SELASA, 12 APRIL 2016
Jurnalis : Adista Pattisahusiwa / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Adista Pattisahusiwa
JAKARTA — Pengamat Geopolitik Indonesia dari Global Future Institute (GFI) menilai penggusuran kawasan pasar ikan Luar Batang penjaringan Jakarta Utara tersebut, tak lain untuk upaya menghilangkan atau pengkaburan sejarah.
![]() |
| Hendrajit |
“Bukan soal semata penggusuran Pasar Ikan yang bikin saya gelisah, namun kesan kuat adanya aksi berstrategi, berencana dan berprogram untuk menghilangkan ingatan sejarah terhadap geopolitik Sunda Kelapa, asal muasalnya Kota Jakarta,” Sebut Hendrajit dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News di Senayan Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Akar dari nihilisme modern dan materialisme yang terbentuk dalam kerangka nilai dari kebudayan yakni dengan adanya despiritualisasi atas semua aspek kehidupan dan semua bentuk keberadaan. Maka Tak sedikit orang yang tampak dengan gigihnya melakukan upaya despiritualisasi sistematis.
“Penggusuran Luar Batang yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov DKI) merupakan salah satu bukti nyata betapa telah terjadi Despiritualisasi agama yang kemudian membawa dampak dalam pengambilan kebijakan strategis baik di tingkat pusat maupun daerah,” Paparnya
Dikatakan, bukan saja rakyat kecil jadi korban sekaligus tumbal kepentingan kapitalisme berbasis korporasi dari asing, yang kemudian kawin-mawin dengan para kapitalis komprador lokal, dan didukung oleh kaki-tangannya, yaitu kaum feodal modern yang antara lain bercokol sebagai aparat-aparat birokrasi Pemda DKI.
Lebih Lanjut, Hendrajit menyampaikan bahwa dalam kaitan gusur menggusur tersebut, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hanya sekadar menempatkan diri sebagai puncak gunung es. Untuk itu, Hendrajit menilai Apa yang dikatakan Sejarawan Betawi JJ Rijal memang benar adanya.
“Maka itu saya senang masih ada sejarawan seperti JJ RIzal yang mampu mengkritisi penggusuran pasar ikan melalui sudut pandang yang cukup mengena, bahwa penggusuran tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan pelestarian warisan sejarah dari daerah daerah yang jadi mata-rantai dari Wilayah Sunda Kelapa,” Ungkapnya
Bahkan Hendrajit mengutip apa yang dijelaskan penulis swedia Juri Lina yang mengatakan ‘Kalau ingin menaklukkan sebuah negeri, tanpa melalui sarana militer, cukup lakukan tiga langkah:
Pertama; Kaburkan Sejarahnya. Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa dibuktikan kebenarannya.
Dan yang ketiga; Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.
“Jadi menurut saya, penggusuran wilayah luar batang yang bermukim 352 kepala keluarga diatas lahah 3,3 Hektare itu merupakan prakondisi untuk memusnahkan ingatan sejarah,”tutupnya.