Mantan Penggawa Timnas ini Jual Medali untuk Beli Beras

MINGGU, 10 APRIL 2016
Jurnalis: Rianto Nudiansyah / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Rianto Nudiansyah

BANDUNG — Usianya sudah tah muda lagi, namun semangat Emen Suwarman (76) kepada dunia sepak bola tidak pernah hilang. Pada era 1960-an, sepak bola Indonesia memang sedang mantap-mantapnya.  
Emen Suwarman
Prestasi itu tak terlepas dari kontribusi Emen, yang pernah jadi bagian penggawa tim nasional (timnas) Indonesia pada tahun 1961 hingga 1965. Emen menjadi salah dua penggawa timnas era 1960-an yang masih tersisa, selain Rukman. Lantas apa kegiatan Emen saat ini? 
“Paling saya menikmati saja, kadang lihat-lihat ke lapangan menyaksikan pemuda-pemuda yang bermain bola,” ujar Emen, di Stadion Sidolig, Jalan Ahmad Yani, Minggu (9/4/2016).
Segudang prestasi yang dia raih kala berkostum timnas. Diantaranya, saat meraih gelar juara Merdeka Games di Malaysia dan mendulang medali perunggu pada Asian Games 1962.
“Bahkan tim nasional Jepang kalah sama kita 6-0, Filipina juga kita kalahkan sampai 8-0,” kenangnya.
Sayang prestasi itu tidak diimbangi dengan perhatian dari pemerintah. Sekalipun turut membawa harum bangsa di sejumlah gelaran Internasional, Emen menilai, tak pernah mendapatkan penghargaan yang setara. 
“Setiap ada Menteri datang ke Bandung saya selalu ‘kejar’. Tapi penghargaan dari pemerintah sampai sekarang tidak ada,” kata pria asal Majalengka, Jawa Barat ini.
Ya sebagai mantan penggawa timnas, dia mengaku kondisi ekonominya kurang bercukupan. Bahkan, Emen terpaksa menjual medali, untuk menghidupi keluarga. Tak ada materi yang tersisa dari pengalamannya menjadi pemain sepak bola. Yang ada hanya kenangan dan beberapa piala yang hingga kini masih dia rawat baik.
“Selama saya menjadi pemain nasional, tidak dapat apa-apa selain medali emas, tapi ada yang dijual untuk beli beras. Anak saya kan sembilan,” bebernya.
Dewasa ini, sepak bola domestik memang masih karut marut, mengingat tak lekas kompetisi digelar. Sekalipun ada, hanya pertandingan dengan format turnamen yang dihelat secara singkat. 
Hal ini, diawali ketika ada perseteruan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Imbasnya, sepak bola nasional pun disanksi oleh Federation of International Football Association (FIFA).
“Menpora itu harus mengerti di Indonesia ini olahraga yang paling disenangi itu kan sepak bola, bahkan sampai ke desa-desa,” pungkas Emen. 
Lihat juga...