Tonjolkan Komodo dan Sombrero Rote, Anjungan NTT TMII Terus Bersolek

RABU, 16 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

TMII — Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, sebuah ungkapan wawasan nusantara yang menggugah hati setiap anak bangsa. Pulau Rote itu sendiri adalah bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Kota Kupang sebagai Ibukota provinsi. 
Eksotisme Komodo di Pintu Gerbang Anjungan Nusa Tenggara Timur TMII Jakarta
Provinsi NTT berbatasan langsung di bagian utara dengan Laut Flores, di selatan dengan Samudera Hindia, di barat dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dan di timur dengan Negara Timor Leste, Provinsi Maluku serta Laut Banda. 
Provinsi NTT memiliki potensi alam yang mengagumkan  untuk dijadikan obyek wisata andalan. NTT pun mempunyai kekayaan makanan khas seperti, jagong bose, tumis bunga papaya dan daging sei (daging asap). Salah satu obyek wisata yang sudah dikenal sampai ke mancanegara adalah Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo NTT.
Anjungan Provinsi Nusa Tenggara Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengabadikan eksotisme hewan prasejarah dengan dua buah patung komodo mengapit pintu gerbang masuk anjungan. 
Di dalam area anjungan terletak gagah empat rumah adat masyarakat NTT yang menjadi simbol sentimentil budaya Timor, Alor, Flores, dan Sumba. Bangunan utama anjungan provinsi NTT berada tepat di tengah anjungan berupa rumah adat ‘Temukung’ yang sudah dimodifikasi. 
Rumah adat ini milik masyarakat Flores mengambil bentuk (replika) Istana Kerajaan Kupang. Di atas rumah adat ‘Temukung’ diletakkan rapi beragam pakaian adat sampai busana tradisional pengantin seluruh daerah yang ada di wilayah Provinsi NTT.
Tepat di sisi kiri pintu masuk anjungan, pengunjung dapat menyaksikan replika bangunan tradisional masyarakat Timor, bernama ‘lopo’ yaitu lumbung padi. Bangunan adat ini terbilang unik, karena ber-multifungsi tinggi, di atas sebagai tempat menyimpan padi, dan dibawahnya merupakan ruangan terbuka yang dikelilingi empat buah tiang penyanggah tanpa dinding digunakan untuk menerima tamu, berkumpulnya kepala suku dalam membicarakan permasalahan adat istiadat, tempat masyarakat menenun, bahkan untuk bercengkerama anggota keluarga pemilik ‘lopo’. 
Replika Rumah ‘Lopo’ khas masyarakat timor dengan patung kepala suku didepannya.
Pengunjung anjungan NTT TMII dapat menggunakan bangunan ini untuk beristirahat melepas lelah sambil mengabadikan dokumentasi menarik lainnya berupa rumah-rumah adat masyarakat Timor yang unik.
Di depan bangunan ‘lopo’ maka pengunjung dapat mengakses kearifan masyarakat Alor lewat rumah adat Suku Raja daerah Alor yang didalamnya berisi beragam replika miniatur perahu, peralatan kegiatan sehari-hari yang sangat tradisional, kain tenun khas serta dua pasang busana adat. Busana adat Alor menggunakan motif bunga fatola sebagai lambang kesuburan dan bunga naga sebagai lambang kebesaran atau keagungan.
Di seberang rumah adat suku Raja Alor, melewati bagian depan rumah adat Flores, maka pengunjung langsung masuk ke rumah adat Sumba yang dikenal dengan rumah adat Ende bernama ‘Uma Mbatangu’ atau ‘Uma Kalada’. 
Lantai satu bangunan digunakan untuk ruang kantor pengelola anjungan, sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat pameran beragam kain tenun ikat khas NTT lengkap dengan topi tradisional masyarakat rote bernama ‘ Ti’i Langga ‘ atau disebut juga ‘sombrero rote’.
Di samping kanan bangunan rumah adat ende, berdiri gagah patung kuda sumba yang terkenal sangat liar dan sulit dijinakkan. Dibelakangnya turut pula anggun berdiri rumah adat Rote yang disebut ‘Umatua’ bergaya modifikasi modern dengan atapnya berbentuk ‘sombrero rote’ nan melengkung indah. 
Di dalam rumah adat ini ditempatkan beragam replika barang-barang tradisional masyarakat NTT lainnya seperti alat musik ‘Sasando’, Ukulele, dan ‘Tambur’. Tidak lupa sebuah patung cantik seorang wanita timor bermain Sasando menghiasi taman kecil di depan bangunan rumah adat Rote yang tepat berhadapan dengan museum transportasi TMII.
Replika rumah adat ‘Umatua’ daerah Rote NTT yang sudah dimodifikasi lengkap dengan atap berbentuk ‘sombrero rote’
Komodo merupakan hal yang tidak dapat dilupakan serta melekat di Provinsi NTT sebagai sebuah simbol keabadian zaman purba berwujud seekor hewan yang eksotismenya sudah sampai diujung dunia. Betapa bangga masyarakat NTT akan segala kekayaan daerahnya yang sudah mendunia sejak lama, dan betapa bangganya Indonesia memiliki sebuah provinsi yang begitu mempesona hati seperti Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan hal itu diapresiasikan oleh istri Perdana Menteri Jepang, Ny. Mie Fukuda (1977), dalam bentuk kunjungan perdananya melakukan penanaman pohon beringin sebagai lambang persahabatan kedua negara, yakni Jepang dan Indonesia dengan Nusa Tenggara Timur sebagai perekat antara keduanya.
Lihat juga...