RABU, 18 MEI 2016
SUMENEP—Sungguh sangat memprihatinkan kondisi dunia pendidikan di daerah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pasalnya dalam menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) para siswa dan guru harus mempertaruhkan nyawa dengan menempati ruangan sekolah nyaris roboh, karena setelah kurang lebih sepuluh tahun sekolah tersebut tidak kunjung diperbaiki.
![]() |
| Suasana siswa sedang melaksanakan Ujian Nasional (UN) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Tambuko, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. |
Sangat miris melihat nasib para siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tambuko, Kecamatan Guluk-Guluk, yang harus berjuang mengikuti Ujian Nasional (UN) dengan menempati bangunan sekolah rapuh dan nyaris roboh. Hal itu merupakan pilihan terakhir, sebab tempat yang bisa membuat tenang para siswa dalam melaksanakan ujian hanyalah gedung sekolah tersebut, sehingga ketika pindah ke tempat lain khawatir peserta tidak konsentrasi pada saat pelaksanaan ujian berlangsung.
“Meskipun harus ditempat yang berbahaya. Alhamdulillah pelaksanaan ujian dapat berjalan lancar, tapi kami juga khawatir jika ada hujan, tetapi beruntung sejak awal ujian tidak turun hujan. Pasalnya atap gedung sekolah sudah bocor, secara otomatis ketika hujan tidak akan bisa melaksanakan ujian,” kata Handoko, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tambuko, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Rabu (18/5/2016).
Disebutkan, bahwa dalam melaksanakan ujian di ruangan sekolah yang sudah tidak layak ditempati tersebut sebenar karena terpaksa, sebab di sekolah itu hanya tinggal dua ruangan yang masih bisa ditempati walaupun kondisinya sangat mengkhawatirkan. Sehingga dalam pelaksanaan ujian berlangsung pihaknya selalu berhati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Jadi walaupun kondisi sekolah sangat tidak memungkinkan, ujian tetap digelar, karena kalau hujan tempatnya ini hanya tinggal satu ruang, sebab yang satunya sudah bocor,” jelasnya.
Para siswa terpaksa harus melawan maut untuk bisa melaksanakan Ujian Nasional (UN), baginya kondisi sekolah yang sudah rapuh tidak menyurutkan semangat dalam mengikuti ujian penentu kelulusan agar nanti bisa melanjutkan pendidikan ke jenjeng lebih tinggi.
Sekolah yang dibangun pada tahun 1974 silam, memang tidak tidak pernah dapat bantuan perawatan maupun rehab bangunan dari pemerintah daerah setempat, sehingga kerusakan semakin lama tambah parah. Akibatnya dari sebanyak enam ruangan hanya tersisa dua rungan yang bisa ditempati, itu kondisinya sudah rapuh dan dinding bagian belakang ambruk, namun pihak sekolah terpaksa mengganti dengan papan kayu.
Pada tahun 2016 ini, sekolah yang rusak untuk tingkat dasar sudah tersisa 225 ruang, sedangkan kondisi ruang kelas Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pemerintah daerah mengklaim sudah banyak yang bagus, dibandingkan dengan tahun 2014 lalu yang jumlah ruang Sekolah Dasar (SD) rusak parah mencapai 438 ruang (M.Fahrul)