Laboran UKWMS Ciptakan Alat Penguji Stres Tikus Tanpa Siksaan

RABU, 22 JUNI 2016

SURABAYA — Selama ini alat untuk menguji tingkat stres tikus dilakukan dengan penyiksaan. Mulai dari disetrum, ada yang ditaruh dalam kandang bersama kucing, ada pula yang dibuat berenang terus menerus dengan pemberat di ekornya. Semua itu kini tak perlu dilakukan karena ada ‘Platform Uji Stres Terhadap Tikus Secara Aman’ buatan Laboran di Laboratorium Biomedik Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Anang Subagio, ST.
Bungsu dari empat bersaudara ini bahkan membuat platform tersebut dari barang bekas. Bagian dasar alat menggunakan bagian dalam alat Kymograph yang telah rusak dan disetel ulang agar pegasnya dapat dimanfaatkan. Kemudian dipasangi pipa paralon dan sebagai platform tempat tikus berpijak, Anang menggunakan mika penutup plat nomor mobil. Agar platform dapat berputar-putar Anang menggunakan baut bekas spion sepeda motornya yang rusak. Terakhir supaya terlihat bagus, Anang mengecat alat tersebut menjadi hitam.
“Lalu ada permintaan dari dr. Handoko Daeng – Dekan Fakultas Keperawatan UKWMS – untuk kepentingan penelitian psikiatri. Kebutuhannya adalah alat pembuat stress tikus terhadap predator, saya usulkan perlakuan uji stress dilakukan dengan alat yang aman dan akhirnya tercipta alat ini,” jelasnya saat ditemui di laboratorium, Rabu (22/6/2016).
Alat ciptaan Anang tersebut merupakan alat pertama di dunia yang bisa menguji stress pada tikus dengan cara aman tanpa penyiksaan. 
“Cara kerjanya mudah, hanya perlu tuas diputar lalu alas yang terbuat dari mika ini akan berputar miring secara terus menerus. Tikus akan berusaha menjaga keseimbangannya dan stressnya meningkat. Hasilnya juga sudah diuji di lab dan alat ini mendapatkan hasil uji stress aman,” ujarnya.
Saat ini, platform tersebut telah tercatat dalam jurnal internasional yang dituliskan oleh dr. Handoko. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk meningkatkan stress tikus dan tanpa menyakiti secara fisik. 
Selain itu, ia sering membuat alat karena permintaan peneliti. Kadang ada yang membutuhkan suatu alat namun karena harganya mahal, maka dibuatlah modifikasi yang murah namun bisa bekerja dengan efisien. 
“Yang pasti dengan prestasi ini saya masih ingin membuat alat lainnya agar bisa dimanfaatkan untuk fakultas dan universitas,” pungkasnya.
Sekedar informasi, Anang berhasil menyabet Juara I Tenaga Kependidikan Laboran Berprestasi Tingkat Kopertis Wilayah VII berhasil diraihnya, perasaan senang tak terkira ia rasakan karena ia berhasil melebihi target yang ia tetapkan.
[Charolin Pebrianti]
Lihat juga...