JUMAT, 13 MEI 2016
SURABAYA — Dirobohkannya rumah radio pemberontakan Bung Tomo di Jalan Mawar No. 12-15 Surabaya oleh pihak Jayanata kini berbuntut panjang. Banyak masyarakat yang peduli terhadap bangunan cagar budaya menuntut agar pihak-pihak yang bersalah dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Tidak hanya hukuman yang dilakukan namun juga harus membangun kembali bangunan yang sudah dirobohkan tersebut.
![]() |
| Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf |
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim), Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan, bukti fisik bangunan sejarah penting bagi generasi penerus. Selain membaca buku sejarah, bukti fisik juga penting.
“Selain dilakukan sanksi, pihak yang bersalah harus membangun replika rumah radio pemberontakan Bung Tomo,” jelasnya saat ditemui di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Jumat (13/5/2016).
Gus Ipul sapaan akrab Syaifullah Yusuf juga memberikan contoh ketika datang ke Mekah ada bangunan Ka’bah, datang ke Magelang ada bangunan Candi Borobudur.
“Jadi anak cucu kita tidak hanya membaca sejarah tapi juga ada bukti fisiknya, ini penting,” cakapnya.
Meski diakui Gus Ipul biaya perawatan cagar budaya tidak lah murah, jika pewaris cagar budaya sudah tidak mampu lagi merawat seharusnya bisa berkoordinasi dahulu dengan pemerintah.
“Jangan dijual ke swasta, susah kalau dirobohkan seperti ini,” terangnya.
Sebagai lembaga pendidikan, UMS menyayangkan perobohan cagar budaya ini dengan cara membuat etno-terarium dimana sebuah akuarium yang berisi replika rumah radio pemberontakan.
Perwakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surabaya, Zaki Astofani menambahkan, sebagai seorang mahasiswa dirinya siap mengawal kebijakan negara yang menciderai nilai budaya.
“Harusnya dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya lebih mengawasi lagi cagar budaya, agar kejadian ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.
Sebagai simbol menolak dihancurkannya cagar budaya, Rektor UMS, Dr. Sukadiono memberikan etno-terarium kepada Wagub Jatim dihadapan puluhan mahasiswa UMS agar pemerintah terus mengawasi cagar budaya.
[Charolin Pebrianti]