KSOP Himbau Nahkoda Waspadai Cuaca Ekstrem di Perairan Selat Sunda

SENIN, 27 JUNI 2016

LAMPUNG — Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Kelas V Bakauheni menghimbau kepada seluruh nahkoda kapal kapal roll on roll off (Roro) di lintasan Selat Sunda untuk berhati hati dalam beberapa hari ke depan. 
Kepala KSOP Bakauheni, Agustinus Aruan menyebutkan, himbauan tersebut dimaksudkan untuk memberikan kewaspadaan kepada nahkoda, meski hingga sore ini berdasarkan prakiraan cuaca BMKG maritim Panjang kecepatan rata rata angin di perairan Selat Sunda mencapai 4-5 knot dengan tinggi gelombang mencapai 2-3 meter dan masih normal untuk aktifitas pelayaran.
“Sebab perubahan cuaca di perairan Selat Sunda terjadi setiap saat dan berimbas pada aktifitas olah gerak kapal yang melintas di Selat Sunda,”sebut Agustinus Aruan saat dikonfirmasi Cendana News di kantornya, Senin (27/8/2016).
Menurut Aruan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan operator pelayaran dengan melihat kondisi cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi Geofisika (BMKG) stasiun Meteorologi Maritim Panjang yang secara periodik mengirimkan prakiraan cuaca selama 24 jam setiap harinya.
“Kita lakukan langkah koordinasi dengan beberapa pihak terutama untuk memantau kondisi cuaca ekstrem karena berkaitan dengan keselamatan pelayaran selain himbauan lisan juga tertulis,”sebut Agustinus Aruan.
Dijelaskan, faktor keselamatan kapal Roro selama arus mudik menurut Aruan selain karena kondisi cuaca di perairan Selat Sunda faktor keselamatan di dalam kapal juga telah dilakukan uji petik jauh jauh hari sebelum pelaksanaan angkutan arus mudik dan arus balik. Uji petik dilakukan diantaranya terkait alat alat keselamatan diantaranya life jacket, pelampung, life craft, sekoci dan alat alat keselamatan lainnya.
Meski kondisi cuaca sedang tak bersahabat namun hingga saat ini belum melakukan penundaan keberangkatan kapal di lintasan Selat Sunda. Ia menuturkan terkait penundaan keberangkatan kapal perlu ada kesepakatan antara regulator, PT ASDP Indonesia Ferry, para nahkoda, pihak Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) jika terjadi cuaca buruk di perairan Selat Sunda.
Saat ini pelayaran di Selat Sunda dilayani sebanyak 57 kapal beroparasi dari sebanyak 62 kapal yang disiapkan. Salah satu antisipasi kondisi cuaca gelombang tinggi dan angin kencang pihak ASDP melakukan kebijakan pengoperasian kapal kapal dengan tonase di atas 5000 GT. Kapal kapal di atas 5000 GT tersebut bahkan menurut Aruan akan diterapkan di lintasan Selat Sunda sejak tahun 2017.
“Selama belum diterapkan aturan mengenai ketentuan kapal di atas 5000 GT operator pelayaran yang sudah beroperasi di Selat Sunda diberi kesempatan untuk melakukan pembenahan diantaranya terkait GT kapal,”ungkapnya.
Selain demi faktor keamanan peningkatan GT kapal yang diperbolehkan di lintasan Selat Sunda sesuai aturan Kementerian Perhubungan, upaya tersebut dilakukan untuk mengurai kemacetan selama arus mudik dan balik yang selama ini terjadi di Pelabuhan Bakauheni maupun Merak.
[Henk Widi]
Lihat juga...