Panen Hujan Warga Mulai Tampung Air di Tandon

LAMPUNG-Musim hujan yang turun di Lampung Selatan sekitarnya pada bulan awal April di sejumlah wilayah Provinsi Lampung memberi dampak positif bagi masyarakat terutama yang berprofesi sebagai petani untuk melakukan masa tanam. Selain digunakan untuk pasokan air untuk bercocok tanam sebagian warga mulai memanen air hujan yang digunakan sebagai sarana untuk mandi,mencuci dan keperluan lain.

Kesadaran untuk melakukan pemanenan air hujan tersebut mulai dilakukan oleh warga Desa Kelawi yang berada di Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah yang berada di perbukitan dengan jenis tanah kapur dan sulit memperoleh air saat musim kemarau membuat warga menampung air di tandon tandon yang dibuat secara permanen,drum plastik,serta tandon tandon buatan yang dibuat secara swadaya.

Salah satu warga Dusun Kepayang Desa Kelawi,Radmiadi,mengaku bersama warga lain berinisiatif membuat tandon atau bak penampungan air yang dipergunakan untuk menampung air hujan serta air dari sumur bor. Ia mengaku kesulitan memperoleh air saat musim kemarau mendorong ia dan warga lain melakukan pembuatan bak penampung air.

“Kami membangun bak penampungan air dengan dua keperluan satu untuk penampungan air hujan dan tandon lain dipergunakan khusus untuk air sumur bor”ujar Radmiadi saat dikonfirmasi media Cendananews.com Selasa (12/4/2016)

Tandon yang dibuat dengan cara gotong royong atas inisiatifnya tersebut berangkat dari keprihatinan warga yang harus membeli air dari penjual air keliling dengan harga Rp75ribu per 1000liter yang dipergunakan selama empat hingga lima hari. Banyaknya warga yang masih membeli air diakibatkan warga kesulitan membuat sumur tanah yang harus digali dengan kedalaman hingga 15 meter lebih dan kering saat musim kemarau sehingga air tanah sulit diperoleh.

Selain mendapatkan air dengan cara membeli dari penjual air keliling,warga memperoleh air bersih dengan membeli air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan sistem berlangganan yang ikut mengalami penurunan debit pada musim kemarau.

Radmiadi mengaku kapasitas bak penampungan air hujan dan air dari sumur bor yang sedang dibuat mampu menampung air bersih dan air hujan yang ditampung dengan kapasitas mencapai 10.000 meter kubik. Minimnya dana swadaya membuat pembuatan bak penampungan masih dilakukan dengan ukuran kecil dan ia berniat akan membuat bak atau tandon yang berukuran lebih besar.

Setelah bak penampungan selesai Radmiadi mengaku akan membuat instalasi penyaringan air hujan sehingga air yang tertampung sudah benar benar bersih dan diendapkan untuk disimpan dalam bak penampungan khusus. Air hujan yang ditampung selanjutnya bisa dipergunakan untuk keperluan warga khusus untuk mandi dan mencuci. Sementara bak penampungan khusus air dari air sumur bor dipergunakan khusus untuk minum dan memasak.

“Sumur bor telah diselesaikan dan bak penampungan sedang dibuat untuk menampung air bersih yang akan dipergunakan oleh warga dengan cuma cuma tanpa harus membayar”ungkap Radmiadi.

Antisipasi musim kemarau dengan membuat tandon air juga dimaksudkan Radmiadi agar wilayah yang selama ini kesulitan memperoleh air dan harus membeli tak lagi kesulitan air bersih. Ia mengaku meski membuat penampungan air dengan swadaya murni dari kantong sendiri dan bantuan tenaga namun ia tetap tidak akan mengkomersilkan air bersih yang saat ini ditampungnya.

“Instalasi air bersih akan dibangun dengan adanya bak penampungan dan nanti akan disiapkan kran khusus agar warga bisa mengambil air bersih dari bak penampungan ini dengan syarat pengambilan bukan untuk dijual kembali,”ujar Radmiadi.

Kepala Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Syarifudin, saat dikonfirmasi media Cendananews.com mengaku sudah menghimbau warga untuk melakukan “pemanenan” air hujan dengan membuat bak bak penampungan sebagai antisipasi kesulitan air bersih untuk berbagai keperluan.

Ia bahkan telah melakukan sosialisasi pembuatan instalasi pemanfaatan drum bekas dan drum plastik yang dimodifikasi menjadi alat penjernih dengan alat sederhana dari kerikil,batu,pasir,arang serta sabut kelapa.

“Penjernihan air dengan beberapa bak penampung selama musim hujan diharapkan bisa mengurangi pengeluaran uang warga untuk membeli air bersih terutama untuk mandi”ungkap Syarifudin.

Ia juga menegaskan tengah mengusulkan pembuatan bak penampungan air bersih dan pembuatan air bersih dari bantuan pemerintah meski belum terealisasi. Tetapi dirinya menyambut positif warganya yang memiliki dana lebih untuk pembuatan penampungan air agar saat musim kemarau warga tak mengalami kesulitan air bersih.

“Membuat bak penampungan berarti memanen air selama musim hujan dan menabung air agar saat kemarau warga tak kesulitan air bersih dan harus membeli namun istilah ini belum begitu dikenal karena hanya sebagian warga yang menerapkan,”ungkapnya.

Pemanenan air hujan yang ditampung warga menurut Syarifudin harus dilakukan sebagai sebuah gerakan bersama yang selama ini kurang diperhatikan. Sebab ia mengkalkulasi sistem penampungan air selama musim hujan mampu menghemat pengeluaran uang untuk membeli  air bersih rata rata Rp2juta perbulan. Perhitungan tersebut dihitung dengan asumsi perlima hari warga mengeluarkan uang sebesar Rp60ribu selama empat pekan.

Lihat juga...