JUMAT, 4 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
BATU — Penurunan pendapatan terpaksa harus dirasakan petani daun Seledri setiap kali musim hujan datang, meskipun harga di pasaran mengalami kenaikan.
![]() |
| Petani Seledri |
Petani Seledri di Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu, Riadi (55) menyebutkan, pendapatannya merosot semenjak memasuki musim hujan karena seledri yang ia tanam tidak dapat tumbuh dengan baik seperti pada saat musim kemarau sehingga hasil panen juga menurun.
“Walaupun harga seledri di pasaran sekarang melonjak antara 15-17 ribu Rupiah per Kilogram, tapi kalau hasil panennya sedikit otomatis pendapatan juga berkurang. Ditambah lagi dengan biaya perawatan yang juga ikut membengkak,” ujarnya kepada Cendana News, Jumat (4/3/2016).
Ia mengatakan, penurunan hasil panen tersebut disebabkan banyak daun seledri yang rusak karena terkena air hujan hampir setiap hari. Pada daun seledri biasanya akan muncul tutul-tutul berwarna kuning jika sering terkena air hujan.
Meskipun seledri sudah di pupuk setiap seminggu sekali dan disemprot fungisida dua hari sekali, tapi jika hal tersebut dilakukan pada musim penghujan maka akan percuma.
“Pupuk dan fungisida yang diberikan akan langsung hilang terkena air hujan sebelum sempat diserap tanaman,”ungkapnya.
Namun begitu, Riadi tetap rutin memberikan pupuk pada tanamannya dengan harapan hujan tidak turun usai ia memberikan pupuk.

Selain pertumbuhan seledri yang tidak maksimal dan hasil panen yang menurun. Pada musim penghujan, umur panen tanaman seledri semakin lama.
“Jika pada musim kemarau seledri sudah dapat dipanen pada usia 40 hari setelah tanam, di musim penghujan seledri baru dapat dipanen menginjak umur dua bulan,”tutupnya.