Perantau Bantu Fasilitas Pendidikan di PAUD Kristo Re Sikka

SABTU, 23 APRIL 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary

MAUMERE — Minimnya fasilitas pendidikan bagi anak-anak TK maupun PAUD di kabupaten Sikka menyebabkan beberapa anak muda  yang merantau dan sukses, tergerak hati untuk membantu. Meski dengan dana seadanya, mereka berhasil menyumbangkan satu set alat permainan luar ruang seperti alat luncur dan ayunan disumbangkan.
Yuston Karwayu (tengah kemeja putih) bersama anak-anak dan biarawati saat pemberian bantuan
Sumbangan yang diberikan tanpa tendensi apapun ini merupakan sebuah gerakan sosial berbagi dari kelebihan guna membantu anak-anak sekolah yang sangat mendambahkan fasilitas penunjang. Meski tidak seberapa, namun sumbangan yang diberikan diharapkan bisa membantu.
Saat ditemui Cendana News usai penyerahan bantuan, Sabtu (23/4/2016) Yuston Karwayu, seorang anak muda yang berprofesi sebagai pengusaha di kota Kupang menjelaskan, sebagai anak muda asli Sikka dirinya tergerak melihat minimnya fasilitas yang ada di sekolah.
“Kami berikan bantuan sebagai wujud nyata kepedulian kami terhadap dunia pendidikan. Bantuan dari pemerintah daerah sangat minim apalagi sekolah swasta di Sikka masih minim fasilitas,” ujarnya.
Disebutkan, pemberian bantuan sudah lama dibahas, namun baru dapat diwujukan saat ini.
“Jika dilihat dari harganya tentu tidak seberapa namun kami memberi sesuai dengan kemampuan kami, anak muda yang peduli pendidikan,” tambah Yuston.
Salah seorang guru di sekolah, Maria Rasdiana mengatakan, sekolahnya bersyukur bisa diberikan bantuan alat permainan yang sudah lama diimpikan. Suster Maria berharap agar bantuan ini bisa memacu pihaknya untuk memberikan pendidikan sebaik mungkin.
Sekolah yang belum lama dibangun ini sebut Suster Maria memiliki 3 ruang kelas dengan jumlah murid sebanyak 32 anak. Kelas Play Group dengan jumlah anak sekolah sebanyak 7 orang berumur 2 sampai 3 tahun.
Sementara itu, kelas A menampung 11 orang anak didik dengan usia 3 sampai4 tahun dan kelas B berjumlah 14 anak dengan umur 4 sampai 5 tahun.Terdapat 6 orang biarawati yang menjadi pembimbing atau guru di sekolah tersebut.
“Kami tidak meminta bayaran mahal karena orang tua murid sangat susah dan kebanyakan menjadi tukang atau penjual pasir dan batu,” terang Suster Maria.
Lihat juga...