SABTU, 16 APRIL 2016
Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Eko Sulestyono
JAKARTA — Dwi Ariyani (36), seorang perempuan penyandang cacat fisik (disabilitas), Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa alasan yang jelas tiba-tiba dirinya diminta turun dan tidak boleh melanjutkan perjalanan dengan pesawat Etihad Airways oleh seorang pimpinan kru awak kabin yang mengatasnamakan perwakilan dari maskapai penerbangan internasional Etihad Airways milik Uni Emirat Arab yang berpusat di Kota Abu Dhabi tersebut.
| Dwi Ariyani |
Perwakilan maskapai Etihad Airways tersebut meminta Dwi Ariyani membatalkan jadwal penerbangannya dengan menggunakan pesawat Etihad Airlines dari Bandara Internasional Tangerang Banten (Soekarno-Hatta) dengan tujuan Geneva International Airport, Switzerland, benua Eropa.
Sebelumnya, Minggu (3/4/2016) yang lalu, Dwi Ariyani mendapat undangan menghadiri acara Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas Internasional yang diadakan oleh sebuah Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bermarkas di Jenewa, Swiss.
Dwi Ariyani berangkat ke Jakara dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 229 dari Bandara Adi Soemarmo, Solo, Jawa Tengah dengan tujuan Bandara Internasional Tangerang Banten (Soekarno-Hatta), Sabtu (16/4/2016), Dwi Ariyani tiba di Cengkareng pada pukul 20:00 WIB.
Selanjutnya pada pukul 22:00 WIB, Dwi Ariyani melakukan proses check in bersama dengan puluhan penumpang lainnya untuk melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan penerbangan maskapai Etihad Airways, berangkat dari Jakarta, Indonesia kemudian transit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dengan tujuan akhir Jenewa, Swiss.
Saat hendak melakukan check in, Dwi Ariyani sempat memberitahukan kepada seorang petugas bandara, bahwa dirinya adalah seorang penyandang disabilitas yang membutuhkan kursi roda untuk masuk ke dalam pesawat. Selama dalam proses boarding, Dwi Ariyani juga diantar oleh seorang petugas ground staff dengan kursi roda untuk masuk ke dalam kabin pesawat Etihad Airways.
Setelah sekiar 20 menit duduk di kabin pesawat, seorang pimpinan kru awak kabin pesawat Etihad Airways tiba-tiba mendatangi dan bertanya, apakah Dwi Ariyani bisa atau tidak untuk melakukan evakuasi terhadap dirinya sendiri apabila pesawat tersebut misalnya mengalami sebuah insiden.
Kemudian Dwi Ariyani menjawab bahwa dirinya memang membutuhkan bantuan atau pertolongan seseorang untuk evakuasi dan hanya bisa berjalan sambil berpegangan. Kemudian pimpinan kru awak kabin tersebut bilang kepada Dwi Ariyani, bahwa dirinya tidak diizinkan ikut dalam penerbangan pesawat Etihad Airways. Alasannya Dwi Ariyani tidak bisa melakukan evakuasi karena hanya bepergian seorang diri dan tidak ada yang mendampingi selama berada dalam penerbangan dari Jakarta-Abu Dhabi-Jenewa.
“Mendengar pernyataan dari pihak perwakilan maskapai Etihad Airways tersebut, saya terkejut dan kecewa, sebab berdasarkan pengalaman saya selama ini tidak pernah ada larangan bagi kaum penyandang disabilitas, namun anehnya setelah saya mempelajari aturan penerbangan maskapai Etihad Airways, saya tidak menemukan aturan yang melarang penyandang disabilitas tidak diperbolehkan naik pesawat tersebut,” demikian dikatakan Dwi Ariyani, Sabtu siang (16/4/2016) di Jakarta.
Akhirnya impian Dwi Ariyani untuk datang dan menghadiri undangan menghadiri sebuah acara Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas Internasional di Jenewa, Swiss dengan menggunakan pesawat Etihad Airways musnah sudah, akibat adanya larangan sepihak dan tanpa sebab yang jelas dari maskapai Etihad Airways.
Meskipun perwakilan pihak manajemen maskapai Etihad Airways di Jakara telah resmi meminta maaf secara langsung kepada Dwi Ariyani dan telah menawarkan rute perjalanan alternatif, namun Dwi Ariyani sudah terlanjut kecewa. Terkait dengan peristiwa yang dialaminya, Dwi Ariyani berharap agar kedepannya peristiwa “diskriminatif” yang menimpa kaum penderita disabilitas seperti dirinya tidak akan pernah terulang lagi.