Warga Reroroja Gali Lubang di Pinggir Kali untuk Dapatkan Air

MINGGU, 29 MEI 2016

SIKKA — Memenuhi kebutuhan air bersih, warga Dusun Mageloo Desa Reroroja Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka, Ubaidah (69) bersama anak dan cucunya Menenteng  ember dan jeriken menuju kali Koro Magepanda. Meski airnya terlihat jernih, namun mereka lebih memilih untuk menggali lubang di bebatuan pinggir kali.

Menggunakan tangan Ubaidah perlahan menggali pasir dan membuat lingkaran selebar 30 sentimeter. Tak lama berselang usai kedalaman 40 sentimeter air pun muncul. Ubaidah bergegas mengambil batu kerikildan menyusunnya di pinggir lubang. Air digayung hinggga beberepa kali hingga terlihat bersih.

Sesudah didiamkan selama 30 menit, menggunakan gayung plastik air di lubang yang sudah bersih digayung guna memenuhi jeriken dan ember kosong yang dibawa dari rumah.

“Setiap pagi dan sore hari kami selalu ke kali ini untuk mengambil air bersih untuk dikonsumsi,” ujar Ubaidah.

Aktifitas tersebut dilakoninya setiap hari karena proyek pembangunan jaringan air bersih yang sudah beberapa kali diadakan di desa tidak berjalan semestinya. Proyek terakhir mengambil air dari sumber mata air di Duli juga tidak berfungsi meski pemasangan pipa sudah dilakukan.

“ Saya bingung kenapa airnya tidak keluar. Lebih baik uangnya dipakai untuk gali sumur saja karena pasti airnya bisa kami nikmati, “ ungkapnya kesal.

Untuk mandi dan mencuci pakaian, warga melakukannya di kali tersebut. Kali selebar 3 meter tersebut saban pagi dan sore hari selalu dipenuhi warga untuk mengambil air minum, mencuci pakaian hingga mandi. Selain itu, kali ini pun dipergunakan juga untuk mandi sapi dan kerbau.

Sejak belasan tahun lalu tercatat 5 proyek pembangunan jaringan air bersih yakni Coremap, PPIP, Pansimas, PNPM dikerjakan di dusun mereka namun semuanya tidak berhasil membuat masyarakat dusun Koro menikmati air bersih.

Dana ratusan juta rupiah yang dianggarkan keuntungannya hanya dikecapi kontraktor dan para pekerja saja serta beberapa aparat yang terlibat dan masyarakat kembali mengandalkan air sumur dan air dari lubang yang dibuat di pinggir kali untuk diminum.

Hal ini disampaikan Emanuel Digu (34), Marsiani (31) dan Yustina Nona Sumiati (33) dan belasan warga dusun Koro yang ditemui Cendana News, Sabtu ( 28/5.2016 ).

Dikatakan Emanuel, seharusnya pihak desa dan pemerintah menunjukan kepada pihak kontraktor dan pekerja lokasi pengambilan air di mata air dan pemasangan jaringan pipa menuju bak–bak penampung dengan benar sehingga air bisa mengalir.

Hampir di setiap proyek, sebutnya, pemerintah hanya membiarkan para pekerja mengerjakannya sendiri sehingga selesai dibangun beberapa bulan kemudian air tidak mengalir.

“ Pemerintah desa dan dinas yang lebih tahu medan dan wilayah harusnya memberitahukan kepada kontraktor bukan membiarkan mereka kerja sendiri dan tanpa dipantau dan didampingi. Pantas saja semua proyek hanya kejar anggaran dan hasilnya tidak ada “ ujar Emanuel.


Dilarang Konsumsi

Marsiani warga lainnya mengatakan, tenaga kesehatan dari Puskesmas di kecamatan Magepanda sudah melarang masyarakat konsumsi air dari lubang–lubang di pinggir kali tersebut karena kotor dan bisa menyebabkan penyakit namun masyarakat tetap tidak memperdulikannya.

Jika musim kemarau terangnya air di lubang–lubang yang mereka gali mengering dan butuh waktu lama menunggu air penuh baru diambil. Semenatara bila musim hujan mereka konsumsi air hujan atau membuat lubang tetapi jaraknya lebih jauh dari pinggir kali.

“Kalau musim hujan biasanya airnya lebih kotor, tidak terlalu jernih apalagi kalau terjadi banjir “ terang Marsiani.

Disaksikan Cendana News di lokasi kali, debit air kali yang mengalir melewati jembatan di pinggir jalan propinsi tersebut menurun drastis. Di sepanjang pinggir kali sebelah barat terdapat puluhan lubang bekas digali.

Beberapa orang dewasa dan anak – anak terlihat mandi di kali serta beberapa ibu rumah tangga dan anak perempuan mencuci pakaian di pinggir kali. Terlihat 6 ekor kerbau juga ikut mandi dan menikmati kubangan lumpur yang mengendap di dasar kali.

Selain itu beberapa lelaki mengambil air menggunakan ember untuk menyiram tanaman sayuran di kebun yang berada di sebelah barat kali.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...