PSDKP Pontianak: Tiga Nahkoda Diduga Kabur dari Pagar Belakang

KAMIS, 12 MEI 2016

KUBU RAYA — Pada 12 April 2016 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Kapal Pengawas (KP) Hiu Macan Tutul 002 menangkap kapal nelayan asing berbendera dua negara, Thailand dan Malaysia di perairan laut Indonesia. Menurut Kepala Stasiun Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak, Sumono Darwinto, setelah penangkapan kapal nelayan asing itu dilakukan proses penyidikan.
“Jumlah krunya 90 orang dan akhirnya kita lakukan penyelidikan sampai hari ini berkas perkaranya dianggap selesai oleh penyidik. Namun pada tanggal 7 Mei 2016 antara pukul 3 hingga 4 dini hari, tiga nahkodanya keluar dari penampungan kami. Sampai saat ini memang belum diketahui keberadaannya dan kami masih mengupayakan untuk mencari keberadaannya dengan memohon bantuan kepada kepolisian imigrasi dan angkatan laut,” kata Sumono Darwinto, Kamis, 12 Mei 2016, di kantor PSDKP Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.  
Sumono Darwinto menjelaskan, sejumlah titik pelarian tiga nahkoda asal negara Thailand ini sudah dipetakan. “Jadi beberapa titik sebagai jalur tempat mereka keluar sudah kita jaga. Seperti pelabuhan umum dan dearah perbatasan sudah kita sebear anggota untuk berusaha mencari biar proses hukumya tuntas. Total 3 orang yang lari dan status sebagai nahkoda dan sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Sumono Darwinto. 
“Lokasi pencarian masih kita upayakan di sekitar Pontianak dan beberapa titik yang biasa kita curigai dan perbatasan dikhawatirkan mereka lari lewat Malaysia baik itu Jagoi Babang dan Entikong dan pelabuhan-pelabuhan,” lanjut Sumono Darwinto. 
Sesuai prosedur, kata Sumono Darwinto pihaknya melakukan pengawasan pada nelayan asing yang berada di PSDKP Pontianak. “Ada ship jaga dan tempat penampungan sementara yang ada di kami totalnya ada 7 orang yang berjaga dalam satu ship. Mereka kabur lewat belakang keluar dan ada bekas-bekas yang kita curigai,” kata Sumono Darwinto.
Sumono Darwinto menduga ada bantuan lain yang meloloskan pelarian tiga nahkoda asing ini. “Besar kemungkinan mereka mendapat bantuan dari pihak-pihak lain yang membatu, karena memang kecil kemungkinan tanpa bantuan dia bisa melarikan diri,” jelas Sumono Darwinto, menduga. 
Kata Sumono Darwinto pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah dengan berbagai pihak. “Sudah kami sampaikan kepada pihak imigrasi untuk antisipasi. Daftar pencarian orang juga menjadi kewenangan  imingrasi. Tahapan kedepan pencarian akan ada tahapannya pencarian DPO akan kita rilis kemedia untuk penyebarluasan dengan bantuan media wartawan dan masyarakat secara umum dan kalau ada kemungkinan kita bisa minta bantuan kepada interpol mengapa tidak. Tetapi tahapannya dulu yang kita lalui,” kata Sumono Darwinto.
Sumono Darwinto mengatakan, sejumlah petugas penjaga secara internal telah lakukan pemeriksaan. “Nanti akan ada pemeriksaan internal dari atasan itu sebuah kosekuennsi logis bahwa kami harus melakukan tahapan-tahapan pemeriksaan saya pikir sebuah kosekuensi bahwa kami harus diperiksa apakah dianggap lalai atau ada hal-hal yang harys dibenahi tapi upaya pengawasan sudah maksimal kami lakukan terhadap orang-orang ini yang ada di tempat kami,” ujar Sumono Darwinto. 
“Hasil pemeriksaanlah yang akan membuktikan apakah ada yang terlibat atau tidak, tapi kami berpikir positif bahwa anggota kami telah melakukan tugasnya secara maksimal sesui SOP masing-masing dan sesuai jadwal-jadwal yang telah ditetapkan. Pukul 8 petugas kami melakukan absensi. Jam 12 makan. Dan jam-jam 3 hingga 4 memang jam-jam lengah. Kalau over kapasiti selama ini kami masih bisa menangani sampai saat ini dan terakhir 122 orang,” kata Sumono Darwinto. 
[Aceng Mukaram]
Lihat juga...