Pola Tanam Terlalu Cepat Hektaran Padi Sawah Membusuk

SELASA, 17 MEI 2016

LAMPUNG — Puluhan hektar lahan sawah milik petani padi di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan mengalami penyakit busuk batang, akar serta daun pada tanaman padi berumur dua pekan. Salah satu petani di Desa Pasuruan, Slamet (40) mengungkapkan, akibat batang tanaman padi yang membusuk dan sering disebut “lodhk” atau “lonyot” mengakibatkan dirinya mengalami kerugian cukup besar. Kerugian dikalkulasi mulai dari biaya operasional menyedot air dengan mesin, pengolahan tanah, upah tanam hingga pemupukan.
Slamet mengungkapkan, ia mulai menanam padi saat curah hujan belum cukup banyak sehingga ia menggunakan mesin sedot dengan biaya mencapai Rp.75ribu per jam. Selain itu pengolahan sawah dilakukan dua pekan sesudah masa panen pada akhir bulan Maret tanpa membiarkan lahan pertanian miliknya memasuki masa istirahat.
“Sudah terlanjur pengolahan tanah dilakukan sehingga masa tanam lebih cepat dibandingkan petani lain akibatnya sekarang justru gagal dan harus dibongkar dan melakukan pengolahan tanah lagi,”sesal Slamet saat mencabuti beberapa batang padi miliknya, Selasa (17/5/2016)
Ia mengakui pola tanam yang salah dengan melakukan pengolahan tanah terlalu cepat diduga menjadi penyebab padi miliknya busuk dan di beberapa bagian petak sawahnya retak retak akibat kekurangan pasokan air. Sekitar satu hektar lahan padi miliknya pun dibiarkan membusuk dan mengering sambil menunggu saat waktunya untuk melakukan pembongkaran.
“Menunggu sekalian ditumbuhi rumput dan akan diolah lagi dengan bajak berbarengan dengan petani lain yang memulai masa tanam di awal Juni,”ungkapnya.
Petani lain yang mengalami hal serupa, Sarjito (42) mengungkapkan membiarkan tanaman padinya busuk dan mati. Ia bahkan telah berkonsultasi dengan penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian untuk mencari solusi. Salah satu solusi diantaranya dengan melakukan perombakan pada tanaman padi miliknya.
“Kalau disulam dengan tanaman baru hasilnya tidak sempurna bahkan disemprot dan dipupuk juga tak akan pulih sehingga harus dirombak dan diolah ulang serta disiapkan bibit baru”ungkapnya.
Penyuluh pertanian di Kecamatan Penengahan, Puji mengungkapkan, di wilayah pertanian di Lampung penyakit busuk batang terdapat di seluruh wilayah baik di daerah dataran rendah, sedang, maupun dataran tinggi. Penyebab penyakit menyerang tanaman pada bagian batang terutama pangkal batang dekat permukaan tanah. Kerugian yang timbul terutama disebabkan secara tidak langsung akibat batang busuk dan tanaman menjadi mudah rebah. Semantara apabila hal ini terjadi pada fase tanaman berbunga atau pengisian menyebabkan pengisian gabah menjadi tidak sempurna bahkan menjadi hampa.
Ia mengungkapkan, biasanya gejala baru tampak jika tanaman sudah menjelang fase pembungaan tapi bisa lebih cepat terjadi bahkan pada saat padi beberapa minggu ditanam. Pada upih luar dekat dengan permukaan air mulai timbul bercak-bercak nekrotik, bercak meluas ke dalam, masuk ke upih sebelah dalam dan ke pangkal batang berwarna hitam.
Pemencaran penyakit terutama terjadi karena sklerotium yang terbawa air. Infeksi dibantu oleh adanya luka. Infeksi permulaan terjadi karena sklerotium yang membentuk apresorium menembus jaringan tanaman. Penyakit berkembang dengan baik terutama pada tanah yang kahat kalium dan mempunyai drainase yang kurang baik. Infeksi dapat terjadi pada semua stadium tanaman.  Infeksi awal biasanya terjadi pada bagian tanaman dekat permukaan air. Gejala diawali dengan adanya bercak kecil berwarna hitam pada pelepah daun terluar. Infeksi parah menyebabkan jaringan pelepah sampai batang busuk dan menyebabkan tanaman mudah rebah.
Pada bagian tanaman yang busuk biasanya banyak terbentuk sklerotium berbentuk butiran berwarna hitam. Sklerotium mampu bertahan lama pada sisa-sisa tanaman dan di dalam tanah, dan  akan menyebar terbawa air
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit tersebut menurutnya disebabkan banyak faktor diantaranya cara budidaya, suhu, kelemban, drainase dan pemupukan. Jarak tanam yang terlalu rapat sangat erat kaitannya dengan suhu dan kelembapan mikro di sekitar kanopi tanaman. Pada suhu dan kelembapan yang tinggi dengan aerasi yang jelek sangat mendukung perkembangan penyakit busuk batang padi.
“Cara budidaya yang salah dengan terlalu cepat masa tanam juga berdampak buruk karena kondisi tanah belum stabil sehingga sudah mulai ditanami dengan tanaman baru”tegasnya.
Kelebihan pupuk nitrogen dan drainase yang jelek sangat membantu perkembangan penyakit, sedang pupuk kalium dan silikat dapat menekan perkembangan penyakit. Adanya luka pada tanaman juga menambah kerentanan tanaman terhadap penyakit. Selama ini belum tersedia varietas padi yang tahan terhadap penyakit busuk batang. Penyebab penyakit meiliki kisaran inang yang cukup luas dan dapat bertahan lama pada sisa-sisa tanaman atau jerami yang terserang, turiang, dan rumput-rumputan.
Ia bahkan menyarankan petani agar bisa bersabar dengan membiarkan lahan sawah “beristirahat” dan membiarkan lahan ditumbuhi rumput agar kondisi sawah menjadi lebih netral dan setelah masa satu bulan lebih bisa dilakukan pengolahan. Penyebab busuk batang diduga salah satu faktornya karena petani terlalu terburu buru melakukan pengolahan lahan sawah setelah masa panen. Dampaknya masa tanam petani tidak bersamaan dan rentan terhadap penyakit.
“Tanah diberi waktu istirahat memiliki tujuan karena meski memiliki modal besar jika pola budidaya salah pun bisa berakibat kerugian”tutupnya.
[Henk Widi]
Lihat juga...