KAMIS, 16 JUNI 2016
Deklarasi dukungan yang dibacakan Plt Ketua DPD Golkar DKI Yorrys Raweyai kepada Ahok sebagai calon petahanan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama dalam Pilgub DKI 2017, seperti sambaran geledek di siang bolong pada Selasa, 14 Juni 2016 lalu, di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Jakarta. Tak ada mendung, tak ada hujan, tapi kuping rakyat Indonesia mendadak berdenging dengan gelegar ucapan Yorrys yang didukung Agung Laksono itu.
Dengan sangat percaya diri, Yorrys telah membuat klaim, dukungan ini diberikan berdasarkan hasil kajian dan perbincangan politik yang dilakukan Partai Golkar selama beberapa hari ke belakang. Menurut Yorrys, keputusan dukungan ini telah disepakati oleh DPP Partai Golkar, atas dasar suara rakyat Golkar. Rencananya, keputusan ini akan disosialisasikan kepada seluruh kader Golkar dalam musyawarah daerah (Musda) DPD Golkar DKI pada 19 Juni mendatang. Yorrys merasa, seluruh pengurus dan kader Golkar di DKI harus mematuhinya dan mensosialisasikan ini bersama-sama secara masif.
Sambaran geledek dari Yorrys, ternyata dimentahkan dengan bantahan Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie yang belum merestuinya. Bagi Ical, jika belum ada surat, tidak syah. Surat itu harus dirumuskan dulu bersama DPP Golkar dan wanbin. “Di dalam AD/ART, dinyatakan bagaimana peran wanbin. Jika sudah memilih jalur independen, tak bisa didukung partai,” kata Ical di rumah dinas Ketua MPR, Widya Chandra, Jakarta Selatan, Rabu lalu.
Sementara, Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar terpilih, selalu memuji sepak terjang Ahok. Sinyal-sinyal dukungan pun selalu dia berikan. Bagi Novanto, sekarang yang biasanya ada banjir, enggak ada banjir. Manajemen pemerintahan juga berjalan baik karena Ahok. Lalu, apakah Novanto tetap akan nekat membawa Golkar mendukung Ahok tanpa mengantongi restu Ical?
Apakah Golkar akan kembali pecah seperti beberapa waktu lalu, hanya gara-gara Ahok? Betapa Eman-Eman! Indikasi GOLKAR pecah lagi, bisa kita lihat ketika Ketua Dewan Pakar Golkar Agung Laksono menuding Ketua Dewan Pembina Aburizal Bakrie telah salah dalam melihat wewenang Wanbin yang seolah harus dijalankan DPP. Agung juga keras mengatakan, Ical tak wajib dipatuhi!
Seperti menyiram minyak ke dalam api, Priyo Budi Santoso lantas menyesalkan pernyataan keras Agung Laksono. Priyo meminta Agung Laksono lebih bijak, karena tidak ada yang salah dengan pernyataan Ical. Bahkan, Priyo berani menyatakan, pernyataan Ical itu bukan berarti menolak Golkar mendukung Ahok. Hanya mengingatkan perlunya mekanisme yang benar.
Jika dilihat, Ical memang sengaja mengerem santernya dukungan Golkar ke cagub DKI incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Akibatnya, sikap keras Ical ini memunculkan tudingan, Ical sudah punya jago sendiri di Pilgub DKI, yaitu Sjafrie Sjamsoeddin dan Yusril Ihza Mahendra. “Kalau Islam-nya lebih baik Pak Yusril,” kata Ical.
Saat ini, Golkar jadi panas membara gara-gara Ahok. Seakan, Ahok ibarat alat untuk memecah GOLKAR hingga berkeping-keping. Pertanyaan kita semua, apakah Ahok sudah merupakan alat yang kuat untuk memecah GOLKAR? Secanggih dan setajam apa si Ahok sebagai alat belah?
Pertanyaan saya kepada khalayak Indonesia, terutama pencinta Partai GOLKAR, ibarat dalam dunia bebatuan, partai GOLKAR ini hanya sekadar kerikil, batu granit, batu akik, batu emas, atau batu permata? Sebab, jika GOLKAR ini adalah batu permata, alat pembelahnya pun harus sangat khusus dan sangat canggih.
Ditilik dari sejarah politik Indonesia, GOLKAR ini terus eksis sejak pemilu 1971 hingga sekarang bersama PPP dan PDI (yang kemudian menjadi PDI Perjuangan). GOLKAR selalu berhasil menjadi tiga besar dalam perolehan suara. Sehingga, tidak mungkin jika GOLKAR ini hanyalah kerikil atau Akik. Hanya ada dua kemungkinan, GOLKAR masuk dalam kategori batuan Emas atau Permata.
Jika kita sepakati GOLKAR adalah emas atau permata yang merupakan benda alami “TERKERAS” di muka bumi, maka untuk memotongnya, ahli berlian perlu meletakkan pahat di sisi yang lemah dari batu berlian kasar. Gergaji berlian saja baru diciptakan sekitar tahun 1990-an. Gergaji berlian merupakan bilah berbahan baja dan di lapisi oleh serbuk berlian. Saat menggunakannya, harus menggunakan olive oil, agar potongan berlian bisa sempurna dan tanpa cacat. Beberapa bilah terbuat dari perpaduan fosfor dan perunggu.
Artinya, sangat tidak mudah jika Ahok digunakan untuk memecah persatuan dan kesatuan dalam GOLKAR. Apalagi, menurut peraturan KPU yang terbaru, jika calon gubernur sudah Ikut verifikasi Jalur Independen, Ahok tak bisa pindah dengan dukungan Parpol. Hingga saat ini, klaim KTP dukungan Teman Ahok yang mencapai 1 juta KTP, berpeluang untuk lolos verifikasi terbuka lebar, karena yang dibutuhkan untuk mendaftar sebagai cagub hanya 532 ribu KTP dukungan.
Ketua KPU DKI Sumarno menyatakan, sesuai PKPU, calon independen yang telah ikut verifikasi KTP dukungan tak bisa berpindah jalur. Menurut Sumarno, kalau dukungannya belum diverifikasi boleh, tapi kalau sudah, tidak etis. “Biar tidak salah informasi, tidak dapat diajukan oleh parpol bagi calon perseorangan yang dukungannya sudah diverifikasi (PKPU Nomor 9 Tahun 2015 pasal 32 dan 33),” ujar Sumarno, Rabu, 15 Juni 2016 lalu.
Jalan buntu yang ditemui dalam mengusung Ahok ini, apakah akan membuat ucapan Yorrys dan Agung Laksono akan ditarik kembali?
Dengan tidak memungkinkannya GOLKAR dalam mengusung Ahok, apakah Ical dan Priyo akan mengusung Sjafri Samsuddin dan Yusril Ihza Mahendra? Jika diikuti, Pilkada DKI 2017 semakin menggemaskan dari hari ke hari.
Dengan posisi politik dan hukum yang sangat jelas dituturkan Sumarno di atas, maka pernyataan Yorrys, Agung Laksono, serta Setya Novanto, untuk membawa GOLKAR ke AHOK, bisa jadi hanya menjadi mimpi di siang bolong.
Jika hanya karena Ahok GOLKAR pecah, tentunya sangat memalukan, karena GOLKAR telah teruji sebagai emas dan mutiara. Tanpa Ahok, para simpatisan GOLKAR yakin, tetap akan bersinar dalam blantika politik Indonesia.
Akhir kata, mari kita sepakati bersama, berkat peraturan KPU, keberadaan Ahok yang semula diniatkan sebagai “Alat Pemecah Golkar”, hanyalah merupakan “gergaji usang” yang langsung seketika mengalami Disfungsi.(Thowaf Zuharon)
![]() |