JUMAT, 8 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Hujan ekstrim sepanjang bulan ini di Yogyakarta dan sekitarnya telah merusakkan banyak talud di sepanjang sungai di dalam kota. Tidak kecuali, talud yang dibangun sebagai proyek percontohan internasional dari program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK), di kampung Karangwaru Lor RT 05 RW 02, Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta. Sebagian dari Talud Sungai Buntung sepanjang 126 meter itu tergerus air selebar kurang lebih 2 x 3 meter persegi.
![]() |
| Talud yang ambrol |
Ambrolnya sebagian talud Sungai Buntung di Kampung Karangwaru Lor, terjadi sejak sebulan lalu. Namun, hingga kini belum diperbaiki. Menurut Sekretaris Tim Inti Perencanaan Partisipatif PLPBK Karangwaru, Bandono, belum diperbaikinya talud tersebut diperkirakan karena menunggu stabilnya arus sungai. Pasalnya, sebelum ditinjau dari sejumlah dinas terkait, warga sudah memperbaikinya secara darurat dengan menutupnya menggunakan material pasir dan menutupnya dengan bambu, namun kembali ambrol akibat gerusan air.
Bandono yang ditemui Jumat (8/4/2016) mengatakan, ambrolnya talud tersebut, sebenarnya cukup mendesak untuk segera diperbaiki. Karena jika dibiarkan terlalu lama, air akan semakin menggerus ke dalam dan mengancam jalan kampung serta sebagian rumah yang ada di dekatnya. Apalagi, katanya, talud itu merupakan kawasan percontohan program PLPBK, yang mulai dibangun sejak 2009-2010.
![]() |
| Bandono |
Dijelaskan Bandono, talud yang ambrol di kampung Karangwaru Lor merupakan satu dari enam segmen atau lokasi pembangunan kawasan PLPBK Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya di Kampung Karangwaru. Segmen Satu meliputi pembangunan talud di kanan dan kiri Sungai Buntung sepanjang 126 meterpersegi. Juga membangun kawasan taman bermain dan jalan setapak. Dalam pembangunan itu, sejumlah warga merelakan sebagian tanahnya dan merubah muka rumah dari yang sebelumnya membelakangi sungai, menjadi menghadap ke sungai.
“Butuh waktu hampir setahun untuk menumbuhkan kesadaran warga untuk membangun kawasan sungai yang bersih itu”, ujar Bandono.
Program PLPBK, lanjut Bandono, tidak hanya membangun fisik kawasan sungai, namun juga pembangunan sosial dan ekonomi. Merubah pola pikir dan pola hidup masyarakat bantaran sungai, yang semula menjadikan sungai untuk membuang sampah, menjadi halaman depan rumah yang bersih, indah dan aman. Sebelum ada program PLPBK, kata Bandono, kampung tempatnya tinggal itu terkenal paling kumuh dan merupakan endemik dengue demam berdarah.
Sementara itu, enam segmen pembangunan PLPBK di Kampung Karangwaru disediakan dana bantuan sebesar Rp. 29, 7 Milyar. Ada pun dana yang telah digunakan untuk pembangunan segmen pertama sebesar Rp. 700 Juta. Dari enam segmen, empat di antaranya merupakan bangunan talud dan kawasannya, sedangkan dua segmen lainnya dibangun sebagai kawasan Taman Ruang Terbuka Hijau dan Komplek Kuliner sebagai pemberdayaan ekonomi warga. Mengingat pentingnya pembangunan PLPBK, Bandono berharap agar talud yang ambrol segera diperbaiki, apalagi di Kampung Karangwaru terdapat tiga titik retak di talud Sungai Buntung yang cukup membahayakan.
