SABTU, 30 APRIL 2016
JAKARTA — Galeri Batik Indonesia berada satu area dengan Museum Tekstil Jakarta di Jalan KS Tubun No.2-4 Jakarta barat. Galeri Batik berada dibawah naungan Yayasan Batik Indonesia (YBI). Berawal dari piagam UNESCO pada tanggal 30 September 2009 yang mengakui Batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia, maka diresmikanlah Galeri Batik Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2010 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Ir.Jero Wacik,SE. Di hari yang sama, pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober 2010 sebagai Hari Batik Nasional.

Galeri Batik Indonesia saat ini memiliki susunan kepengurusan periode tahun 2014-2016 sebagai berikut :
Kepala : DR. Tumbu Ramelan
Sekretaris : Inne Anastasia, SS
Bendahara : Kunti Wardhana, BSC. MA
Anggota : Dra. Suwarti Kartiwa, MSc,
Ina Saptarina,MSc,
Ir.Roosediana Renny ST,
Komarudin Kudiya, SIP.M.Ds
Afif Syakur.
Galeri Batik berusaha melakukan berbagai promosi dalam upaya menyeragamkan minat masyarakat Indonesia terhadap batik. Presiden kedua Republik Indonesia HM Soeharto sejak awal pemerintahannya, selalu memberikan contoh dengan mengenakan busana batik pada kesempatan acara, baik kunjungan kenegaraan maupun acara kenegaraan tertentu. Akan tetapi seiring perjalanan waktu, ternyata tetap dibutuhkan inovasi dan peran serta masyarakat dalam mengusung batik sebagai busana yang membumi di Indonesia.
Sinergi antara Yayasan Batik Indonesia, Museum Tekstil Jakarta, dan Galeri Batik Indonesia membuahkan sekaligus menghadirkan koleksi batik yang diikuti dengan program-program promosi tematik yang menarik. Salah satunya adalah pameran motif Lurik atau ‘Garis-garis bertuah’ koleksi Nian S.Djoemena dan motif sekar jagad khas Tanah Jawa yang menyimpan makna kecantikan dan keindahan yang mempesona orang yang melihatnya.
Eti Herawati, Staf Galeri Batik mengatakan pergelaran pameran yang diadakan galeri batik, selalu dibarengi dengan workshop membatik bagi pengunjung sekaligus memberikan kesempatan bagi seniman batik, memamerkan karyanya secara periodik di ruang pameran khusus.
“Sebenarnya kami memberi kesempatan pameran maksimal tiga bulan. Akan tetapi bisa lebih dari itu. Semua tergantung Ibu ketua, baik pertimbangan sekaligus pengambilan keputusan ada ditangan beliau bersinergi dengan jajaran pengurus yang lain,” terang Eti kepada Cendana News.
” Untuk saat ini koleksi-koleksi kami terdiri dari batik Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan batik daerah lainnya milik Yayasan Batik Indonesia, koleksi Ibu Tumbu Ramelan, ditambah dari kolektor batik lainnya,” lanjut Eti lagi.
Galeri Batik Indonesia mewadahi promosi semua motif batik nusantara, atau dengan kata lain menghimpun semua motif batik dari Sabang sampai Merauke. Salah satu contoh adalah Batik Jakarta dengan ciri khas bunga. Namun satu yang masih menjadi kendala adalah kepastian motif batik asli Betawi. Selama ini ada persepsi bahwa motif batik asli Betawi yang beredar adalah motif batik daerah pekalongan yang kemudian diklaim sebagai batik khas Betawi.
“Belum ada kepastian atau kejelasan, padahal kami benar-benar menunggu kesempatan memamerkan batik asli Betawi. Sangat disayangkan jika tidak kunjung ada kepastian,” jelas Eti terkait motif asli Betawi.

“Menurut saya, semua pihak terkait harus memulai dari awal lagi dengan melakukan kajian, penggalian budaya, lalu duduk bersama menentukan motif asli betawi yang sebenarnya,” tambahnya.
Selain mengadakan pameran, galeri batik juga mewadahi workshop batik bersinergi dengan museum tekstil Jakarta. Pengurus Yayasan Batik Indonesia, beserta seluruh jajaran pengurus maupun staf Galeri batik, turut memberi apresiasi positif dengan masuknya kurikulum membatik di sekolah.
“Mulai memperkenalkan batik sejak anak usia sekolah adalah sangat penting, agar saat beranjak dewasa nanti tumbuh rasa cinta dan memiliki akan batik Indonesia,” pungkas Eti.
Galeri Batik Indonesia merupakan embrio dari sebuah impian membangun Museum Batik, dimana nantinya batik dari seluruh nusantara disajikan untuk diminati masyarakat luas. Apalagi setelah batik diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya, tuntutan akan adanya sebuah museum batik di Jakarta sebagai pintu gerbang Indonesia makin besar. Oleh karena itu, bekerjasama dengan kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka Galeri Batik akan memiliki Museum Batik sendiri di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pertengahan tahun 2017 mendatang. (Miechell Koagouw)