SELASA, 17 MEI 2016
SURABAYA – Tanah yang berada di kawasan semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo mengalami penurunan sebesar 5 cm pertahun, hal ini menurut hasil studi tahun 2010 yang dilakukan oleh Tim Kajian Kelayakan Teknis dan Sosial dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Rencana pengeboran sumur gas baru oleh perusahaan Lapindo Brantas di Desa Kedung Banteng dan Banjarasri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat bencana semburan lumpur, harus mengedepankan pengetahuan teknis, akurasi dan nurani.
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo pun membentuk tim khusus dari ITS untuk mengkaji kelayakan pengeboran tersebut. Seluruh tim pun bekerja keras mulai dari akhir Februari 2016 hingga akhir Mei 2016.
“Itu semua masih diproses untuk verifikasi hasil. Penurunan tanah sudah diukur, ada beberapa tempat yang mengalami penurunan,” terang Ketua Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS, Amien Widodo saat ditemui di Ruang Rektorat ITS, Selasa (17/5/2016).
Selama 1,5 bulan ini Tim peneliti dari ITS telah melakukan pengukuran penurunan tanah, melihat kondisi bawah permukaan, serta survei sosial untuk melihat persepsi masyarakat. Survei tersebut dilakukan di tiga desa yakni, Banjarasri, Kedungbanteng, dan Kalidewer.
“Lokasi yang mengalami penurunan tanah yakni di Jalan Raya Porong. Di lokasi tersebut, ada cekungan yang menyebabkan air menggenang dan tidak mengalir,” jelasnya.
Menurut rencana, tim ITS nantinya akan melakukan tiga kali penelitian guna mengukur tingkat kedalaman tanah.”Tim sudah melakukan dua kali pengukuran dan terakhir akhir bulan ini,” cakapnya.
Selanjutnya, tim ITS juga telah melakukan scan bawah tanah dengan georadar. Alat seperti scanner tersebut bisa menembus 200 meter kedalaman tanah. Jika ada cekungan, retakan atau patahan, akan terlihat pada gravitasinya.
Proses scanning ini dilakukan di sepanjang jalan desa Banjarasri, Kedungbanteng, dan Kalidewer. “Kalau tanahnya retak kemudian dilakukan pengeboran, bisa memperparah keadaan,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).