JUMAT, 4 MARET 2016
Jurnalis: Bobby Andalan / Editor: Gani Khair / Bobby Andalan
BALI—Rabu 9 Maret pekan depan akan terjadi gerhana matahari total. Sejumlah daerah dapat melihat secara jelas momen langka tersebut. Sejumlah pihak pun telah meluangkan waktu untuk melihatnya. Bahkan, Presiden Joko Widodo mengaku menyiapkan waktu khusus untuk dapat melihat fenomena alam tersebut.

Namun di Bali, melihat gerhana matahari total dilarang keras. Apa sebab? Ya, pada Rabu pekan depan umat Hindu Bali tengah merayakan Nyepi. Pada saat itu seluruh warga Bali dilarang melakukan aktivitas. Apalagi ke luar rumah untuk melihat gerhana matahari.
Ya, Nyepi merupakan perayaan tahun baru Saka. Pada saat itu tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pun tutup. Namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).
Saat merayakan Nyepi umat Hindu melaksanakan catur brata Penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api/lampu), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.