan hukum Undang-Undang 27/1999 yang beberapa pasalnya melarang ajaran komunisme dan segala atribut terkait komunisme. Selama beberapa waktu, Sangit telah lama diselidiki dan disimpulkan sebagai penghasut anak muda untuk bikin berbagai atribut komunis dan mengadakan berbagai festival maupun acara turun ke jalan menggunakan atribut komunis!
“Kami telah punya buktinya! Beberapa anak muda yang berguru ajaran terlarang itu kepada anda selama ini, adalah intel kami. Anda kami jebak. Segera ikut kami ke kantor kepolisian!”
Sangit Palu Arit diam. Tidak bisa melawan. Tapi, dalam hatinya berkata, jika ia memang harus mati dalam penjara, ia akan menjadi hantu komunis seperti Bill Wilkins dalam film Conjuring. Celakanya, ia malah bercita-cita menjadi hantu yang akan menakuti para pemeluk agama dan Pancasila, para TNI sebagai benteng NKRI, serta para polisi penegak hukum yang akan selalu melawan bahaya laten ideologi komunis.
Begitulah ilusi konyol seorang sesepuh komunis di Malam Lebaran. Ketika banyak orang menggemakan takbir di berbagai masjid, ia meringkuk di penjara, tersekap dalam kegelapan lamunannya yang merindukan kekuasaan dengan pertumpahan darah!
Sejak ditangkap, Sangit terus menerus berteriak dalam penjara, pura-pura meracau dengan kalimat yang terus diulang-ulang. “Akulah Bill Wilkins. Akulah Valak”. “Akulah Bill Wilkins. Akulah Valak. Hantu komunis”.
Para sipir penjara mendiamkan. Tapi, ada juga sipir penjara yang menyumpal mulutnya. Karena Sangit Palu Arit dianggap terlalu berisik!

THOWAF ZUHARON
Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.