Mengenal Lebih Dekat Museum Alkitab Indonesia

JUMAT, 22 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rustam / Sumber Foto : Miechell Koagouw
JAKARTA –  Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) berdiri pada tanggal 9 Februari 1954 dengan kantor pertama di Jalan Teuku Umar No.34 Jakarta. Prof.DR.Sutan Gunung Mulia adalah tokoh sentral pendirian LAI.  Beliau adalah salah satu tokoh Kongres Sumpah Pemuda I dan II di Jakarta, anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan puncak kariernya adalah menjadi Menteri Pengajaran,  menggantikan Ki Hadjar Dewantara pada kabinet Sjahrir II. Sutan Gunung Mulia bersama Ki Hadjar Dewantara kemudian bahu membahu meletakkan filosofi dasar pendidikan Nasional yang berwawasan kebangsaan.


Pada tahun 1963, pemerintah melarang impor buku-buku dari luar negeri,  termasuk Alkitab. Guncangan dalam negeri akibat pemberontakan G30S/PKI semakin mempersulit LAI untuk mengadakan Alkitab bagi umat kristiani Indonesia. Akan tetapi melalui pengkajian dan perjalanan panjang yang melelahkan, maka maka tepat pukul 09.00 WIB,  tanggal 9 Februari 1966, Sutan Gunung Mulia bersama Mr.Giok P.Khouw, Ny.Tjitjih Leimena, dan Elvianus Katoppo, meresmikan Percetakan LAI di Ciluar Bogor.
Cikal bakal Museum Alkitab Indonesia berawal dengan dibentuknya Unit Perpustakaan dan Biblika oleh LAI pada tanggal 25 juli 2002 di Bogor. Tim penerjemah terus bekerja demi menghadirkan Alkitab bagi umat kristiani diseluruh Nusantara. Kerja keras Yayasan LAI berujung pada diresmikannya gedung baru LAI bersama Museum Alkitab Indonesia di Jalan Salemba Raya Jakarta,  pada tanggal 9 Februari 2012. Peresmian Gedung LAI dan Museum Alkitab Indonesia dilakukan oleh Menteri Agama RI, Suryadharma Ali,M.Si bersama Ketua Pembina Yayasan LAI Pdt.Prof.Dr.P.D.Latuihamallo. 
Pada tanggal yang sama turut dilakukan peluncuran Alkitab raksasa oleh LAI dengan ukuran terbuka 208 x 147 sentimeter, berat 120 kilogram, serta dicetak di atas kertas Alkitab 40 gram oleh Percetakan LAI. Kreasi LAI mendapat apresiasi sekaligus peneguhan oleh Museum Rekor  Indonesia (MURI),  melalui penghargaan No.5313/R.MURI/II/2012 sebagai Alkitab Edisi Study Terbesar di Dunia.
Museum Alkitab Indonesia dan Perpustakaan Biblika didirikan untuk membantu umat kristiani nusantara dan masyarakat umum yang membutuhkan informasi di bidang biblika atau kealkitaban. Museum Alkitab menyediakan koleksi terkait Sejarah Alkitab dan penerjemahannya yang disajikan secara kronologis serta koleksi benda-benda yang ada di Alkitab.
Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan dan Museum Alkitab Indonesia, Bambang Kristanto Sitompul,S.Si, mengatakan Museum Alkitab Indonesia merupakan Museum pertama di Indonesia terkait pembelajaran dan pengkajian sejarah Alkitab di Indonesia. Koleksi yang dimiliki sebagian besar adalah tulisan-tulisan asli berupa naskah asli hingga penemuan arkeologi.
” Hal ini merupakan program edukasi bagi masyarakat tentang sejarah Alkitab dari mulai masuknya sampai terjemahan-terjemahan kuno Alkitab nusantara sejak tahun 1600-an,” terang Bambang kepada Cendana News.
” Pada prinsipnya, museum ini memang untuk pembelajaran umat kristiani seluruh Indonesia, namun pada kenyataannya banyak sekali anggota masyarakat umum yang tertarik dengan sejarah Alkitab sekaligus penerjemahannya keberbagai bahasa di Indonesia. Dan kami tidak menutup diri untuk itu, karena museum ini adalah memang diperuntukkan bagi kepentingan pembelajaran atau pengkajian bagi seluruh rakyat Indonesia,” Bambang melanjutkan keterangannya.
Museum Alkitab Indonesia pun sudah masuk menjadi anggota Asosiasi Museum Indonesia atau AMI. Undangan rutin seminar, lokakarya, maupun berpartisipasi dalam acara pameran bersama kerap diterima pihak pengelola. Pada tahun 2015, Museum Alkitab Indonesia turut berpartisipasi dalam acara pameran koleksi religi nusantara yang diadakan oleh Museum Nasional Jakarta. Dan melalui sistem pengelolaan museum yang baik serta pemilikan koleksi asli terjemahan kitab Kejadian (Perjanjian Lama Alkitab) dari Browerius tahun 1650, Museum Alkitab Indonesia pada tahun 2014 masuk 3 (tiga) besar nominasi Museum Award yang rutin diadakan oleh JELAJAH (Jejak Langkah Sejarah) sebagai Museum swasta terbaik di Indonesia dari 70 museum swasta yang ada.
Ruang pameran milik Museum Alkitab Indonesia terkait sejarah Alkitab dibagi atas tiga bagian. 
Ruangan pameran pertama, memamerkan berbagai koleksi naskah asli Alkitab dari jaman Yunani kuno, sejarah lahirnya penulisan-penulisan naskah menggunakan bahan tinta alami pohon papirus pada tahun 3500 SM di Mesir. Temuan-temuan arkeologi terkait naskah Alkitab, penggunaan huruf-huruf di dunia, gulungan kitab Taurat tulisan tangan dari bahan kulit domba yang ditemukan 150 tahun yang lalu, budaya huruf paku dari Sumeria-Mesopotamia, naskah manuskrip lengkap kitab perjanjian baru sejak abad ke-4 yang ditemukan di Gunung Sinai, Mesir, tahun 1859, sampai sejarah Alkitab Syria sejak abad ke-2 Masehi. 
Namun yang menarik adalah Alkitab tertua ternyata adalah dalam bahasa Arab dari abad ke-8 Masehi yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Yunani dan Ibrani oleh seorang bernama Sa’adja di tahun 942 Masehi. Terkait Alkitab berbahasa Arab, maka Museum Alkitab Indonesia memiliki koleksi Alkitab berbahasa Arab yang masuk ke Indonesia tahun 1985.
Ruang pameran kedua berisi sejarah masuknya Alkitab pertama di Indonesia, sejarah penerjemahan Alkitab pertama kali oleh orang-orang Belanda di Indonesia ke dalam bahasa melayu tinggi dan melayu rendah, Alkitab Marthin Luther berbahasa Jerman tahun 1534, Alkitab berbahasa Belanda milik Ratu Juliana tahun 1900, Alkitab terjemahan Rembrandt yang terbit tahun 1931, sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia sejak tahun 1629-1813, replika Alkitab pertama berbahasa melayu tahun 1629, sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia sejak tahun 1814-1953. 
Ruang pameran kedua juga berisikan  kitab Perjanjian Lama berbahasa melayu aksara Arab tahun 1887, kitab Perjanjian Baru berbahasa melayu baba tahun 1913, sejarah penerjemahan Alkitab berbahasa melayu di Indonesia oleh Bode, Encik Mashohor dan Abdul Ghani bin Tahir, Kitab Perjanjian Lama dalam Bahasa Dayak Ngaju tahun 1858, kitab Perjanjian Baru dalam aksara Madura tahun 1890, Kitab Perjanjian Lama dalam aksara Jawa kuno tahun 1913, kitab Perjanjian Baru dalam aksara Batak Toba tahun 1878, kitab Injil Matius dalam aksara Makassar tahun 1864, terjemahan Alkitab dalam bahasa Sunda, Batak Angkola, Nias, dan Simalungun, sampai sejarah terjemahan Alkitab di Indonesia dalam Terjemahan Baru sejak tahun 1954 hingga sekarang.
Ruang Pameran ketiga adalah kumpulan Alkitab berbahasa daerah dari seluruh Indonesia yang diterjemahkan sekaligus diterbitkan LAI. Berikut beberapa koleksi Alkitab bahasa daerah Nusantara yang sampai sekarang dipergunakan oleh masyarakat masing-masing daerah :
1. Kitab Suci Kabar Kabingahan, bahasa Jawa padintenan tahun 1994.
2. Alketab, bahasa Madura tahun 1994.
3. Cakepan Suci, Alkitab berbahasa Bali tahun 1990.
4. Kitab Suci, bahasa Sunda sadidinten, tahun 2002.
5. Sulat Knino Beno Alekot, Alkitab bahasa Timor dawan tahun 2000.
6. Wuke Susi Watti’u, Alkitab bahasa Talaud tahun 2003.
7. Surat Barasih, Alkitab bahasa Dayak Ngaju tahun 1983.
8. Bibel, Alkitab bahasa Batak Toba tahun 1989.
9. Bibel, Alkitab bahasa Simalungun tahun 1976.
10. Bibel Jamita Na Denggan, Alkitab bahasa Angkola Mandailing tahun 1991.
11. Kitabulah, Alkitab bahasa Minang tahun 2010.
12. Allah Wene Fano Wene, Alkitab bahasa Yali selatan tahun 2000.
13, Ala Wone Mbanak, Alkitab bahasa Lani tahun 2009.
14. Allah Nihyet Mem Tungwatu Nya, Alkitab bahasa Hatam Papua tahun 2009.
15. Buko Sipunenan, Alkitab bahasa Mentawai tahun 2015.
16. Pustaka Si Badia Berita Si Meriah, Alkitab bahasa Batak Karo tahun 1991.
17. Taterisi Uwa Sanbagirmana I Birmiserem, Alkitab bahasa Berik Papua 1993.
18. Ay Atayi, Alkitab bahasa Asmat tahun 1985.
19. Allah Men Gos Dou Menau, Alkitab bahasa Sough Papua tahun 1996.
20. Ankankinem Bebye Ro Fafisu Ine, Alkitab bahasa Biak Papua tahun 1990.
21. Allah Ane Wene Ket Meke Warogo Wokninakhikhe Wene, Alkitab bahasa Balim tengah 
      Papua tahun 1990.
22. Allah Iak Wene’ Get A’Ge Wusogo Wogenebegei Wene, Alkitab bahasa Ngalik Papua tahun 1992.
23. Perjanjian Empai Ceritau Iluak, Alkitab Perjanjian Baru bahasa Serawai Bengkulu tahun 1995.
Bambang Kristanto kembali menerangkan, bahwa penerjemahan Alkitab dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah selain bertujuan memudahkan masyarakat di daerah membaca Alkitab, juga mewujudkan visi mempererat persatuan dalam keragaman nusantara. Visi inilah yang mendasari Museum Alkitab Indonesia melakukan berbagai terobosan sebagai upaya peningkatan pelayanan museum kepada masyarakat luas.
” Kami tidak membatasi pribadi, golongan, maupun kelompok apapun untuk mempelajari sejarah khususnya sejarah Alkitab dan penerjemahannya di Indonesia. Museum Alkitab Indonesia adalah sarana belajar dan menggali informasi, itu intinya,” tandasnya.
” Bahkan pernah ada rombongan dari Ahmadiyah yang memesan paket wisata Alkitab milik kami. Mereka memberikan dukungan apresiasi luar biasa terhadap bukti sejarah serta koleksi-koleksi yang kami miliki setelah berkunjung kesini,” pungkas Bambang.
Animo masyarakat berbagai golongan dan agama terhadap Museum Alkitab Indonesia tercatat sangat besar. Tahun 2015 tercatat Museum Alkitab Indonesia sudah melayani kunjungan wisata Alkitab untuk 107 rombongan dari seluruh nusantara dengan jumlah masing-masing rombongan antara 15 sampai 100 orang. Total keseluruhan pengunjung museum pada tahun 2015 adalah sebanyak 10.000 orang. Untuk menangani para pengunjung, pihak museum memiliki dua orang tour guide dibantu dua orang staff perpustakaan serta dua orang relawan dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta.
Seluruh staff Museum Alkitab Indonesia beserta Perpustakaan LAI mengharapkan hasil yang lebih positif dari tahun 2015. Cara mencapainya saat ini adalah dengan pendekatan pelayanan secara personal bagi semua kelompok usia, golongan, agama, maupun suku agar tidak lagi menganggap bahwa museum itu terkesan kaku dan membosankan untuk dikunjungi. Dengan cara ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus menjadi salah satu cara memajukan industri pariwisata nasional dari sektor wisata religi.
” Mengapa ruang lingkupnya nasional, karena selain dari wilayah Jabodetabek, maka pengunjung kami juga berasal dari seluruh nusantara. Semoga usaha kami dalam meningkatkan pelayanan masyarakat bisa memberikan sumbangsih positif bagi pembangunan sektor pariwisata nasional dan DKI Jakarta khususnya,” Bambang Kristanto mengakhiri penjelasannya.
Eksistensi sebuah bangsa turut ditentukan juga dari bagaimana cara bangsa tersebut menghargai, mempelajari, sekaligus menggali informasi sejarah milik bangsa itu sendiri. Dari situ maka akan lahir rasa memiliki dan mencintai sejarah bangsa apapun konteks dan jenisnya, karena sejarah adalah jejak langkah suatu bangsa dalam menyatukan keragaman yang dimiliki rakyatnya.
Lihat juga...