SABTU, 26 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Fadhlan Armey / Sumber Foto: Miechell Koagouw
TMII JAKARTA — Provinsi Maluku Utara (Malut) atau disebut juga Bumi Fagogoru, merupakan daerah pemekaran dari Provinsi Maluku. Terdiri dari Kabupaten Halmahera Barat, Timur, Tengah, Utara, dan Selatan, Kabupaten Kepulauan Morotai, dan Kaliabu, serta Kota Ternate dan Kota Tidore. Ibukota Provinsi Maluku Utara adalah Sofifi yang berada di Kecamatan Oba Utara.
|
Tampak muka Anjungan Maluku Utara TMII, dengan replika Rumah Adat Sasadu sebagai Bangunan utama
|
Replika rumah adat Sasadu, yang berasal dari suku Sahu Halmahera barat adalah bangunan utama dari Anjungan Maluku utara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Suku Sahu dikenal sebagai suku yang gemar melaut, sehingga rumah adat sasadu memiliki ciri khas berbentuk haluan dan buritan perahu di atapnya. Rumah panggung ini, aslinya dibangun menggunakan Kayu pohon sagu dan atap rumbia serta beralaskan daun pohon sagu pula.
Replika rumah adat Sasadu di anjungan Maluku utara TMII didatangkan langsung dari Maluku utara sehingga keaslian kayu serta material pendukung lainnya sangat terjamin dan diharapkan menjadi keunggulan tersendiri di mata para pengunjung.
Bagian dalam Anjungan Maluku Utara dipenuhi dengan berbagai diorama pakaian adat tradisional, benda-benda budaya Maluku Utara mulai dari senjata tradisional, alat musik ukulele, tifa (sejenis gendang seperti dari Papua), sampai kain tenun, serta foto-foto abadi masa Kesultanan Ternate, dimana salah satunya adalah foto abadi mahkota sultan Ternate yang aslinya akan dikirabkan jika ada perayaan-perayaan besar tertentu.
Keunikan dan ciri khas yang menarik perhatian para pengunjung anjungan Maluku Utara adalah kebudayaan tradisi Cokaiba dan Fanten dari Halmahera Tengah. Dilaksanakan saat Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Masyarakat Gamrange (tiga negeri bersaudara), yakni Weda, Patani, dan Maba. Pada zaman dahulu kala ketiganya harus berpisah untuk melaksanakan sebuah tugas mulia yakni syiar agama Islam di tanah Halmahera. Dengan kesedihan dan rasa haru maka perpisahan mereka lakukan dengan saling berbalas pantun sambil melakukan tari-tarian kecil. Dalam tradisi Cokaiba dan Fanten digunakan tiga topeng yang berbeda, yakni :
1. Cokaiba Yaye, kepala dari semua cokaiba yang berasal dari Maba (Halmahera timur)
2. Cokaiba Gome dari Patani (Halmahera barat)
3. Cokaiba Loyeng dari Weda (Halmahera tengah)
| ?Keunikan busana adat pengantin tradisional Maluku utara di anjungan Maluku utara TMII |
Cokaiba diramu dengan Fanten atau tradisi berpasangan yang mengandung nilai filosofi Fagogoru, dimana tuan rumah dan tamu yang diundang saling menjamu, diiringi prosesi dzikir semalam suntuk, sambil menikmati suguhan aneka makanan dan minuman beragam warna.
Maluku Utara merupakan daerah tujuan para kolonialis Portugis, Belanda dan Jepang, karena kaya akan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, kopra, kakao, serta hasil-hasil tambang seperti emas, nikel, tembaga, dan berbagai macam batu mulia. Dengan demikian, maka tidak heran, jika anjungan Maluku Utara turut menampilkan berbagai foto mengenai benteng-benteng kolonial yang pernah dibangun disana, sampai dengan kapal-kapal perang yang karam dalam Perang Dunia II saat pertempuran di lautan pasifik.
Pengunjung dibuat terperangah oleh sebuah foto abadi mengenai keajaiban alam di Maluku Utara berupa pohon cengkeh AFO, yang berasal dari lereng gunung Gamalama, Ternate Maluku Utara. AFO merupakan pohon cengkeh raksasa berukuran tinggi 36.60 meter, garis tengah 1.98 meter, dan lingkaran 4.26 meter. Pohon cengkeh AFO menghasilkan sekitar 600 kilogram cengkeh dalam satu musim panen. Disamping itu, pohon cengkeh AFO juga berada di ketinggian 650 meter diatas permukaan laut. Umur pohon yang sudah mencapai 398 tahun berhasil menempatkan pohon cengkeh AFO sebagai pohon tertua didunia.
Anjungan Maluku Utara turut memamerkan busana-busana adat tradisional seperti pakaian pengantin Tidore, pakaian pengantin Ternate, pakaian pengantin Halmahera selatan (Bacan), pakaian pengantin Halmahera barat (Jailolo), pakaian adat wanita petani Maluku utara, serta Pakaian adat berikut topeng unik yang digunakan dalam tradisi Cokaiba dan Fanten.
Selain dokumentasi, mahkota sultan Ternate dan pohon cengkeh AFO, terdapat hasil-hasil dokumentasi lain yang diabadikan anjungan Maluku utara, seperti foto pakaian sultan Ternate, stupa goa Boki Maruru di Halmahera tengah yang dapat dikunjungi jika air laut surut saja, serta kekayaan biota laut, sekaligus terumbu karang, yang berada dikedalaman laut kepulauan Morotai yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.
|
??diorama busana serta topeng untuk budaya tradisi Cokaiba dan Fanten dari Halmahera Maluku utara
|
Sebuah catatan akhir dari anjungan Maluku utara adalah, bagaimana tradisi Cokaiba dan Fanten membentuk tali silaturahmi yang kuat diantara mereka. Persatuan dan kesatuan yang tidak ingin terpisahkan antara satu dengan yang lainnya, walaupun akhirnya terpisah, maka hendaklah nanti bertemu kembali dengan selalu saling mendoakan dari jauh antara satu sama lain. Sebuah filosofi yang menyatu dengan makna Taman Mini Indonesia Indah, sebagai perekat tali kesatuan seluruh budaya nusantara, yang saling berjauhan secara letak geografis sekaligus memperkenalkan keseluruh dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan khasanah budaya serta tradisi, namun dipersatukan dalam satu semboyan kuat : Bhinneka Tunggal Ika.