Masyarakat Kepulauan Kangean Keluhkan Pemadaman Listrik Bergilir

JUMAT, 27 MEI 2016
SUMENEP — Pemadaman listrik di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sering dikeluhkan oleh masyarakat daerah setempat. Pasalnya pemadaman gilir tersebut sangat menganggu aktifitas warga di saat malam hari, sehingga ketika waktu pemadaman kenyamanan aktifitas terganggu.
Ahmad Rahman, Tokoh Pemuda Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep.
Persoalan kelistrikan di kepulauan seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, agar keberadaan listrik dapat memberikan rasa nyaman kepada masyarakat khususnya di pulau. Karena pemadaman listrik masih kerap terjadi, terkadang sepuluh hari sekali listrik padam dalam waktu semalaman.
“Kondisi pemadaman listrik ini sangat meresahkan masyarakat, sebab itu seringkali terjadi saat aktifitas warga sedang padat, akibatnya ketika listrik padam mereka kebingungan untuk mencari penerangan. Tetapi warga kesulitan mendapatkan penerangan alternatif,” jelas Ahmad Rahman, Tokoh Pemuda Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jumat (27/5/2016).
Disebutkan, bahwa saat ini pemadaman listrik di daerah tersebut waktunya tidak menentu, sehingga masyarakat gelisah dan resah, karena persoalan listrik merupakan kebutuhan vital masyarakat menyangkut soal keamanan terutama di malam hari. Apalagi di waktu yang sama warga juga tidak bisa melakukan aktivitas sama sekali.
“Waktu pemadaman kadang tidak tentu, akibatnya warga tidak bisa mengantisipasi menyediakan penerangan atau listrik cadangan. Jadi pemadaman listrik sepuluh hari sekali, di mulai sore sampai pagi,” jelasnya.
Ironisnya ketika terjadi pemadaman kadang tanpa ada pemberitahuan dari pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN), hal itu memang seringkali terjadi dalam setiap tahun, apalagi jika musim angin pasti pemadaman akan semakin sering dilakukan. Tetapi apibila ditanyakan oleh masyarakat PLN tersebut mengaku mesinnya sedang rusak.
“Jawabannya PLN pasti sangat klasik, mesin rusak, tidak ada minyak bahkan kadang alasan masa kontrak mesin diesel yang ada sudah habis. Jika memang ada yang rusak mestinya diperbaiki, karena warga itu kan bayar setiap bulan,” terangnya.
Dalam pemadaman bergilir waktu nyala listrik juga tidak menantu, kadang sehabis waktu sholat isyak atau jam sepuluh malam baru nyala, padahal aktivitas warga yang padat antara pukul 18.00-21.00 Wib. Tetapi apabila listrik menyala hampir tengah malam sepertinya tidak akan berguna, karena sudah masuk waktunya warga sedang beristirahat. (M. Fahrul)
Lihat juga...