SENIN, 18 APRIL
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rustam / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Umat muslim di seluruh Indonesia tahun ini akan merayakan Bulan Suci Ramadan dan Idul Fitri serta Idul Adha secara bersamaan. Pasalnya, Muhammadiyah pada hari ini, Senin (18/4/2016), menyatakan, berdasarkan pedomannya, Ramadan nanti akan jatuh pada 6 Juni 2016, sama dengan yang ditetapkan oleh Pemerintah.
PP Muhammadiyah tetapkan Ramadan jatuh 6 Juni 2016
Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. DR. Yunahar Illiyas, berdasarkan Maklumat Nomor 01/MLM/I.0/E/2016 Tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1437 Hijriyah, di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro Nomor 23, Yogyakarta.
Perihal penetapan tersebut kemudian dijelaskan oleh Kepala Bidang Hisab PP Muhammadiyah Yogyakarta, Onam Fathurohman, bahwa pihaknya dalam menentukan awal bulan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, dengan kriteria wujudul hillal yang ditentukan oleh 3 parameter yang harus terpenuhi semuanya, yaitu sudah terjadi konjungsi atau ijtimak antara matahari dan bulan, konjungsi terjadi sebelum terbenamnya matahari, dan pada saat matahari terbenam, bulan belum terbenam.
Maka berdasarkan hisab tersebut, kata Onam, ijtimak menjelang Ramadan 1437 Hijriyah terjadi pada Ahad Legi, 5 Juni 2016 Masehi pukul 10.01.51 WIB, yang menunjukkan saat matahari terbenam di seluruh Indonesia, tinggi bulan berada di atas ufuk atau hilal sudah wujud. Dengan demikian, Tanggal 1 Ramadhan 1437 Hijriyah jatuh pada Senin Pahing, 6 Juni 2016 Masehi.
Sedangkan ijtimak menjelang Syawal terjadi pada hari Senin Kliwon, 4 Juli 2016 Masehi pada pukul 18.03.20 WIB, yang menunjukkan saat terbenamnya matahari di Indonesia, tinggi bulan berada di bawah ufuk atau hilal belum wujud. Maka, Tanggal 1 Syawal 1437 Hijriyah jatuh pada Rabu Pahing, 6 Juli 2016 Masehi.
Sementara untuk ijtimak menjelang Zulhijah terjadi Kamis Wage, 1 September 2016 Masehi pukul 16.05.40 WIB, yang menunjukkan saat terbenamnya matahari di Indonesia, tinggi bulan berada di bawah ufuk. Maka, Tanggal 1 Zulhijah 1437 Hijriyah jatuh pada Sabtu Legi, 3 September 2016 Masehi, Hari Arafah (9 Zulhijah 1437 Hijriyah) jatuh pada Ahad Wage, 11 September 2016 Masehi dan Idul Adha (10 Zulhijah 1437 Hijriyaj) jatuh pada Senin Kliwon, 12 September 2016 Masehi.
Dalam penetapan tiga momentum besar bagi umat muslim tersebut, yakni Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, tampak hadir pula salah satu anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Rahmadi Wibowo, serta Ketua Umum PP Muhammadiyah, DR. H. Haedar Nashir, M.Si. Dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya memaknai Ramadan sebagai momentum, bagi umat manusia untuk menghayati, memperteguh nilai-nilai agama dan menjadikan agama sebagai sumber pencerahan bagi kehidupan.
Haedar menegaskan, hal tersebut sangat perlu dilakukan karena saat ini telah terjadi gejala sosial yang disebut gegar budaya dan kemanusiaan universal. Hal demikian, menurutnya, ditandai dengan semakin mudahnya seseorang melenyapkan nyawa orang lain secara keji, seperti mutilasi. Ini menunjukkan, nilai-nilai kebaikan dan keburukan seolah sudah menjadi nisbi.
“Padahal, kita ini adalah negara yang ber-Pancasila dan agamis”. tegasnya.
Selain terjadi gegar kebudayaan dan kemanusiaan universal, sekarang pun tengah terjadi pendangkalan nilai, yang membuat agama hanya berorientasi hiburan saja, sehingga agama hanya menjadi seperti kembang api yang menyala terang, namun tak memberikan pencerahan. Haedar menegaskan, pencerahan yang sifatnya instan itu juga terjadi karena ada penyimpangan-penyimpangan. Misalnya, agama yang hanya dijadikan alat komiditas, alat politik dan kekuasaan. Hal ini, menurutnya, tampak pada seseorang tokoh yang agamis, namun setelah menjadi pejabat nilai agamanya disingkirkan.
Karenanya, lanjut Haedar, dalam momentum Ramadan nanti, pihaknya mengajak kepada para tokoh, aktifis, mubalig dan seluruh agamawan serta umat muslim untuk menghayati kembali nilai-nilai paling sublim, paling fitri dan paling mendalam dari agama, untuk dijadikan nilai-nilai perilaku. Jika hal ini dilakukan, menurutnya, bangsa ini pasti akan mampu menjadi bangsa yang religius. Agama akan mampu menjadi kekuatan kritis, agar masyarakat tidak korup dan menyalah-gunakan kekuasaan, karena agama sudah menjadi denyut nadi kehidupannya.
“Masyarakat juga menjadi matang secara spiritualitas, sehingga menjadi dewasa karena agama, sehingga tidak mudah emosi, tidak mudah konsumtif dan tidak hedonis. Dengan demikian, diharapkan kita akan mampu menjadi bangsa yang berkemajuan”, pungkasnya.