Bangsa Indonsia Harus Berterimakasih pada Bung Karno dan Pak Harto

JUMAT, 17 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Berkait implementasi Pancasila, Wakil Dekan Ill UNY, Kun Setyaning Astuti, menyatakan perlunya kesadaran masyakarat untuk mengakui peran besar Bung Karno dan Pak Harto. Tanpa peran keduanya, bangsa ini sudah tercerai berai dan tak mungkin bisa menjadi Negara Macan Asia seperti yang terjadi di zaman Pak Harto.

Gambar mantan Presiden RI Soekarno dan Soeharto, ditampilkan di layar slide saat Kun Setyaning Astuti memaparkan analisanya terkait implementasi Pancasila. Kun mengatakan, dua tokoh besar itu telah berjasa membawa bangsa ini menjadi besar. Soekarno dengan kecerdasannya telah membawa bangsa Indonesia diakui dunia. Sementara, Soeharto dengan kharisma dan kewibawaannya yang luar biasa kemudian mampu menyatukan seluruh elemen bangsa ini dan menjadikan Indonesia sebagai Negara Macan Asia.
Kun yang hadir dalam diskusi kebangsaan dalam rangka Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bersama Titiek Hediati Soeharto di Gedung Pusat Pelayanan Akademik Fakultas Bahasa Dan Seni UNY, Jumat (17/6/2016), itu mengatakan, Pancasila adalah anugerah Tuhan kepada bangsa Indonesia, sehingga dengan keberagaman dan kekayaannya yang luar biasa ini Indonesia bisa disatukan. Namun, sayangnya kekayaan dan besarnya potensi negeri ini masih belum disadari sepenuhnya, sehingga kebanggaan terhadap bangsa dan negara sendiri masih kurang.
Selain itu, implementasi Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara serta norma kehidupan berbangsa juga masih terdapat kekurangan. Kun mencatat, Sila Pertama Pancasila masih hanya menyisakan diskusi-diskusi keagamaan yang belum diimbangi dengan praktik. Terhadap Sila Kedua, masyarakat dinilai masih kurang berpikir universal, sehingga pemahaman kemanusiaannya masih kalah dengan bangsa lain. Sementara Sila Ketiga, persatuan dan kesatuan bangsa saat ini dinilai hanya formal belaka sehingga perlu ditingkatkan. “Implementasi Sila Keempat dan Kelima juga masih harus didiskusikan dan ditingkatkan implentasinya”, ujar Kun.
Sementara itu, Pengajar Sosial Politik Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Edward Bot, yang hadir dalam diskusi sebagai narasumber kedua menyayangkan, tidak adanya lagi pelajaraan P4 seperti di zaman Pak Harto. Sebenarnya, kata Edward, justru dengan cara menghafal Pancasila dan Butir-butirnya itu Pancasila bisa tertanam di alam bawah sadar masyarakat. Karenanya, Edward menganggap penting pelajaran menghafal itu, karena jika implementasi masih dianggap kurang, setidaknya dengan menghafal tersebut masyarakat masih memiliki ingatan dan kesadaran di alam bawah sadarnya tentang adanya Pancasila.
Menurut Edward, Pancasila kini juga menjadi sangat penting dikuatkan kembali di tengah ancaman iklim liberalisme yang membuat kebebasan berpikir menjadi melampaui batas. Terlebih dengan masih adanya konflik horizontal antar suku dan kelompok, yang menurutnya, membuktikan jika Pancasila pun belum diimplementasikan oleh para pejabat di level pengambil kebijakan. (koko)
Lihat juga...