RABU, 11 MEI 2016
LAMPUNG—Ratusan masyarakat dari berbagai elemen di wilayah Kabupaten Lampung Timur melakukan aksi seribu lilin di Lapangan Merdeka Sribawono Kecamatan Bandar Sribawono Kabupaten Lampung Timur. Aksi tersebut menurut Edi Arsadad selaku ketua aksi mengungkapkan sekitar 500 orang dari berbagai elemen organisasi kemasyarakatan, siswa sekolah dan masyarakat umum yang merasa prihatin dengan merebaknya aksi kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Penyalaan lilin di lapangan Merdeka Sribawono dilakukan sebagai buntut belum terungkapnya kasus kekerasan seksual dan pembunuhan yang menimpa seorang siswa kelas 2 Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Labuhan Ratu. Selain peristiwa memilukan yang menimpa siswa SD tersebut, aksi solidaritas dilakukan sebagai bentuk keprihatinan dengan banyaknya kekerasan fisik,seksual terhadap anak di bawah umur bahkan diantaranya disertai pembunuhan.
“Kami melakukan aksi solidaritas ini untuk mengetuk hati masyarakat,pemerintah agar membuka mata bahwa kasus kasus tersebut harus segera diakhiri dengan langkah nyata melibatkan berbagai elemen”ungkap Edi Arsadad inisiator kegiatan Aksi Seribu Lilin saat dikonfirmasi media Cendana News, Rabu malam (11/5/2016)
Edi Arsadad mengaku prihatin dengan kasus yang menimpa Mistiana sehingga mengunggah peristiwa memilukan yang menimpa gadis tersebut ke jejaring sosial Facebook. Berbagai tanggapan diantaranya peristiwa yang terjadi di Lampung Timur seolah tidak mendapat respon sehingga proses penanganan kasus tersebut terkesan lambat .

Paska mengunggah peristiwa tersebut diakun jejaring sosial Facebook dengan nama Edi Arsadad peristiwa tersebut akhirnya mulai mendapat perhatian dari beberapa pihak.
Mistiana adalah perempuan berusia 10 tahun dari Desa Plongkowati Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Gadis kecil tersebut hilang pada 14 April sepulang sekolah setelah hendak menyusul ayahnya di kebun untuk mengambil getah karet. Namun menurut keterangan teman korban, Mistiana, tidak langsung ke kebun tapi ikut bermain dengan teman temannya di halaman sekolah Taman Kanak Kanak biasa bermain.
Saat itu ada dua orang dengan mengendarai kendaraan bermotor memanggil korban lalu kedua orang tersebut memberikan es krim kepada korban dan kemudian korban dibawa kedua orang tersebut dengan dibonceng sepeda motor.
Keluarga korban yang sempat tidak menjumpai anaknya sang anak akhirnya melaporkan hilangnya korban ke Polsek Labuhan Ratu pada tanggal 15 April. Pada tanggal 17 April seorang pencari rumput menemukan jasad korban di perkebunan karet di sekitaran Way Jepara. Selanjutnya korban dievakuasi oleh petugas dari Polsek Way Jepara namun sampai sejauh ini penyidikan yang dilakukan petugas kepolisian belum menemukan titik terang motif dan pelakunya. Kasus ini hingga saat ini sedang ditangani oleh Polres Lampung Timur.

Melihat kondisi tersebut berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil Tolak Kekerasan Seksual mengadakan aksi Simpatik “Seribu lilin untuk Mistiana. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas atas meninggalnya Mistiana dan mengutuk perbuatan keji dan bejat pelaku pembunuh Mistiana. Aksi diikuti oleh berbagai organisasi diantaranya Serikat Tani Indonesia, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), PBH Peradi Bandarlampung, CB Club Lampung, Ikatan Pemuda Muhamadiyah, LPBH FAS dan masyarakat Lampung Timur.
Selain itu menurut ketua aksi, aksi ini menuntut agar:
1. Aparat kepolisian segera membongkar kasus pembunuhan Mistiana dan pihak berwajib menghukum pelaku pembunuhan Mistiana dengan seadil adilnya sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku agar kejadian ini tidak terjadi dikemudian hari.
2. Pemerintah pusat maupun daerah memberikan perhatian kepada keluarga korban.
3.Pemerintah harus mengesahkan RUU penghapusan kekerasan seksual.
Selain melakukan aksi menyalakan ribuan lilin di Lapangan Merdeka Sribawono, aksi tersebut juga diisi dengan pembacaan puisi oleh Berti Sarova yang merupakan wakil sekretaris jenderal Dewan Pimpinan Nasional Serikat Buruh Migran (SBMI). Dua puisi dibacakan dalam aksi tersebut diantaranya berjudul “Permata Hati Yang Terkoyak” dan “Jeritan Mistiana”.
Menurut Berti, puisi tersebut merupakan bentuk jeritan hati wanita terutama perlakuan terhadap korban pelecehan seksual. Selain itu secara langsung dirinya yang juga memiliki anak mengaku sangat prihatin sehingga menuangkannya dalam bentuk puisi satu diantaranya khusus untuk korban dan masyarakat umum khususnya orangtua dan kaum wanita. Ia bahkan mengaku spontan menulis puisi tersebut dengan linangan air mata.
Pantauan Cendana News selain pembacaaan puisi, penyalaan ribuan lilin para peserta mengenakan pita hitam di kepala dan tangan kiri sebagai tanda berduka dan simbol ketidakberdayaan. Kegiatan 1000 Lilin Solidaritas Untuk Mistiana dilakukan dengan melakukan doa bersama untuk semua korban kekerasan terhadap anak. Kegiatan tersebut mendapat pengawalan dari anggota Polsek Sribawono. (Henk Widi)