JUMAT, 1 APRIL 2016
Jurnalis : Rustam / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Rustam
KENDARI — Bendungan Wawotobi yang diresmikan Soeharto, Presiden RI ke 2 pada tahun 1983, mendadak ramai didatangi warga. Mereka mengecek informasi isu meluapnya sungai Konaweha yang terletak di Kabupaten Konawe, Provinsi Sultra.
![]() |
| Bendungan Wawotobi |
Kepanikan itu terjadi karena Kabupaten Konawe diguyur hujan tanpa henti. Termasuk kabupaten yang dilalui Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweha, mulai Kolaka Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe Utara.
“Banyak warga mendatangi bendungan Wawotobi, mulai dari pagi sampai sore kemarin. Mereka dapat informasi bahwa Sungai Konaweha meluap, ada banjir,” kata Muliadi, salah seorang warga yang tinggal di Unaaha, Ibukota Kabupaten Konawe, Jumat (1/4).
Warga Kabupaten Konawe mengalami trauma banjir. Pada tahun 2013, Sungai Konaweha meluap sehingga merendam lokasi perumahan, persawahan dan perkebunan. Akibat peristiwa itu, warga mengalami kerugian besar.
Padi sawah yang sudah siap panen, terendam air, akibat air sungai meluap.”Kalau air Sungai Konaweha naik, petani sawah mulai was-was lagi. Jangan sampai banjir lagi. Banjir tahun 2013, semoga jangan terjadi lagi,” harap Jepi, salah seorang petani sawah di Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe.
Informasi yang diperoleh dari Ridwan Tabara, Kepala Seksi Pengaturan dan Pembinaan Bidang Sumberdaya Air, Dinas PU Kabupaten Konawe, ketinggian air bendungan Wawotobi masih kategori normal.
Berdasarkan pemantauan hari Kamis (31/3), ketinggian air pada pagi hari 170 cm, pada sore hari naik menjadi 210 cm. Kemudian naik lagi pada saat malam menjadi 250 cm.
Bila ketinggian air sudah mencapai 300 cm, barulah dapat dinyatakan kondisi siaga. Jika melihat peristiwa banjir tahun 2013, ketinggian air di bendungan Wawotobi mencapai 320 cm.