SELASA, 22 MARET 2016
Jurnalis : Harun Alrosid/ Editor : Fadhlan Armey / Sumber Foto: Harun Alrosid
SOLO — Dalam rangka memperingati Hari Kehutanan dan Hari Air Internasional yang jatuh pada tanggal 21 dan 22 Maret, puluhan siswa di Kota Solo, bersama komunitas pencinta hutan serta Tentara Angkatan Darat melakukan penanaman pohon dan pembuatan biopori di Hutan Kota Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah.
![]() |
| Penanaman pohon di Hari Kehutanan dan Hari Air Internasional |
Penanaman pohon yang di lakukan oleh Puluhan siswa dari SMK 4 Solo, Mahasiswa UNS, dan dibantu personil Koramil Banjarsari, serta Komunitas Forum Solo Hijau, di kawasan Hutan Kota berupa sawo kecik, klengkeng, salam, dan lain sebagainya. Penanaman tersebut untuk melengkapi berbagai jenis pohon yang telah ada di Hutan Kota agar semakin rindang dan sejuk.
Pembuatan biopori sendiri dilakukan agar air hujan tidak terbuang sia-sia, dan dapat terserap masuk ke dalam tanah, sehingga sangat dibutuhkan oleh tanaman.
Salah satu perwakilan dari Forum Solo Hijau Miftakul Afrozak mengatakan, jika keberadaan hutan di Indonesia menyumbangkan 10 persen dari hutan dunia. “Ini sebagai wujud kepedulian kota terhadap hari kehutanan dan air sedunia yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mahluk hidup. dengan aksi tanam pohon dan pembuatan biopori sehingga bisa menjadi resapan yang baik di tengah kota,” paparnya, Selasa (22/03/16).
Sementara itu, Danramil Banjarsari Mayor Infantri Romli menambahkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang dilakukaan oleh siswa dan mahasiswa di wilayah Banjarsari tersebut. Menanam pohon adalah sebuah investasi yang sangat luar biasa bagi generasi berikutnya. Selain untuk mengganti tanaman yang telah mati, menanam pohon dapat menciptakan iklim yang sejuk.
“Penanaman pohon ini seperti yang ada di TNI, yakni Jumat hijau dan Sabtu bersih. Harapannya semua pohon yang ditanam dirawat dan dipupuk dengan baik, agar tidak mati dan bisa dinikmati generasi yang akan datang,” terangnya.

Keberadaan hutan kota di kawasan Stadion Manahan Solo itu terkendala setiap minggu, karena hutan kota itu dijadikan “sunday market”. Sehingga sering kali tanaman terinjak injak dan menjadi mati.