MINGGU, 10 APRIL 2016
Jurnalis: Zulfikar Husein / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Zulfikar Husein
ACEH — Dalam bahasa Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama sirih. Orang Aceh menyebutnya Ranub. Tanaman yang satu ini sering dimanfaatkan daunnya untuk dikunyah. Makan sirih atau menyirih, sudah menjadi tradisi turun temurun bagi kalangan masyarakat Aceh.
![]() |
| Daun sirih |
Selain untuk dimakan, daun yang satu ini juga digunakan masyarakat Serambi Mekkah sebagai salah satu sajian untuk memuliakan tamu. Sudah menjadi adat bagi orang Aceh menyajikan sirih ketika ada tamu berkunjung.
Setiap tamu yang datang bersilaturahmi atau pada acara tertentu, akan disajikan sirih bersama buah pinang serta kapur sirih. Pinang, sirih ditambah sedikit kapur sirih dimakan secara bersamaan.
“Sudah menjadi kebiasaan kita, kalau ada acara apapun atau bertamu ke rumah warga, selalu ada sirih sebagai sambutan. Sirih untuk Peumulia Jamee (memuliakan tamu),” ujar Muhammad Usman, warga Aceh Utara, Aceh, kepada Cendana News, Minggu (10/4/2016).
Menurutnya, tradisi Peumila Jamee tersebut sudah ada sejak dulu. Sirih juga sering disajikan untuk menyambut tamu pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad, pertemuan keluarga atau menyambut tamu saat takjiah.
“Kalau kata orang tua, tradisi makan ranub dan memuliakan tamu dengan ranub dalam budaya Aceh merupakan warisan orang-orang terdahulu, ketika Aceh masih dalam masa kerajaan, sampai sekarang masih membudaya,” katanya.
Namun, budaya menyirih atau memulikan tamu ini mulai surut. Terutama di wilayah-wilayah perkotaan. Anak-anak muda dizaman era saat ini kurang suka dengan makanan tradisional yang satu ini. Sehingga, ranub menjadi jarang dijumpai.
“Kalau di desa-desa masih sangat kuat, anak muda juga ikut makan ranub. Di kota anak muda sudah tidak biasa makan sirih, mungkin karena makanan tradisional, namun kalau di acara-acara seperti maulid, itu masih ada disatu dua tempat.” Kata Usman.
Pada acar-acara tertentu, sirih juga digunakan pada tarian tradisional khas Aceh dalam menyambut tamu, Tari Ranub Lampuan. Usai tari, para penari biasanya mengampiri para tamu undangan untuk mempersembahkan ranub.

Bagi tamu yang mengambilnya, harus membayarnya dengan sejumlah uang yang ditaruh langsung oleh sang tamu pada tempat sirih yang disebut Lampuan. Tradisi ini yang hingga saat ini masih menjadi budaya masyarakat Acehd alam memuliakan tamu.