RABU, 18 MEI 2016
BANDUNG—Sejak Februari 2016 lalu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kota Bandung mengelar kegiatan Sekolah Marx. Kegiatan yang berbau komunis ini sempat dibubarkan oleh salah satu ormas Islam pada 9 Mei 2016 lalu.

Sekolah Marx sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam event bertajuk ‘Panggung Seni Demokrasi’. Acara intinya tersebut tetap digelar di Kampus ISBI, Jalan Buah Batu, Kota Bandung, Rabu (18/5/2016).
Pemimpin Umum LPM Daunjati, Muhamad Chandra Irfan menyampaikan kegiatan Sekolah Marx sudah selesai. Hanya saja bukan berarti dihentikan sama-sekali. Dikatakanya, bahkan akan diintregasikan dengan perkuliahan.
“Dalam posisi sekarang menyatakan selesai dengan pertimbangan pematerinya, akan diintergrasikan dengan perkuliahan,” ujar Irfan.
Pada pertunjukan ‘Panggung Seni Demokrasi’ kali ini melibatkan pula gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bandung. Mereka menyatakan sikap, terkait kejadian yang menimpa kampus ISBI selepas kegiatan tesebut dibubarkan oleh Ormas.
“Kami dituduh dengan isu-isu negara yang bergelombang, tolong jangan seperti itu. Kita punya UUD yang jelas,” tukas Chandra.
Sementara itu, Wakil Rektor I ISBI Bandung Benny Yohanes, menyampaikan tujuan sekolah Marx adalah untuk pengembangan wawasan lewat edukasi akademik. Kegiatan ini masuk ke dalam kuliah estetika seni untuk semester empat dan lima.
“Kita ini menjaga di dalam koridor pembelajaran, jadi mahasiswa memerlukan wawasan, dan suatu wawasan itu haru dari sumber yang qualified. Oleh karena itu saya memilih dan menentukan bahwa pemateri diskusi itu adalah para akedemisi yang terkait langsung dengan kreatifitas seni,” papar Benny.
Disampaikan, khusus sekolah Marx pihaknya tidak menafsirkan pandangan tokoh komunis ini ke ranah politik. Namun di ranah pendidikan, yang paling proporsional yakni tentang kreatif seni.
“Bukan untuk titik mobilisasi opini, untuk pengembangan wawasan-wawasan yang sifatnya politik. Setiap individu punya hak politik dan untuk menyalurkannya secara proporsional tapi tidak di kampus,” tukasnya seraya menyatakan kegiatan sekolah Marx ini sudah berakhir. (Rianto Nudiyansyah)