SABTU, 30 APRIL 2016
JAKARTA —- Dengan melihat maka akan tahu, dengan menyentuh maka akan merasakan, dan dengan melakukan maka akan mendapatkan pengalaman berharga. Hal ini yang diungkapkan Apon Nurhayati, guru kelas V SDIT Citra Nuansa (Sekolah Dasar Islam Terpadu Citra Nuansa) Cileungsi Bogor saat ia menjadi guru pendamping anak-anak didiknya dalam program kunjungan belajar ke Museum Tekstil dan Galeri Batik Indonesia, Jakarta.

SDIT Citra Nuansa membawa 182 orang siswa kelas IV dan V ditambah 16 orang guru pendamping. Para siswa dibawa mengelilingi museum tekstil dan galeri batik untuk mengenal sekaligus mempelajari sejarah batik sebagai budaya asli milik Indonesia. Beragam koleksi motif batik dari seluruh Indonesia, berikut koleksi museum berupa kain-kain tradisional khas Indonesia lainny, seolah memberi sensasi pengalaman baru bagi para siswa.
Akan tetapi tujuan mereka sebenarnya bukan sebatas sebuah sensasi pengalaman menarik semata. Program kunjungan belajar di lapangan atau disebut field trip, merupakan kegiatan belajar di luar sekolah secara terintegrasi. Maksudnya adalah, dengan satu kali kunjungan belajar, diharapkan siswa sudah merangkum beberapa mata pelajaran sekaligus. Dengan kunjungan belajar ke Museum Tekstil dan Galeri Batik Indonesia, maka siswa sudah merangkum tiga mata pelajaran sekaligus, yaitu mata pelajaran SBK (Seni Budaya Keterampilan), IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dan Bahasa Indonesia.
Mengenal budaya batik berkaitan dengan mata pelajaran SBK (Seni Budaya Keterampilan). Di sini siswa mempelajari apa itu batik, bagaimana sejarah panjang kelahiran seni batik di Indonesia, serta motif-motif batik apa saja yang dimiliki Indonesia untuk kemudian ditutup dengan praktek membatik.
Selanjutnya, mengikuti workshop batik berkaitan dengan mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Pada bagian ini, siswa diajak mengenal bahan-bahan pewarna alami maupun buatan yang digunakan untuk melukis motif batik diatas kain. Terakhir, para siswa harus merangkum hasil kunjungannya dalam sebuah laporan lengkap terkait batik untuk diserahkan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
” Dibalik semua proses pembelajaran, ada sebuah misi bahwa dimana pengenalan seni dan budaya bangsa harus dimulai sejak usia dini. Jika terbiasa mempelajari, melihat, dan melakukan, maka suatu saat akan berujung pada proses keinginan untuk mendalami seni dan budaya itu sendiri. Jika sudah sampai di tahap ini, artinya sudah terpatri rasa memiliki dan mencintai seni dan budaya bangsa sendiri,” jelas Apon kepada Cendana News.

Siswa SDIT Citra Nuansa tampak sangat menikmati kunjungan mereka. Masing-masing tampak menyimak dan mencatat keterangan para pemandu wisata sambil sesekali usil menyentuh koleksi-koleksi batik yang dipamerkan. Sebuah pemandangan akan perilaku alami anak-anak di alam keingintahuan mereka yang penuh warna.
Rombongan akhirnya tiba di ruangan workshop batik. Mereka pun dipecahkan menjadi beberapa kelompok kecil berisi lima sampai enam orang siswa. Para instruktur memberikan kain yang sudah diberikan sketsa motif batik terlebih dahulu. Sebelum memulai proses membatik, siswa diberikan pengarahan untuk menentukan warna apa saja yang cocok digunakan untuk membatik tanpa ada penekanan untuk membatasi imajinasi masing-masing siswa.
” Kami membiarkan kreatifitas mereka berkembang dengan sendirinya. Sketsa yang sudah kami gambar terlebih dahulu diatas kain hanya sebagai panduan. Intinya biar mereka mengenal terlebih dahulu karena itu adalah awal sebelum menekuni sesuatu,” terang Tantri salah seorang guru pendamping.
Ada sebuah harapan besar dari Apon Nurhayati dan Tantri dibalik kunjungan belajar mereka bersama anak-anak didiknya ke museum tekstil dan galeri batik. Keduanya sama-sama memiliki keprihatinan, yakni sejujurnya, museum-museum masih banyak yang sepi dari pengunjung. Hal ini akan menjadi masalah besar kedepannya mengingat museum merupakan sarana pelestarian sejarah suatu bangsa. Jika generasi penerus tidak memiliki minat untuk mengunjungi museum maka generasi muda saat ini hanya akan menjadi generasi penikmat mimpi dan modernisasi lewat internet saja.
Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk turut serta menumbuhkembangkan minat mengunjungi museum pada anak sejak usia dini. Adalah penting untuk menemukan formula promosi efektif sekaligus penerapannya. Salah satu yang dapat dicoba adalah dengan menggali rasa ingin tahu yang dimiliki seorang anak.
” Jika ingin mereka gemar mengunjungi museum, maka pihak museum harus tahu dulu hal-hal apa saja yang bisa membangkitkan keingintahuan seorang anak. Maksudnya begini, anak-anak itu suka sesuatu yang menarik, aneh, dan belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Maka pakailah hal tersebut untuk menarik perhatian mereka,” jelas Apon Herawati.
” Kami melihat program workshop batik yang diadakan Museum Tekstil dan Galeri Batik Indonesia merupakan upaya kreatif menarik minat anak-anak maupun remaja mengunjungi museum. Karena membatik itu menarik dan belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Setelah itu, tinggal bagaimana mengembangkan imajinasi dan kreatifitas membatik dari sekedar hal menarik menjadi : membatik itu keren dan gaul banget di mata anak-anak usia dini dan remaja,” pungkas Apon. (Miechell Koagouw)