Hari Kartini, 40 Dokter Periksa Mulut Napi Sleman

KAMIS, 21 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rustam / Sumber Foto : Koko Triarko
YOGYAKARTA — Memperingati Hari Kartini, 40  dokter gigi wanita menyambangi narapidana (napi)  Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A, Pakem, Sleman, Yogyakarta,  Kamis (21/4).  Mereka memberikan pemeriksaan gigi secara gratis sebagai wujud kepedulian kepada warga binaan.

Dokter gigi memeriksa gigi Napi Lapas Narkotika Pakem
Secara bergantian, sekitar 100 orang  warga binaan Lapas Narkotika Pakem menjalani pemeriksaan gigi gratis yang diadakan oleh 40 dokter gigi dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kabupaten Sleman. Puluhan dokter wanita dengan busana adat Jawa tampak tidak canggung memeriksa warga binaa Lapas, sehingga keberadaan mereka pun disambut antusias oleh para napi. 
Kendati pemeriksaan tak bisa berlangsung lama karena sifat pecandu yang cepat bosan dan tak bisa dipaksa, namun proses pemeriksaan gigi berlangsung lancar.
Koordinator Kegiatan Hari Kartini PDGI Sleman, Drg. Ratih Indriasari, mengatakan, aksi pemeriksaan gigi gratis bagi warga binaan Lapas Narkotika Pakem sengaja dilakukan karena selama ini para napi tak memiliki banyak kesempatan untuk berbaur dengan orang lain.  “Maka, di Hari Kartini ini kita ingin berbagi bersama mereka, ” ujarnya.
Ratih mengatakan, dalam pemeriksaan itu pihaknya hanya melakukan pemeriksaan secara visual dan umum saja. Pihaknya pun juga tak diperkenankan memberikan obat, karena bagi napi narkotika ada ketentuan khusus terkait penggunaan obat.  Berbagai batasan dalam pemeriksaan gigi tersebut, menurutnya, juga dilakukan karena para napi dianggap rentan terhadap penyakit menular. 
Namun demikian, pemeriksaan secara umum tersebut bukan berarti tanpa hasil. Sebaliknya, dalam pemeriksaan itu diketahui banyak masalah kesehatan gigi dan paling banyak adalah gigi berlubang. 
Ratih menjelaskan, gigi berlubang itu disebabkan karena sisa-sisa makanan yang mengendap di sela gigi yang kemudian dalam waktu lama menjadi asam dan menggerogoti gigi. “Jadi tidak benar kalau ada yang menganggap bahwa gigi berlubang itu karena ulat,”  katanya.
Muhammad Ali Syeh Bada
Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A, Pakem, Muhammad Ali Syeh Bada, mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik dengan aksi dokter gigi tersebut. Aksi tersebut setidaknya bisa membuat para napi merasa dipedulikan dan tidak ditinggalkan. Selain itu, lanjutnya,  para napi juga diharapkan bisa lebih memahami pentingnya  kesehatan gigi.
Selama ini,  kata Ali,  di Lapas sendiri juga sudah tersedia poliklinik gigi dan umum, yang setiap hari bisa diakses oleh para napi secara  gratis. Dengan satu orang dokter gigi dan satu orang dokter umum,  sebanyak 168 napi dan 35 tahanan selama ini bisa terlayani dengan baik.  “Sementara jika memang ada yang membutuhkan perawatan medis yang lebih serius,  kita akan merujuknya ke rumah sakit,”  pungkasnya. 
Lihat juga...