Kerukunan Beragama, Warga Muslim Bantu Jaga Keamanan Jumat Agung di Sleman

JUMAT, 25 MARET 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko 

YOGYAKARTA — Tak semua perbedaan agama dan paham radikal melibas kearifan lokal dan harmonisasi kerukunan antar umat beragama. Di pedukuhan Daleman, Girikerto, Turi, Sleman, umat Katolik dan muslim saling bantu dan mendukung pelaksanaan peribadatan masing-masing.
Suasana Jumat Agung di Pedukuhan Daleman Sleman
Seperi tampak dalam gelaran peribadatan Jumat Agung di Gereja Santo Yohanes Rasul Somohitan, Girikerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, Jumat (25/3/2016). Sementara umat Katolik beribadat memperingati wafat Isa Almasih, warga non Katolik di pedukuhan setempat membantu menjaga keamanan dan mengatur kawasan parkir bagi jemaat Katolik. Bahkan, warga muslim juga turut membantu dalam hal kesehatan, untuk mengantisipasi adanya jemaat Katolik yang mengalami sakit saat beribadat.
Ketua RT 3 RW 22, Daleman, Girikerto, Arif Kurniawan menjelaskan, kerukunan antar umat beragama di wilayahnya sudah tercipta sejak lama. Setiap ada kegiatan apa pun di dusunnya, semua warga dilibatkan. Entah itu kegiatan warga yang beragama Katolik atau bukan, katanya, semua dilibatkan dalam kerjasama dengan semangat guyub rukun.
 “Ini bukan atas nama agama, tapi atas nama masyarakat yang berada di lingkungan yang sama tanpa melihat apa agama dan statusnya, sudah selayaknya saling bantu dan bergotong royong”, ungkapnya.
Hal senada disampaikan pula oleh Romo Antonius Juned Triatmojo, Pr. Bahwa, sudah sejak nenek moyang kerukunan antar umat beragama di lingkungan Gereja yang dipimpinnya itu sudah terjaga. Jika ada perayaan atau peringatan hari besar umat Katolik seperti Paskah sekarang ini, warga non Katolik mendukung dengan turut menjaga keamanan dan tempat parkir. 
Tak hanya warga muslim, sejumlah ormas dari  Karang Taruna, Pemuda Pancasila, Komunitas Radio juga acapkali terlibat dalam pelaksanaan kegiatan hari besar di Gereja. Hal ini, katanya, juga merupakan bukti bahwa ada solidaritas dan hubungan baik antar umat berbeda agama. 
“Pada saat ada perayaan di Gereja, warga yang beragama lain turut membantu kami. Sebaliknya, di hari lebaran atau Idul Fitri, kami para romo juga dilibatkan untuk bersilaturahmi”, ujar Romo Juned.
Sementara itu, prosesi peribadatan Jumat Agung di Gereja Santo Yohanes Rasul Somohitan, diselenggarakan mulai sore hari pukul 15.00 wib. Romo Juned menjelaskan, prosesi peribadatan Jumat Agung dilakukan dengan bahasa Jawa, mengingat jemaatnya yang masih lebih terbiasa menggunakan bahasa daerah setempat. Ibadat Jumat Agung dilakukan dengan pembacaan kitab suci, yaitu Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Injil, dengan cara dikidungkan dan diperankan. 
Dalam perayaan Paskah, tidak ada ekaristi. Melainkan ibadat Jumat Agung atau yang sering disebut pula sebagai Liturgi Sabda. Fokus dari peribadatan tersebut adalah untuk mengenang dan menghadirkan sengsara Tuhan Yesus, yang telah berkorban demi keselamatan umat manusia. Jumat Agung, kata Romo, merupakan peringatan wafat Yesus Kristus, yang diyakini terjadi pada pukul 15.00 WIB.
Perayaan Paskah telah dimulai sejak sepekan sebelumnya, dengan prosesi Minggu Palma untuk mengenang kisah Yesus ketika masuk ke Yerusalem. Lalu, Kamis Putih untuk mengenang ketika Yesus mewariskan perjamuan ekaristi dan ditangkap. Jumat Agung mengenang saat Yesus diadili dan jalan salib hingga wafat, dan Sabtu esok malam hari, diadakan pribadatan lagi mengenang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Ibadat pada Sabtu setelah Ibadat Jumat Agung, adalah puncak perayaan Paskah.
Ketua RT 3 RW 22, Daleman, Girikerto, Arif Kurniawan (berkopiah)
Sementara itu, dalam peringatan Paskah tahun ini, Gereja Santo Yohanes Rasul Somohitan, mengangkat tema ‘Menjadi Garam dan Terang. Romo menjelaskan, sebagaimana garam yang kalau kurang membuat makanan menjadi hambar, namun jika kelebihan juga membuat makanan tidak enak. Karena itu, umat Katolik diharapkan mampu menjadi garam yang pas dalam arti mengambil peran yang pas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan  menjadi terang, artinya umat Katolik diharapkan mampu memberi penerangan, menghilangkan kegelapan dalam arti yang luas. 
Lihat juga...