JUMAT, 25 MARET 2016
Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Turmuzi
MATARAM — Kerusakan terumbu karang yang terjadi di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak saja disebabkan karena aktivitas dan lalu lintas pas boad yang melayani penyebrangan wisatawan dari Bali lansung ke Gili Trawangan maupun sebaliknya, tapi juga disebabkan karena adanya pencemaran dari limbah yang mengalir ke laut.
![]() |
| Kepala Disbudpar NTB, Mohammad Faozal |
“Limbah perhotelan, restauran dan rumah tangga juga turut menyebabkan terjadinya kerusakan terumbu karang Gili Trawangan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, Mohammad Faozal di Mataram, Jum’at (25/3/2016).
Banyak di antara hotel dan restoran tidak melakukan pengelolaan limbah yang dihasilkan secara maksimal, sehingga terbuang begitu saja ke laut dan menyebabkan kerusakan parah pada terumbu karang yang terdapat di Gili Trawangan.
Ia menjelaskan, sekarang ini terumbu karang andalan dan menjadi jualan Gili Trawangan sudah tidak bisa ditemukan lagi, padahal itu menjadi jualan dari Gili Trawangan kepada para wisatawan yang datang liburan, selain pantai dan pasir putih.
Dulu, kata Faozal, banyak wisatawan yang menjadikan alam bawah laut Gili Trawangan untuk melakukan snorkeling, karena terpesona akan keindahan terumbu karangnya, sekarang sudah jarang sekali
“Sosialisasi, himbauan dalam bentuk gerakan sadar lingkungan bukannya tidak pernah dilakukan Disbudpar NTB, tapi bagaimanapun peran Pemkab Lombok Utara dan kesadaran masyarakat juga tentu lebih diharapkan, karena merupakan tanggung jawab Pemkab setempat,”sebutnya.
Ditambahkan, sekarang ini untuk melestarikan terumbu karang Gili Trawangan yang telah mengalami kerusakan, Disbupar bersama aktivis peduli lingkungan dan Pemda KLU terus melakukan pembudidayaan, supaya terumbu karang bisa kembali seperti sediakala.